Suami Benalu Banyak Gaya

Suami Benalu Banyak Gaya
Episode 26. Batas Wilayah Yang Tak Boleh Dilanggar


__ADS_3

Bagaimana cara meminta istrinya pulang kalau sedari tadi masih terus diam. Sepertinya ibu salah memanggil dia untuk datang.


"Kamu belum mau pulang, sayang?" tanya Ori dengan suara yang hampir tak terdengar.


Sayang?!...sayang?! hah....


"Kupingku gatal dengar kamu bilang sayang!" sinis Isun.


"Masih marah?"


"Pikir sendiri!"


Sementara keduanya bicara di ruang tamu. Bapak melotot dari ruang tengah. Dari tempat bapak sekarang duduk bapak bisa melihat jelas apa yang dilakukan anak dan menantunya.


"Jadi kamu belum mau pulang?"


Memasang wajah sendu mungkin ada gunanya disaat-saat seperti ini.


"Aku musti gimana biar kamu mau pulang Sun," sorot matanya dibuat seimut anak kucing.


"Nggak usah sok-sok imut, bilang aja mas, kamu butuh apa dari aku."


"Aku cuman butuh kamu sayang."


Ada yang berbunga-bunga di dalam sini. Dasar hati penghianat, maunya cuek dan nggak peduli, tapi hatinya berkata lain.


"Iya makanya butuh apanya aku?"


Sinis sekali kalimatnya. Meski hati senang, harus disembunyikan biar tidak besar kepala suaminya ini.


"Semuanya, sayang," lalu Ori menundukkan kepala. Entah karena malu atau hanya sekedar sama bermain drama.


"Baik, aku mau pulang tapi tidak sekarang. Aku ingin sehat dulu disini, kalau benar-benar sudah sehat baru kita pulang, bagaimana?"


Baiklah, kali ini dia akan menurut apapun yang diinginkan Isun, istrinya. Dia tidak punya posisi tawar yang bagus. Yang penting istrinya mau pulang dulu.


Ori melirik sedikit kucing garong yang sekarang sedang memandang lurus padanya. Persiapan awal adalah mental untuk menghadapi bapak.


Karena masih terus saja dilihat, akhirnya Ori memberanikan diri untuk mengangguk. Eh, bukannya membalas, bapak malah memalingkan muka kemudian pergi meninggalkan singgasananya.


Yah...akhirnya bisa bernapas sedikit lega. Ori mengembangkan senyum sambil melihat istrinya.


"Selama disini kamu tidur sama bapak mas."


Senyumnya hilang dalam sekejap, "apa Sun?"


Nah, panggilan sayang hilang lagi. Ekspresi Ori kelihatan lucu di mata Isun. Antara ngeri dan ogah, tapi yang jelas wajah suaminya itu mendadak pucat. Isun jadi ingat kalau wajah suaminya sewarna dengan orang yang menderita kanker menahun–waktu di rumah sakit dia sempat melihatnya.


"Kenapa musti tidur sama bapak Sun. Kamu sudah ninggalin aku seminggu lebih lo. Nggak takut dosa kamu Sun? masa sekarang suami sudah di depan mata malah disuruh tidur sama mertua?"


Karena aku ingin kamu tahu susahnya mendapatkan seorang perempuan untuk dijadikan istri.

__ADS_1


Dulu kesalahanku karena aku bermain mudah didapat, dan aku sudah menerima akibatnya. Sekarang kamu harus merasa betapa beruntungnya kamu memiliki aku sebagai istrimu.


"Take it or leave it mas."


Tidak ada tawar menawar kali ini. Kalau kamu mau ambil kesempatan ini, kalau nggak mau ya sudah, tidak ada yang memaksa.


Ekspresi wajah Ori makin nggak jelas, tapi sebenarnya mudah dibaca. Mau menolak sudah terlanjur datang, betapa memalukan kalau dia pergi dari sini dengan tangan kosong. Mau menerima, membayangkan saja sudah mengerikan, bagaimana kalau waktu tidur nanti kucing garong itu mencakar badanku, kakiku, dan paling parah mukaku?


Sambil meringis tanpa sadar Ori menyentuh wajah yang selalu dia percaya kalau terlalu tampan.


"Kenapa sama mukanya mas?" jadi khawatir tiba-tiba nyengir terus mengelus pipinya sendiri, Isun nggak mau disalahkan mertuanya kalau sampai suaminya jadi gila.


"Ah, nggak kok. Tiba-tiba saja gitu, sebuah bayangan terlintas di otakku."


Isun berdehem lalu membenahi duduknya, yang semula santai sekarang menjadi tegak dan formal, "tapi mas..."


Apalagi ini...


Meskipun khawatir tapi Ori menunggu apa kelanjutan dari kata tapi yang baru saja diucapkan.


"Itu kalau bapak setuju."


"Maksudnya, sun?"


"Ya...kalau bapak setuju tidur sama mas. Kalau bapak nggak setuju sepertinya mas harus pulang lebih dulu."


Mulailah gelisah, duduknya tidak lagi tenang, "jangan bercanda Sun. Jadi kamu tadi mengajukan syarat tanpa persetujuan bapak?"


"He'em" Isun mengangguk. Ah, istrinya ini benar-benar lucu, bagaimana bisa mengajukan syarat yang belum terverifikasi.


Aduh...doa apa yang musti dipanjatkan ini...berdoa supaya bapak mau atau bapak menolak?


Kalau berdoa semoga bapak setuju, tubuhnya bisa menjadi korban keganasan kucing garong, tapi selama ada ibu sepertinya aman sih. Kalau berdoa supaya nggak setuju, nasibnya bakalan nggak jelas.


Karena bingung mau doa yang mana, dan Ori dalam kondisi waras meskipun galau, hanya satu doa yang dipanjatkan Ori...


Ya Allah...berikanlah aku semua nya yang terbaik dan pastikan istriku menjadi istri penurut yang selalu patuh padaku.


...***...


Alis bapak bertaut, "bapak nggak mau ah."


"Pak, bapak sayang kan sama Isun..."


Bapak memutar tubuh membelakangi anaknya.


"Pak, ayolah..."


"Kalau bapak disuruh tidur bareng anak itu, tiap malam akan bapak patahin tulangnya satu-satu."


"Ih...pak, Isun masih cinta sama Mas Ori tahu," bisik Isun tepat di telinga Bapak.

__ADS_1


Isun pindah duduk ke depan bapak, "pak..." tangan bapak digoyang-goyang. Mata Isun berusaha untuk menangkap mata bapak. Mencoba merayu seperti seorang anak kecil yang minta dibelikan permen.


Ibu hanya tersenyum melihat adegan itu. Memang sengaja membiarkan, dia belum ingin turut campur. Tapi strategi anak perempuannya untuk mendekatkan suami dan mertua patut diacungi jempol.


"Pak..." usaha terakhir, memberi senyum tapi mengirim tatap mata menghiba, "hemmm...hemmm."


"Ya sudah...ya sudah, bapak bersedia tidur sama Ori, tapi kamu nggak boleh ikut campur apalagi membela suamimu."


Isun mengangguk cepat. Senyumnya merekah. Secepat kilat wanita muda itu berdiri menuju ruang tamu. Tapi seperti sadar akan sesuatu Isun berhenti, menarik napas beberapa kali, baru melanjutkan langkahnya lagi.


Dengan harap-harap cemas Ori menunggu. Ketika melihat Isun datang, dia lega. Tapi ketika mengamati ekspresi istrinya, dia berubah lebih gelisah dari sebelumnya.


"Mas," Isun duduk di kursi tempatnya tadi duduk, berhadapan dengan lelaki muda yang masih dicintainya ini.


"Iya..." Ori menghela napas, "bapak menolak ya."


Isun pura-pura menunduk dan mempertahankan ekspresi sedihnya. Melihat suaminya lemas, jadi puas rasanya.


"Bukan mas, bapak setuju tidur bareng kamu."


Terdengar suara, "yes," meskipun pelan dan tangan dikepalkan di udara. Tapi sebentar kemudian Ori terdiam.


Isun terkejut sih melihat itu tapi senang juga. Dia tahu kalau itu tadi adalah reaksi terjujur karena dilakukan secara spontan


Ini musti senang apa sedih sih reaksinya...–Ori


Lalu muncul bapak di pintu penghubung ruang tamu dan ruang tengah.


"Bawa tasmu."


Perang dimulai, begitu kira-kira kata yang tak terucap kan tapi terpampang jelas di muka bapak.


Dengan langkah gemetaran Ori mengambil tasnya lalu berjalan mengekori bapak.


"Kamu harus patuh pada semua aturan yang dibuat bapak selama tidur sama bapak," Ori mengangguk meskipun bapak tidak terlihat oleh bapak.


"Termasuk melanggar batas wilayah!"


Batas wilayah, apa maksudnya itu?


Setelah sampai kamar bapak membuat garis tak terlihat menggunakan tangannya.


"Wilayah ini adalah wilayah bapak."


Sebelum tempat tidur sampai tempat tidur adalah wilayah bapak.


"Yang sebelah sana itu wilayah kamu. Karena ini kamar bapak, maka bapak boleh ke wilayah manapun sesuka bapak, tapi kamu tidak boleh masuk bahkan mendekati wilayah bapak."


Jadi bingung, kalau tempat tidur termasuk wilayah bapak dan dia tidak boleh mendekat terus dia tidur dimana?


Bapak menunjuk salah satu sudut kamar, "ambil tikar yang disana itu, gelar tikarnya di lantai disitulah kamu tidur."

__ADS_1


Mata Ori membulat, Isun....suamimu teraniaya teriaknya dalam hati.


...***...


__ADS_2