Suami Benalu Banyak Gaya

Suami Benalu Banyak Gaya
Episode 34. Royal Jelly


__ADS_3

"Ayo ibu, aku antar," pagi sekali Butet sudah menawarkan jasanya untuk mengantarkan Isun pulang.


"Paling tidak ibu bisa ambil ponsel dan seragam untuk mengajar."


Isun ragu-ragu tapi memang dia butuh mengambil barang-barang itu.


"Jangan ragu ibu. Saya akan ikut masuk sampai ke dalam."


Kikis keraguanmu Sun...


"Baiklah, tapi kamu janji buat ikut masuk ya."


"Pasti ibu."


Ketakutan sisa semalam pasti ada, itu tidak bisa dipungkiri. Tapi memang dia harus memberanikan diri.


Selama perjalanan dalam boncengan Butet, Isun terus berdoa untuk menguatkan hati.


Sampai di depan rumah tampak sunyi. Pagar sudah terbuka tapi pintu rumah dalam keadaan tertutup rapat.


Berusaha untuk tetap tenang agar tidak menimbulkan keributan, Isun masuk ke ruang tengah.


"Kamu tunggu disini dulu ya."


"Saya mau lihat suami ada di dalam kamar atau tidak. Kalau tidak ada kamu jaga di depan pintu. Kalau di dalam aku berteriak kamu langsung masuk saja untuk membantu."


."Siap ibu."


Isun mengendap-endap. Sepertinya Ori sedang berada di dalam kamar mandi. Terdengar suara guyuran air yang sangat jelas.


Butet yang mendapat kode segera berdiri di depan pintu kamar.


Dengan gerakan cepat Isun meringkas barang yang penting lebih dulu. Seragam untuk mengajar yang utama. Semua uang miliknya yang tersimpan dibawah alas baju, ponsel dan beberapa helai pakaian ganti.


Tangannya baru akan menyentuh surat-surat penting ketika terdengar keributan di depan kamar.


"Siapa anda!" itu suara suaminya.


"Saya...saya, temannya Bu Kamingsun." Butet terdengar berteriak tak kalah keras, meskipun sebelumnya terdengar sedikit tergagap.


"Apa yang anda lakukan disini?" bentak Ori.


"Isun!" suara itu memanggil Isun yang sedang berada di dalam kamar.


"Isun!"


Ah, kalau begini caranya tidak akan sempat untuk mengambil surat-surat penting. Isun meringkas dengan satu tangkupan tangan. Dan sekaligus memasukkan semua barang yang sempat diambilnya masuk ke dalam tas tanggung.

__ADS_1


Isun keluar sambil menenteng tas.


"Mau kemana kamu?!" tangan Ori cepat menyambar tangan wanitanya.


"Ee...jangan kasar begitu pak," teriak Butet.


Ori memandang Butet nyalang.


"Wanita ini adalah istri saya. Ini rumah tangga saya. Saya berhak melakukan apapun padanya di dalam rumah saya sendiri."


Tangan itu belum mau lepas.


"Aku harus pergi, menenangkan diri. Sebentar lagi aku musti kerja, lepaskan tanganku mas."


"Kemana kamu semalam, sekarang mau kemana lagi kamu."


Dengan sinis Isun menjawab, "aku melacurkan diri."


Tangan Ori yang bebas melayang di udara, hampir menyentuh lagi pipi Isun. Tapi kali ini tangan itu ditahan oleh Butet.


"Eh bapak, jangan asal pukul wanita. Sebaiknya ibu Kamingsun pergi sama saya sampai bapak tenang."


"Jangan ikut campur. Kamu dengar sendiri kata-kata wanita ini tadi."


Isun melirik dua kertas yang semalam berserak di lantai. Kertas itu masih ada di tempat yang sama.


"Untuk semalam dan hari ini, kita sudahi sampai disini mas."


Tanpa pamit atau mengatakan apapun Isun keluar rumah diikuti Butet yang berjalan tepat di belakangnya. Isun bersyukur Ori tidak mengejarnya, mungkin laki-laki itu malu jika harus ribut di depan orang asing.


Isun bekerja seperti biasa. Berusaha mengabaikan semua masalah yang mengganggu. Untuk sementara dia akan tinggal bersama Butet, entah sampai kapan.


Tapi rencana itu sepertinya bukan rencana yang bisa dijalankan dengan mudah ketika siang sebelum pulang, Jelly berdiri di halaman sekolah.


Adik iparnya itu melambaikan tangan, berusaha tersenyum hangat.


"Hai," Jelly menggandeng kakak iparnya manja, "Ngobrol yuk," ajakan itu seperti usaha untuk sebuah perdamaian, meskipun begitu Isun mengangguk mengiyakan.


"Kita ke kantin," ajak Isun.


"Heeh."


"Mbak, belikan aku makan, aku lapar."


"Mau makan apa ibu hamil?" ada perih ketika Isun menyebutkan kata itu. Tapi tangannya menyentuh perut Jelly dengan belaian lembut.


"Apa saja."

__ADS_1


Isun memesan soto ayam plus es jeruk. Cuaca siang nan panas begini pasti segar kalau makan soto ditutup dengan es jeruk untuk Jelly. Sedangkan dia sendiri tidak memesan apapun, perutnya masih terasa kenyang.


"Makan yang banyak."


Sambil menikmati sotonya, Jelly memandang kakak iparnya dengan sayang yang tulus.


"Apa yang terjadi mbak?"


Bagaimana harus menjawab pertanyaan adik iparnya ini? Kami bertengkar karena kamu hamil? atau mengapa kamu lancang sekali bisa hamil lebih dulu dan membuat mas mu marah? atau Mas mu menuduh mbak melacurkan diri?


"Mas mu ingin punya anak."


Semoga pilihan jawaban ini tidak menyakiti siapapun.


"Dia itu laki-laki bodoh, bukan begitu mbak?"


"Dia pasti marah-marah karena dapat kabar dari ibu kalau aku sudah hamil."


"Sifat mau menang sendiri dan nggak mau kalahnya itu nggak akan pernah hilang meskipun dia sudah menikah."


Isun diam, hanya mendengarkan.


"Pulanglah mbak, ini kedua kalinya mbak pergi dari rumah. Jangan buat suami mbak itu enak-enakan, nggak mau kerja karena mbak nggak ada di rumah."


Nggak mau kerja?


"Mas Ori nggak kerja?"


Jelly menggeleng, "usahanya yang bareng teman-temannya itu habis kontrak. Selama ini dia membantu yayasan tempat suamiku mengajar untuk melakukan hal-hal kecil. Seperti dokumentasi kegiatan dan tenaga pemeliharaan alat elektronik."


"Mas Ori butuh mbak dalam hidupnya. Hanya mbak yang bisa memaksanya melakukan sesuatu yang berguna dalam hidupnya. Ayah sama ibu hanya bisa memanjakannya karena dia anak laki-laki satu-satnya dalam keluarga. Sejak pagi dia datang ke rumahku sambil marah-marah mbak."


Jelly masih menikmati nasi soto yang tinggal setengah mangkok. Mual yang sejak pagi dirasa mengganggu sedikit demi sedikit hilang. Mengunjungi Isun bukanlah pilihannya, tetapi sesuatu yang harus dilakukan. Kalau sampai rumah tangga mas nya hancur, itu kebodohan Ori yang terburuk.


"Oh iya, ayah dan ibu belum tahu masalah ini


Aku berharap mereka nggak akan pernah tahu. Kalau sampai mereka tahu, mereka hanya akan makin memperburuk keadaan."


Setelah sotonya tandas, Jelly memeluk kakak iparnya erat. Dia melihat lebam di area dagu dan di pergelangan tangan kakak iparnya.


Dengan lembut Jelly berbisik sebelum pulang, "aku tahu mas sudah menyakiti mbak secara fisik dan mental, maafkan kesalahannya kali ini hemmm."


Setelah pelukan keduanya lepas, Isun memandang Jelly tak berekspresi. Sekarang dia baru merasakan apa yang namanya bingung. Sebuah kebingungan yang nyata dan sebenarnya.


Lelaki itu menyakitinya sejak semalam. Pukulan, tamparan, dan hinaan dia rasakan. Bayangan bapak dan ibu berkelebat di depan matanya. Betapa hancur hati dua orang tua itu kalau rumah tangga yang dia bina selama ini hancur.


Isun kembali mengambil dua lembar kertas yang berisi resep dan surat pengantar periksa laboratorium. Dipandanginya surat itu. Masih sanggupkah dia bertahan dalam rumah tangga yang seperti neraka. Tempat yang mencabik habis harga dirinya sebagai istri dan wanita?

__ADS_1


Dia begitu mencintai lelaki itu. Mungkin karena masalah dengan pekerjaannya yang membuatnya seperti semalam. Iya, pasti karena itu.


***


__ADS_2