Suami Lima Milyar

Suami Lima Milyar
Bab 14 Kemarahan Edgar


__ADS_3

"B1tch. " umpat Edgar pada seseorang yang dia hubungi saat ini. Pria itu meluapkan kemarahannya pada Evelyn.


Edgar langsung mematikan sambungan nya setelah puas mencaci maki Evelyn. Dia juga telah memblokir nomor Evelyn agar tak bisa menghubungi dirinya lagi.


"Sialan. " Edgar mengamuk di dalam kamarnya. Kali ini istrinya marah besar dan menolak bertemu dirinya. Pria itu hanya bisa menyesali semuanya. Dia pasti akan sangat sulit mengembalikan kepercayaan Lizzie padanya.


Edgar memilih berada di bawah Shower membiarkan tubuhnya terguyur air. Dia perlu menenangkan dirinya saat ini. Selesai mandi Edgar segera ke luar dan berpakaian.


Pria itu mengambil testpack yang tergeletak di atas ranjang. Edgar tersenyum miris, perasaannya kini campur aduk.


"Terimakasih telah hadir dalam perut mommy sayang, maafin daddy yang membuat mommy kamu kecewa. " gumam Edgar. Edgar merasakan kebahagiaan saat tahu dirinya akan segera menjadi seorang ayah nanti.


Pria itu hanya bisa memandangi testpack milik istrinya. Rasanya dia ingin memeluk Lizzie sepuasnya sambil mengungkapkan terimakasih. Namun keadaan tak memungkinkan, kedua mertuanya begitu kecewa padanya.


Edgar perlu memikirkan cara agar bisa berbicara dengan sang istri berdua. Dia tak sanggup jika harus menerima kebencian dari Lizzie hanya karena kesalah pahaman.


Tepat pukul delapan malam, Edgar memutuskan pergi ke rumah sakit. Setelah memastikan keadaan aman dia masuk ke dalam ruangan sang istri.


"Untuk apa kamu datang ke sini? " ketus Lizzie dengan muka datarnya.


"Sayang aku bisa menjelaskan semuanya sekarang. " gumam Edgar dengan lembut. Pria itu langsung duduk di dekat istrinya, mencoba meraih tangan Lizzie namun wanita itu menepisnya dengan kasar.


"Mengenai wanita itu, dia bukan siapa siapa aku sayang dan kamu hanyalah salah paham padaku. " ujar Edgar dengan serius.


"Oh ya, tapi sayangnya aku tak percaya lagi dengan omongan kamu Edgar. Seperti yang telah kita sepakati, besok aku akan mengirim lima milyar padamu setelah itu pergilah dari kehidupanku." tegas Lizzie dengan nada datarnya.


Edgar membulatkan kedua matanya. Dia begitu tak percaya dengan pernyataan istrinya barusan. Lizzie menghela nafas panjang, berusaha mengontrol dirinya sendiri.


"Satu lagi selama ini aku menikah denganmu hanya demi keturunan. Aku ingin mempertahankan perusahaan milik Daddy yang hendak di rebut paman dom yang serakah! " ungkap Lizzie.


"Kau. " Edgar mengertakkan giginya mendengar pengakuan sang istri. Lizzie senfiri tak peduli dengan kemarahan yang di tunjukkan suaminya.

__ADS_1


"Kau egois Lizzie, kau ingin selalu di mengerti namun tidak mau mengerti aku. " ujar Edgar dengan nada kecewanya.


"Rasanya percuma berbicara dengan wanita egois sepertimu, kau juga telah merendahkan aku sebagai


pria. " geram Edgar.


"Tak perlu basa basi, sebaiknya pergilah dari sini Tuan Edgar Glover Smith! " usir Lizzie. Tangan Edgar terkepal kuat, pria itu lekas bangkit dan ke luar sambil membanting pintu.


Brak


Cih


Lizzie kembali menyandarkan tubuhnya di headboard. Dia telah mengambil keputusan besar dari hidupnya.Wanita itu lantas menaruh cincin pernikahannya di atas meja. Tangannya menyentuh perut rata nya dengan lembut.


"Anggap saja aku egois, setelah dua kali dia berbohong. Mungkinkah aku harus tetap diam seperti kemarin. " gumam Lizzie. Wanita hamil itu mengusap wajahnya, segera memejamkan kedua matanya.


Di sisi lain Edgar begitu marah besar akan ucapan Lizzie barusan. Pria itu memilih kembali ke villa dengan aura dinginnya.


Lizzie telah selesai sarapan. Wanita itu telah di izinkan pulang, dia mengatakan keputusannya pada sang mommy dan daddy.


"Mom, Dad kita berangkat hari ini saja. " ujar Lizzie. Mommy dan Daddy saling melirik satu sama lain kemudian mengangguk setuju. Mommy memapah putrinya lalu mengantarnya ke luar di susul Daddy.


Mereka bertiga segera masuk ke dalam mobil. Mommy Shella telah menghubungi sahabat dari anaknya untuk menunggu di bandara.


Setengah jam berlalu mereka sampai di sana. Lizzie langsung menghampiri Veronica dan memeluknya.


Tuan Farhan mengambil koper putrinya yang di antarkan sopir kemudian menyerahkan pada Lizzie.


"Mommy dan Daddy pasti akan datang menjenguk kamu nak. Jaga kesehatan kamu dan calon cucu kami dalam perutmu. " tegur mommy pada Lizzie.


"Iya mommy, aku pasti akan menjaganya. " gumam Lizzie. Wanita hamil itu mengambil ponselnya kemudian mengirim sejumlah uang ke rekening Edgar. Lalu dia mematikan ponselnya, menyimpannya kembali ke dalam tas.

__ADS_1


Lizzie memeluk orang tuanya secara bergantian. Setelah itu pamit dan menyeret kopernya begitu juga dengan Veronica. Kedua wanita itu segera check in penerbangan.


Nyonya Shella menangis, menatap kepergian sang anak. Tuan Farhan menghela nafas berat, memeluk istrinya itu dengan erat. Pria paruh baya itu mengajaknya kembali ke mobil.


"Setelah mengantar mommy pulang, Daddy harus pergi ke kantor untuk mengambil alih tugas. " ujar Daddy yang di angguki nyonya Shella.


Skip


Di perusahan Harold Corp


Tuan Farhan datang tiba tiba membuat para karyawan heran. Pria patuh baya itu di ikuti sang asisten hingga masuk ke dalam lift.


Sampai di lantai lima mereka bergegas memasuki ruangan Tuan Farhan yang kini di pakai Edgar.


"Kau masih di sini rupanya, apa belum puas menyakiti putriku dan sekarang ingin merebut perusahaan keluargaku Edgar? " tanya Tuan Farhan dengan nada sinisnya.


Edgar mengangkat wajahnya, pria itu beranjak dari kursinya kemudian mendekati daddy mertuanya. Pria itu hendak bicara namun Tuan Harold mengangkat tangannya.


"Lizzie sudah membuat keputusan, tunggulah sampai surat perceraian kalian datang. Sekarang ini pergilah dari sini, aku yang akan kembali mengelola perusahaan Harold, Edgar! " ujar Tuan Farhan dengan lugas.


"Anda dan putrimu sama sama penjilat rupanya. " ucap Edgar dengan sarkas. Tuan Farhan hanya menatapnya datar, dia melambaikan tangan dan memintanya pergi.


Edgar mengusap wajahnya kasar, pria tampan itu ke luar dari ruangan sang mertua dengan kemarahan. Tuan Farhan sendiri duduk di kursinya.


"Bara, Aku merasa telah gagal menjadi seorang ayah untuk putriku Lizzie. Dia harus menanggung beban berat hingga mengorbankan masa depannya. " gumam Tuan Farhan menyesal.


"Anda cukup perlu menjadi tameng untuk melindungi nona Lizzie, Tuan. Oleh karena itu Anda perlu menjaga kesehatan! "


Tuan Farhan menghela nafas berat, dia teringat dengan sang anak. Dia berharap di negara lain, Lizzie bisa hidup jauh lebih baik dengan calon anak dalam perut putrinya. Mengenai Edgar, dia akan membalas kelakuan menantunya itu yang telah menyakiti putrinya.


"Maafin Daddy nak, Daddy belum bisa menjadi daddy yang baik dan bertanggung jawab untuk kamu Lizzie. " gumam Tuan Farhan. Dia begitu menyayangi putri semata wayangnya itu.

__ADS_1


Asisten Bara sendiri merasa kasihan dengan sang atasan. Dia tak tahu mengenai detail masalah dari atasannya itu. Pria itu langsung pamit ke luar, membiarkan Tuan Farhan beristirahat dengan tenang di dalam ruangan.


__ADS_2