Suami Benalu Banyak Gaya

Suami Benalu Banyak Gaya
Episode 30.


__ADS_3

Hari ini Isun mulai bekerja lagi. Tempat mengajar menjadi sarana melarikan diri dari rumah baginya.


Meskipun begitu Isun tetap berusaha menyelesaikan kewajibannya terlebih dahulu sebelum berangkat.


Rumah sudah bersih, makanan kesukaan suami tersedia diatas meja, baju ganti juga sudah disediakan di pinggir kasur.


Semalam dia dan suaminya kembali berdebat. Hasilnya bisa dipastikan kalau Isun selalu kalah dengan dalih seorang istri harus patuh sama suaminya.


Kalau bagi Isun patuh itu ada batasannya tapi tidak bagi Ori. Kepatuhan seorang istri pada suami itu tidak terbatas kecuali kalau diminta untuk melakukan hal yang melanggar aturan agama, barulah istri boleh membantah.


Akhirnya perdebatan itu ditutup dengan kata pamungkas 'pokoknya'. Satu kata yang tidak bisa lagi dibantah. Tapi anehnya meskipun usai berdebat, Ori tetap minta jatah. Padahal Isun malas meladeni sang suami.


Itulah bedanya laki-laki dan wanita. Sehebat apapun sebuah pertengkaran, laki-laki bisa dengan santainya minta jatah bercinta. Sedangkan wanita akan kehilangan gairah ketika merasa disakiti.


Hari ini semua dilewati dengan mudah. Sambutan manis dari murid-muridnya membuat Isun makin bersemangat. Tidak lupa dia juga mengucapkan banyak terimakasih pada rekan sejawatnya yang sudah bersedia menggantikannya mengajar.


"Bagaimana kondisinya Bu?"


Ibu pimpinannya ini memang begitu memperhatikan guru-guru nya. Kebetulan karena semua anak murid sudah pulang, Isun ingin menggunakan kesempatan ini untuk bercerita tentang kondisinya saat ini.


Bagaimana hubungannya dengan suami, bagaimana keluarga suaminya memperlakukan dia. Dan yang utama adalah permintaan keluarga Ori tentang pengajuan pinjaman.


"Bagaimana Bu?"


"Saya jauh dari orang tua jadi hanya ibu yang bisa saya ajak berbincang."


"Lagi pula saya khawatir kalau cerita sama orang tua nanti bapak sama ibu saya malah khawatir."


Sebenarnya ada beberapa rekan guru yang mengetahui kondisi keluarganya. Tapi hanya terbatas cerita bagian permukaan saja. Isun tidak ingin ceritanya makin melebar atau dilebih-lebihkan.


Ibu kepala sekolah menghela napas, "maaf Bu, saya tidak bisa memberikan banyak saran. Lebih baik bicarakan lagi dengan pihak keluarga suami. Kalau masalah pinjaman, sebisa mungkin saya akan membantu. Ibu tinggal mengisi blanko ajuan dan saya akan menanda tangani."


"Kalau memang Bu Isun khawatir keluarga suami mengelak untuk membayar angsuran, buat saja perjanjian hitam diatas putih."


"Seandainya merasa tidak pantas meminta hal tersebut dari mertua. Ibu bisa minta persetujuan dari adiknya suami. Toh yang akan menikah dia bukan, Pasti adiknya suami juga cukup umur untuk bertanggung jawab."


Benar juga, sejak semalam Isun memang berencana untuk membuat perjanjian hitam diatas putih dengan dibubuhi materai. Tapi dia tidak enak hati dengan mertua kalau sampai melakukan hal itu. Beda cerita jika yang diminta menandatangani yang bersangkutan. Mengapa tidak kepikiran ya...


"Terimakasih Bu atas sarannya ibu. Hanya ibu yang bisa saya ajak bicara dan memiliki solusi. Sepertinya saya akan memakai saran dari ibu."

__ADS_1


Setelah berbincang Isun segera menuju salah satu komputer sekolah. Dengan cepat dia menyiapkan semuanya. Sebuah perjanjian tentang pembayaran hutang pinjaman.


"Apa-apaan ini mbak?" teriak adiknya Ori ketika dia disodori selembar kertas yang berisi perjanjian pembayaran hutang.


Isun sengaja menghubunginya melalui ponsel agar wanita ini datang sendiri, tanpa orang tua.


"Aku ingin kamu tahu, kalau nggak semua hal di dunia ini bisa langsung dinikmati. Ada banyak hal yang harus diusahakan lebih dulu baru bisa kita ambil kemanfaatannya. Salah satunya ya ini."


"Aku mau tanya ayah sama ibu dulu," Jelly menyorongkan kertas menjauhi dirinya.


"Kalau begitu, aku tinggal menyampaikan ke koperasi pegawai kalau yang bersangkutan tidak mau bertanggung jawab, jadi ya tidak akan dicairkan pinjamannya."


"Mbak bilang kalau ini bukan buat mbak sendiri?" aura jengkel jelas tampak di wajah wanita tengil di depannya.


"Mbak nggak bakat bohong, maaf ya," memberikan senyum yang dibuat manis.


"Sekarang terserah kamu, kalau kamu mau dapat pinjaman, tanda tangani, kalau nggak ya sudah tinggal saja disitu. Ini materai sepuluh ribu juga sudah mbak siapin," Isun menggeser selembar materai tepat di depan adik iparnya.


Wajah bimbang jelas terlihat pada ekspresi Royal Jelly, adik Don Worry.


Daripada nunggu orang yang masih bimbang ragu, Isun pergi ke dapur, sebentar lagi adalah waktunya sang suami pulang.


"Mas, aku disuruh tanda tangani ini," suara Jelly terdengar jelas di telinga Isun. Dari nadanya kelihatan kalau wanita muda itu menginginkan pembelaan.


"Tanda tangan apa sih?" Isun memilih diam di tempatnya. Dia ingin mengetahui reaksi sang suami tanpa ada pengaruh darinya.


Hening sejenak, tidak sabar rasanya menunggu, "ya tanda tangani saja, kan mbak Isun nulisnya benar itu."


Muncul sedikit senyuman di bibir Isun. Nanti musti di servis dengan baik Mas Ori sebagai penghargaan atas sikapnya saat ini.


"Aku kan musti ngomong dulu sama ayah atau ibu..." rengek Jelly.


"Ya ngomong aja, gitu kok repot."


"Tapi mbak Isun ngelarang tau mas."


Semoga kali ini otak suaminya itu agak miring. Kalau otaknya sedang waras, pasti sebentar lagi namanya akan dipanggil.


"Berarti ya sudah, tanda tangani saja."

__ADS_1


"Kalau dipikir-pikir, mbakmu itu bener juga, usiamu sudah diatas dua puluh, harusnya segala macam urusan seperti ini sudah bisa diatasi sendiri. Jangan sedikit-sedikit ayah, sedikit-sedikit ibu, atau aku. Masa nanti kalau suami mu selingkuh. Kami juga yang musti cari jalan keluar?"


Isun terkikik kecil di belakang. Andai lelaki tercintanya ini setiap hari begini.


"Ih, mas kok ngomongnya gitu. Omongan itu sama dengan doa tahu mas. Kalau ngomong yang baik-baik saja, jangan asal buka mulut!"


Tawa Isun makin lebar, tapi tak berani bersuara. Isun tetap diam di dapur, duduk tenang dieja makan sambil menguping obrolan kakak adik itu.


"Mana bolpoin," teriak Jelly akhirnya.


Isun bergegas keluar membawa sebuah bolpoin warna hitam, kebetulan yang sedari tadi genggamnya.


"Silahkan di tempel dulu materinya baru di tanda tangani," ucap Isun sambil memamerkan giginya yang rapi.


Materai yang disediakan ditempelkan di lidah Jelly sampai basah. Isun bergidik, ih jorok. Tapi biar saja lah, yang penting adik iparnya ini bersedia tanda tangan.


"Baca dulu yang baik sebelum tanda tangan," bisik Isun mengingatkan.


"Nggak perlu, isinya cuman bilang kalau habis acara uang hasil hajatan diserahkan ke mbak, begitu kan. Kalau masih kurang baru boleh diangsur dan yang mengangkut adalah aku."


Isun manggut-manggut, bagus lah semoga adik iparnya ini tipe bertanggung jawab.


"Kertas ini akan aku simpan. Nanti Mas Ori akan mengantarkan kopiannya ke rumah. Kamu boleh pulang sekarang."


Maafkan, sebenarnya nggak ingin seperti ini. Tapi mas mu yang notabene suami mbak, sering membuat mbak ketar-ketir dengan sikapnya. Siapa lagi yang bisa dijadikan pelindung kalau bukan diri mbak sendiri.


Isun menyimpan surat yang sudah ditanda tangani dengan rapi. Besok dia akan mulai mengisi blanko pinjaman.


"Kamu sengaja ya," Ori terdengar tidak suka.


"Iya, sengaja untuk mengajarkan rasa tanggung jawab sama adikmu. Biar jadi pribadi yang lebih baik. Biar sesuai dengan usianya. Biar tidak menjadi seperti kakaknya," kalimat terakhir dikeluarkan dengan suara pelan, berharap untuk tidak didengar.


Tapi...


"Hati-hati kalau ngomong sama suami. Kapan aku tidak bertanggung jawab. Semua kebutuhan kita aku yang penuhi,"...dan banyak lagi...


Salah ngomong, tapi apa dia bilang, semua kebutuhan dia yang penuhi? Mungkin sedang lupa kali ya lelakinya ini...


***

__ADS_1


__ADS_2