
Tubuh Isun luluh lantak. Kakinya gemetar, pelacur...pelacur! Tanpa sadar Isun balik badan. Meraih motornya untuk dituntun keluar. Tapi sebuah tangan menahannya. Tangan itu menarik baju panjangnya hingga membuat dia berputar dan terbanting keras ke lantai.
"Mau kemana lagi kamu?"
"Mau melacurkan diri lagi, sampai bisa punya anak dari laki-laki lain!"
Ya Tuhan suara itu menggema di seluruh rumah. Kalaupun rumah ini bisa bicara dia akan berteriak dan berusaha menutup telinganya. Dasar laki-laki biadab.
"Aku ke dokter!" teriak Isun mengeluarkan semua tenaganya yang tersisa.
"Aku capek ngantri, nunggu hampir semalaman sendirian. Siapa yang suruh aku ke dokter tapi nggak mau mengantar!!" teriak Isun dalam tangis.
"Mana ada dokter praktik sampai jam dua belas malam. Mana ada?!" teriak Ori tak kalah kencang. Udara pengisi ruangan seakan berguncang mendengar teriakan-teriakan dua orang yang harusnya saling mencintai.
"Kamu harusnya ikut," Isun bersimpuh di lantai, rasanya tak sanggup untuk melanjutkan bahkan sekedar menunggu sampai matahari terbit esok.
Isun mengambil dua lembar kertas yang tersimpan rapi di dalam tas nya. Dilemparkannya kertas itu sampai terbang ke udara dan mendarat ke permukaan lantai yang dingin.
"Baca itu!!"
"Kamu menyakiti aku mas. Tak perlu pisau untuk membunuhku, cukup mulutmu itu saja sudah ingin membuat aku mati!"
Suara tangis Isun makin kencang memecah malam.
Ori mendekat, menarik hijab panjang istrinya hingga membuat istrinya terpaksa berdiri. Lelaki itu berusaha memaksa untuk melepas hijab milik istrinya.
"Jangan berani-berani kau lepas hijabku!!" teriak Isun mempertahankan penutup kepalanya.
"Biarkan pelacur ini mempertahankan kehormatannya!!"
Tidak akan ada yang bisa menghinanya, tidak sekalipun itu suaminya.
"Aku berhak atas dirimu!"
Ori menarik tubuh kecil istrinya, membuat wanita itu terseret di lantai yang dingin.
"Lepaskan aku, tolong...!!" teriak Isun sekeras dia bisa.
Tapi siapa yang akan menolongnya malam begini.
"Jangan pernah mempermalukan aku, kalau sampai ada tetangga datang, habis kamu!!"
__ADS_1
Ancaman itu diiringi dengan tatapan mata membunuh.
"Tolong...!!"
"Aku tidak peduli, biar semua orang tahu laki-laki macam apa kamu!"
'Plak' suara tamparan terdengar lagi dari sisi pipi Isun yang lain. Makin hancur hati Isun. Dia sangat ingin rumah tangganya berhasil, tapi kenapa semua jadi begini.
Ori mengeluarkan semua tenaganya. Sekali lagi Ori menarik hijab sang istri. Kali ini terdengar suara 'krak' yang sangat keras. Dan hijab itu terbelah jadi dua lepas dari kepala Isun.
Begitu juga dengan baju panjang dan celana panjang yang menutup tubuh cantiknya. Dengan paksa Ori melepas semuanya. Isun menyerah, isak tertahan membuatnya sesak napas.
"Kau ingin meniduri pelacur ini mas?!"
Isun berdiri membuka semua pakaiannya meninggalkan pemandangan indah jika semua dilakukan dalam cinta kasih.
Tanpa pikir panjang Ori menerjang tubuh istrinya. Dia puaskan hasrat menggebu yang berasal entah dari setan apa.
Ori melakukannya dengan kasar dan cepat. Setelah selesai ditinggalkannya begitu saja sang istri diatas lantai kamar yang dingin.
Di kamar mandi senyum Ori mengembang. Rasanya aneh, dia selalu puas setiap kali berhubungan badan dengan Isun. Tapi kali ada yang berbeda, rasanya luar biasa. Dia bahkan bisa tertawa penuh kemenangan. Seakan dia menjadi penguasa bumi setelah melakukannya dengan cara seperti tadi.
Sementara Ori sibuk memuji diri sendiri di kamar mandi. Isun bergegas memakai pakaiannya. Dia tidak pernah merasa sehina ini. Bagaiman bisa lelaki yang sangat dia hormati merendahkannya hingga seperti ini. Berada di posisi serendah-rendahnya. Isun tidak mau terus-terusan begini.
Kemana sekarang dia harus pergi. Otaknya macet, tidak bisa diajak berpikir jernih. Isun mempercepat langkahnya. Dia harus sudah jauh dari rumah saat ini. Keluar gang yang jarak tempuhnya cukup jauh, Isun berhasil sampai di tepi jalan raya.
Berkali-kali kepalanya menengok ke belakang. Dia takut Ori berhasil menyusulnya. Suasana malam memang membuatnya takut. Tapi lebih takut lagi jika suaminya memaksa dia untuk pulang.
Jalanan begitu sunyi. Isun mencari tempat yang terlindung dari cahaya. Ketika beberapa saat kemudian dia melihat Ori muncul dari gang, Isun merapatkan tubuhnya ke salah di dinding sebuah gedung. Jangan sampai dia terlihat.
Untungnya suaminya itu berlari mengambil arah berlawanan, menjauhi lokasinya sembunyi. Di saat itu pula Tuhan membantunya, sebuah taksi terlihat melintas dari jauh. Tanpa harus berteriak taksi itu berhenti hanya dengan lambaian tangan Isun.
"Kemana mbak?"
Dalam bingung Isun menyebutkan salah satu alamat tempat kos sesama rekan guru. Kebetulan temannya itu belum menikah. Bahkan ponsel pun lupa tak terbawa.
Ketika taksi berlalu melewati suaminya yang berdiri mencari. Isun melirik dari ekor matanya sampai bayangan suaminya menghilang.
Saat itulah tangisnya kembali pecah.
"Hua...Hua...Hua," kali ini dia tidak menahan satu isakan pun.
__ADS_1
"Eh...mbak, kenapa nangis?"
"Hua...Hua...Hua," tidak ada jawaban. Hanya tangisnya saja yang makin kencang.
Akhirnya sopir taksi memilih diam. Sebelum turun lelaki baik itu menyerahkan beberapa lembar tisu untuk membersihkan air mata.
"Hapus dulu air matanya mbak."
"Saya akan tunggu disini sampai yang punya rumah membukakan pintu. Kalau tidak, nanti akan saya antarkan mbak ke tempat tujuan yang lain."
Terimakasih Ya Allah, engkau pertemukan dengan orang baik disaat hancur seperti ini.
Isun mengangguk, lagi pula dia takut kalau sendirian berdiri di depan rumah orang lain malam-malam.
Beberapa kali memencet bel. Penghuni kos yang masih terjaga keluar.
"Malam-malam begini bertamu. Emang nggak bisa besok pagi apa?! mengganggu orang tidur saja!"
" Maafkan saya mbak. Saya temannya Butet, saya butuh tempat untuk menginap malam ini."
Wanita penghuni kos itu tidak membiarkan pintu pagar terbuka. Dia mengamati Isun dengan teliti dari atas ke bawah lalu ke atas lagi, "tunggu di sini!"
Air mata masih terus luruh. Tisu dari sopir taksi sudah basah oleh air mata. Dari jauh sopir itu masih berdiri menunggu.
"Bu Isun," setelah beberapa menit menunggu, barulah Butet, wanita luar Jawa yang dekat dengannya itu keluar.
"Ayo masuk," sambutan hangat diterimanya. Sebelum masuk ke dalam rumah,Isun menganggukkan kepala memberi tanda kepada sopir taksi tadi kalau dia bisa pergi. Semua akan baik-baik saja.
Butet mengajaknya masuk dalam kamar. Tak ada banyak barang di dalamnya, khas kamar penghuni kos yang masih lajang.
"Ada apa?" Butet menuntunnya duduk di kasur busa yang hanya diletakkan begitu saja diatas lantai tanpa ranjang.
Masih dengan Isak tangisnya Isun menceritakan semuanya. Tak terkecuali.
Dua wanita itu menangis sambil berpelukan. Butet membelai punggung Isun. Dia juga perantauan, tahu bagaimana rasanya sendiri, jauh dari orang tua saat menghadapi masalah.
"Ibu jangan terlalu banyak mikir."
"Besok saya antar ambil baju ke rumah. Suami ibu pasti tak berani macam-macam."
Isun mengangguk. Bukan hanya itu yang harus dia lakukan, setelah ini banyak hal yang harus disiapkan untuk menghadapi perangai suaminya yang kali ini sukses membuatnya terkejut.
__ADS_1
Banyak hal yang harus dilakukan. Dia tidak ingin direndahkan seperti ini lagi.
***