
Alexa kini begitu takut dengan penjelasan dokter tadi. Saat ini wanita itu berada di apartemen sahabatnya.
Dia mengatakan apa yang dia alami pada sang sahabat. Nina tentu saja terkejut mendapati sahabatnya hamil.
"Terus apa yang akan kau lakukan Alexa? " tanya Nina.
"Aku enggak tahu Nin, Derian malah kabur dan enggak mau tanggung jawab hiks. " gumam Alexa dengan raut bingungnya. Nina menghela nafas panjang, mengusap punggung sang sahabat.
Alexa juga membahas maminya yang meminta dirinya mengugurkan janin dalam perutnya. Nina tentu saja menasehati sang sahabat agar melakukan apa yang di minta ibu kandungnya Alexa.
"Turuti saja perintah mami kamu Alexa! " cetus Nina. Alexa menggeleng keras, Nina berdecak pelan.
"Ya sudah kalau kamu tak mau lebih baik kamu ke luar dari sini,kau tanggung saja aibmu sendiri itu. " ketus Nina. Gadis itu menarik sahabatnya ke luar dari apartemen miliknya. Dia juga menyerahkan tas milik Alexa dan memintanya pergi.
Alexa tentu saja terkejut, dia kembali menangis tergugu. Wanita itu lantas pergi dari sana, dia sempat masuk ke dalam taksi. Alexa pergi ke perbatasan kota setelah menarik sisa uang di rekeningnya.
Turun dari taksi beberapa pemuda mencegahnya. Alexa berusaha mempertahankan uang miliknya namun dirinya kalah.
"Ugh. " Alexa jatuh tersungkur, dia memegangi perutnya yang terasa sakit. Wanita itu jatuh tak sadarkan diri, tanpa sengaja seorang pria melihatnya dan menggendongnya pergi.
Skip
Alexa membuka matanya, menatap sekitarnya yang terasa asing. Cklek pintu kamarnya terbuka, seorang pria dewasa masuk ke dalam ruangannya.
"Kau sudah sadar nona? " tanya pria itu tanpa ada ekspresi.
"Aku di mana? " tanya Alexa.
"Rumah sakit, perut kamu mengalami pendarahan tadi. " Pria tadi menjelaskan keadaan Alexa. Alexa tentu saja terkejut dan kembali menangis.
"Aku Gavin, siapa nama kamu? " tanya Gavin.
"Alexa. " jawabnya singkat.
__ADS_1
Gavin kini membantunya untuk bersandar di headboard. Pria itu menyuapi Alexa dengan telaten. Alexa tentu saja langsung mengucapkan terimakasih pada Gavin.
Sore harinya Gavin membawa Alexa pulang ke penthousenya. Pria itu telah menyiapkan segala kebutuhan Alexa selama tinggal bersamanya. Gadis itu menyesali perbuatan angkuhnya selama ini, dia perlu meminta maaf pada sang bibi.
"Terimakasih om. " Alexa langsung memeluk tubuh Gavin. Gavin terkejut, tubuhnya terasa tegang. Pria itu mengontrol dirinya, lalu membalas pelukan Alexa.
Gavin melepaskan pelukannya, pria itu memilih duduk di atas ranjang. Alexa sendiri segera membersihkan diri di kamar mandi. Tak lama Gadis itu ke luar segera memakai dress tipisnya. Jakun Gavin naik turun melihat penampilan Alexa saat ini.
Alexa naik ke atas pangkuan Gavin, dia mulai bercerita mengenai sikap arogannya selama ini. Gavin memperhatikan Alexa yang tampak benar benar menyesali
perbuatannya.
"Aku wanita rendahan om, sekarang janin dalam perutku pun memilih pergi daripada bertahan. " gumam Alexa. Gavin langsung memeluknya, dia paham akan perasaan Alexa saat ini.
Drt
Dering ponsel Alexa menyita perhatian mereka. Wanita itu turun dari pangkuan Gavin, dia mengambil ponselnya dari dalam tasnya.
Deg
"Di mana kamu Alexa, kata mami kamu apakah benar kalau kamu hamil hah. " bentak Papi emosi di dalam telepon. Alexa tersentak kaget mendengar bentakan sang papi. Dia tampak sangat takut dan memilih mematikan sambungan begitu saja.
Alexa menjatuhkan ponselnya, dia tak sanggup menerima kemarahan dan makian dari sang papi. Dia kembali menangis, Gavin yang melihatnya segera menenangkan Alexa.
Beberapa menit berlalu Gavin ke luar dari kamar Alexa. Alexa sendiri segera mengganti pakaiannya dengan dress panjang. Dia menyusul Gavin turun ke bawah, pergi ke ruang tamu.
Pelayan datang membawakan camilan untuk mereka berdua. Alexa sendiri menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Minumlah lebih dulu agar kamu tenang Alexa. " cetus Gavin.
Alexa menyesap tehnya dengan santai dan pelan. Lalu menaruh gelasnya kembali ke atas meja.Dia mengusap wajahnya kasar, berusaha menenangkan dirinya saat ini.
"Sebaiknya jangan pulang ke rumahmu Alexa, aku mengira jika kedua orang tua kamu itu toxic. " ungkap Gavin menyampaikan pendapatnya. Alexa hanya diam saja, dia teringat dengan sikap orang tua nya selama ini terhadapnya.
__ADS_1
"Ya kamu benar om Gavin. " sahut Alexa dengan pasrah.
Alexa telah memutuskan untuk tinggal bersama Gavin, pria yang menolong dirinya. Dia berharap kehidupannya di sini jauh lebih baik daripada saat bersama orang tuanya.
"Om, aku izin pergi ke Gazebo. " ucap Alexa dengan halus.
"Baiklah ayo aku antar. " Gavin lekas bangkit, mengajak Alexa pergi ke Gazebo. Di sana mereka mengobrol dengan leluasa. Alexa tampak salah tingkah kala Gavin menatapnya dengan intens.
Wanita itu berusaha mengenyahkan pemikirannya, dia tak boleh terbuai oleh pria lagi. Alexa terhenyak kala Gavin menggenggam tangannya. Wanita itu menarik tangannya, berusaha menjaga jarak dari Gavin.
"Maaf om. " Alexa memilih bangkit, kakinya tersandung dan hampir tersungkur namun Gavin berhasil menahannya.
"Dasar ceroboh. " sindir Gavin. Pria itu menariknya, membaringkan Alexa di Gazebo di ikuti dirinya. Kini mereka berbaring saling berhadapan satu sama lain.
Cup
Gavin memagut bibir Alexa yang sejak tadi menggoda dirinya. Alexa sendiri tampak terkejut, dia berusaha mendorong Gavin namun tak bisa. Tangan kekar pria itu melepaskan kancing bagian atas dress Alexa kemudian menurunkannya beserta br4 milik Alexa.
Gavin mengakhiri ciumannya, ciumannya turun ke bawah. Alexa mendesis pelan kala merasakan sentuhan di pepaya gantung miliknya.
"Om ini salah. " gumam Alexa dengan nada bergetar. Gavin tak peduli sama sekali, pria itu terbawa hawa nafsunya. Dia layaknya bayi besar yang begitu rakus menikmati sumber makanan favoritnya.
Setelah beberapa menit Gavin menjauhkan wajahnya. Pria itu melepaskan kaosnya, menampilkan dada bidangnya yang terdapat tatoo di bagian pinggang. Dia menarik tangan Alexa menaruhnya di atas dada bidangnya.
"Sentuhlah. " gumam Gavin.
Alexa membelai permukaan dada bidang milik Gavin. Wanita itu lantas membenamkan wajahnya di sana, menikmati pelukan Gavin.
"You are mine now! " bisik Gavin si telinga Alexa. Alexa begitu menikmati aroma maskulin dari tubuh Gavin. Suara merdu terdengar kembali, tangan Gavin begitu aktif menyentuh si kembar. Setelah merasa cukup Gavin membenahi pakaian Alexa,dia langsung bersandar dengan Alexa di atas pangkuannya.
"Aku akan sabar menunggu selama dua minggu setelah itu kamu akan jadi milikku selamanya Lexa. " gumam Gavin.
Alexa mengigit bibirnya, dia merasa Gavin begitu posesif padanya. Sebenarnya siapa pria yang menolongnya saat ini. Wanita itu begitu penasaran dengan sosok Gavin yang mengklaimnya sebagai milik pria tampan itu.
__ADS_1
"Aku harap Gavin tidak mempermain 'kan aku seperti Derian. " batin Alexa dalam hati.