
Isun berdiri di depan pagar sebuah sekolah negeri. Ori yang tadi mengantarnya sudah kembali pulang.
Gedung sekolah di depannya kelihatan sederhana. Tak semegah gedung sekolah swasta yang iuran tiap bulan mencapai ratusan ribu bahkan hingga jutaan rupiah.
Setelah menarik napas panjang untuk membuang gugup, Isun melangkah memasuki halaman. Ini bukan sesuatu yang baru, hanya beda tempat saja.
Melewati halaman sekolah yang tak terlalu besar. Isun berhenti di depan pintu kaca berwarna gelap dengan kusen aluminium. Dari luar terdengar suara tawa yang jelas.
Begitu masuk Isun disambut oleh berbagai ekspresi. Setelah berbasa-basi, perkenalan hari itu bisa dibilang lancar.
Kesan pertama, ada beberapa orang yang akan bisa dijadikan lingkaran pertemanan karena seusia. Beberapa yang lain membuat Isun waspada, karena dari wajah dan cara bicaranya yang sama sekali tidak ramah. Dan beberapa yang lainnya lagi sepertinya ingin mendapatkan penghormatan lebih karena faktor usia.
Hari itu terlewati dengan baik. Ibu kepala Sekolah juga menerima dengan tangan terbuka. Ya...kan, bagaimanapun Isun datang dengan membawa surat tugas.
Apa yang tadi dikhawatirkan ketika baru datang tidak terjadi. Hari pertama ini lumayan menyenangkan. Memasuki kelas demi kelas untuk diperkenalkan kepada siswa pun menjadi sesuatu yang menarik.
Selama setahun Isun mengajar di sekolah Islam milik swasta menampilkan perbedaan yang cukup mencolok dibandingkan dengan siswa-siswi di sekolah negeri tempatnya bertugas sekarang.
Memang sebagian besar siswanya berpakaian bersih dan rapi. Tapi ada beberapa yang dandanannya begitu berbeda. Baju lusuh tanpa identitas sekolah atau nama dada, padahal seharusnya dua hal itu wajib terpasang di seragam siswa.
"Yah, beginilah kondisi murid kita. Kadang kita harus mau sedikit berkorban jika menghadapi siswa dengan kondisi ekonomi kurang mampu."
Bisik Bu Dela, kepala sekolah di sekolah tersebut.
"Kadang kita dalam dilema. Menginginkan yang terbaik untuk anak didik kita tetapi orang tua sibuk meminta anaknya untuk membantu mencari uang."
"Ayo," Bu Dela menunjukkan arah untuk kembali ke ruang kepala sekolah, "lebih baik kita ke ruangan saya."
"Anda sudah membawa berkas-berkas yang harus dikumpulkan bukan?"
Isun tersenyum dan menganggukkan kepala. Sikap dan nada bicara Bu Dela yang terdengar bijak membuatnya begitu segan.
"Jangan sungkan-sungkan. Kalau ada perlu apa-apa bilang saja."
Keduanya berjalan beriringan turun dari lantai atas.
"Itu mushola," Bu Dela menunjuk salah satu sudut di perbatasan belokan tangga di lantai dua, " tidak besar, tapi bersih dan layak untuk dijadikan tempat ibadah."
Dalam pengamatan Isun, letak mushola itu seperti sedikit dipaksakan.
"Saya tahu apa yang anda pikirkan. Mushola itu sumbangan dari salah satu wali murid yang tergolong mampu. Karena tidak ada lahan lagi untuk dibangun. Maka dibuatlah mushola disitu."
"Iya," Isun berusaha untuk terus tersenyum.
Keduanya pun melanjutkan perjalanan menuju ruang kepala sekolah. Setelah berkeliling, Isun jadi faham dimana letak-letak ruangan penting di sekolah itu.
__ADS_1
"Silahkan duduk," ucap Bu Dela setelah mereka sampai di ruang Kepala Sekolah.
Bu Dela menempati kursinya. Sedangkan Isun duduk di depannya. Dia lalu mengeluarkan semua berkas yang sudah disiapkan.
"Ini berkas-berkas yang harus saya kumpulkan Bu."
"Iya," Bu Dela menerima dan meletakkannya diatas meja.
"Berkas ini memang penting, tapi kalau mengajar di sekolah pinggiran seperti ini, persiapan mental adalah yang paling utama."
"Anda sudah menikah?" tanya Bu Dela bernada menyelidik, dan itu wajar karena nanti Bu Dela akan menjadi pimpinannya selama bekerja.
"Sudah Bu."
"Sudah punya momongan?"
"Belum, saya inginnya segera. Karena kami sudah setahun menikah dan belum diberi kepercayaan juga sama Allah."
"Sabar, baru setahun."
"Baiklah, silahkan bergabung bersama rekan guru yang lain. Berkenalan, seorang guru harus supel dan mudah bergaul. Jangan terlalu kaku."
Lagi-lagi Isun hanya mengangguk sebagai jawaban.
...***...
Bayangkan berapa lama lagi dia harus menunggu, jika dia menelepon Ori. Suaminya itu pasti harus melakukan hal-hal yang tidak perlu lebih dulu sebelum berangkat menjemput.
Oh...belum-belum Isun sudah merindukan rumah bapak ibu, atau kota M yang selalu terasa sejuk.
Sampai di depan rumah, Isun tak tahan lagi. Tas dilemparnya sembarangan di ruang tamu. Setengah berlari dia menuju kamar mandi. Membasuh kaki, buang air kecil, lalu mandi biar segar sekalian.
Masuk kamar, ternyata Ori sedang menikmati tidur siangnya. Padahal tadi pagi suaminya itu bilang kalau mulai sibuk. Usaha bersama beberapa rekannya sudah mulai jalan.
"Kok sudah di rumah mas?"
Isun melepaskan handuk yang melilit di sebagian tubuhnya.
"Siang-siang lepas baju didepan suami. Sengaja ya?"
Isun melirik suaminya yang berbaring nyaman diatas ranjang.
"Nggak tuh, siapa juga yang menggoda kamu mas..."
"Kamu sih enak, siang-siang begini tiduran di kamar yang nyaman," sinis Isun.
__ADS_1
"Jangan sembarangan bicara."
Ori menggeliat lalu memaksa tubuhnya untuk duduk.
"Sini," lelaki itu menepuk sisi kasur di depannya untuk meminta Isun duduk.
"Kamu istri aku kan?!"
Isun mengerutkan mata, "pertanyaan macam apa itu?"
"Pertanyaan pemantik Sun."
"Sok...sok tahu pertanyaan pemantik."
"Kamu pasti ada maunya mas."
Ori senyam-senyum, mata yang biasanya tajam kali ini dibuat redup mesra.
"Kamu sudah dapat SK kan Sun?"
Isun berusaha menghubungkan alur cerita yang beru saja dirangkai suaminya.
"Kamu ingin suamimu sukses kan Sun."
"Oh...tidak mas, tidak, SK ku nggak perlu sekolah lagi. Dia SK pengangkatanku sebagai guru, dia sudah pinter."
Isun berdiri berusaha meninggalkan suaminya. Tapi tangan Ori lebih cepat dari gerakan Isun.
"Akan aku kembalikan Sun. Hanya sementara, untuk tambahan modal. Kalau perlu tidak usah ambil pinjaman yang model angsuran. Sebelum satu bulan aku pasti akan kembalikan."
"Tapi mas. Masa iya, SK yang baru aku terima harus digadaikan. Aku baru menerimanya mas. Kamu tega sama aku."
Ori mulai menunjukkan taringnya, "kamu istriku, harus patuh padaku. Surgamu ada pada ku. Jangan berani membantah atau menolak permintaanku, paham!"
Napas ini tiba-tiba sesak. Begitu mudahnya suaminya ini berubah mood. Sebentar menyenangkan lalu dengan cepat menjadi menjengkelkan.
"Kamu selalu mengatasnamakan agama untuk mengikatku mas. Membuatku mengikuti semua maumu."
"Jawab saja, Sun. Kamu akan patuh padaku atau tidak!!"
"Iya...iya. Akan aku jaminkan SK ku pada koperasi pegawai. Tapi mungkin tidak akan cair secepat itu karena aku belum menjadi anggota."
Senyum Ori kembali muncul, secerah mentari pagi. Suaranya pun kembali lembut, "terimakasih ya...kamu memang istri terbaikku."
Ori memeluk erat istrinya. Urusan nanti, kapan dia akan mengembalikan pinjaman itu. Yang penting usahanya jalan dulu. Dia juga ingin membahagiakan Isun, meskipun kadang dia tidak menyadari kalau caranya mencintai sedikit menyakitkan.
__ADS_1
Sekarang di otaknya sudah ada rancangan hadiah yang akan diberikan pada istrinya. Tunggu saja kejutan dari ku istriku.
...***...