
Hari ini hari yang di tunggu tunggu. Edgar dan Lizzie dalam perjalanan menuju kantor pengadilan. Jessica & Leon sendiri juga hadir di sana. Suasana di dalam ruang sidang tampak terasa tegang.
"Saya memutuskan bila Harvey milik kedua orang tua kandungnya. " ujar Hakim
tok
Ketukan palu tiga kali mengakhiri sidang hari ini. Lizzie tentu saja tak terima, wanita hamil itu menangis dalam dekapan suaminya. Berbeda dengan Jessica dan Leon yang tampak bahagia.
"Tunggu pak Hakim, ini ada hasil tes DNA dan juga bukti bahwa nyonya Jessica menelantarkan Harvey. " Tuan Alex langsung menyerahkan berkas nya. Setelah di periksa, Hakim meminta waktu untuk menilai.
Beberapa jam kemudian
Hakim memutuskan jika Harvey akan tetap menjadi milik orang tua kandungnya. Lizzie dan Edgar tentu saja kecewa dengan keputusan Hakim. Mereka semua lantas ke luar dari ruangan sidang.
Jessica dan Leon menghampiri keduanya dengan senyuman penuh kemenangan.
"Kali ini kalian memang menang, jika salah satu dari kalian berani menyakiti Harvey. Aku tak akan segan menghancurkan kehidupan kalian nantinya. " tegas Edgar.
Pria itu langsung membawa pergi istrinya. Setelah kepergian Edgar dan Lizzie. Tuan Leon langsung menampar pipi istrinya dengan keras. Keduanya terlibat pertengkaran, Tuan Leon langsung pergi begitu saja.
Lizzie tampak kecewa dengan hasil putusan hakim. Mau tak mau dia harus menerima kenyataan ini.
__ADS_1
Sampai di Villa, keduanya langsung turun dari mobil dan masuk ke dalam. Wanita hamil itu langsung memeluk putra angkatnya itu. Harvey tentu saja terkejut melihat sang mommy menangis.
"Mommy kenapa menangis? " tanya Harvey dengan polosnya.
Lizzie melepaskan pelukannya, dia menatap sang anak dengan tatapan sendunya. Wanita itu mau tak mau mengatakan kebenaran. Harvey tentu saja terkejut, bocah tampan itu menangis histeris.
huwaa
huwaa
"Vey enggak mau pisah dari mommy dan daddy. " gumam Harvey. Edgar langsung meraup putranya itu ke dalam pelukannya. Hot daddy itu mengusap lembut punggung mungil Harvey. Dia berusaha memberikan pengertian pada sang anak.
Lizzie turut menangis melihat putranya menangis. Wanita hamil itu tentu saja sangat sedih, dia tak sanggup berpisah dari Harvey. Edgar menurunkan sang anak setelah putranya tenang. Dia berusaha memberikan pengertian pada Harvey.
Edgar mengambil mainan sang anak kemudian menyerahkan pada Harvey. Bocah tampan itu awalnya menolak namun lambat laun luluh juga. Lizzie tak kuasa menahan tangis melihat wajah sembab sang anak.
"Rasanya benar benar tak sanggup jika harus berpisah dengan Harvey. " gumam Lizzie sambil memperhatikan putranya. Edgar beralih menenangkan sang istri, pria itu menarik wanitanya ke dalam pelukan.
Sorenya mereka kembali mengobrol sambil makan. Harvey sibuk memakan waffle coklatnya dengan tenang. Mami Diora datang, wanita paruh baya itu menemani cucu laki lakinya yang duduk di karpet.
"Oma. " Harvey menghentikan makannya. Bocah itu langsung memeluk sang oma dengan erat.
__ADS_1
Nyonya Diora ikut sedih mendengar keluhan yang di katakan Harvey. Wanita itu membalas pelukan Harvey dengan penuh kasih sayang. Sesekali Oma mencium pucuk kepala sang cucu dengan lembut.
"Mommy, Daddy dan oma sangat sayang sama kamu Harvey. " gumam Nyonya Diora dengan lembut.
"Vey juga sayang sama oma dan semuanya termasuk calon adik
bayi. " gumam Harvey.
Dering ponsel Edgar berbunyi. Pria itu langsung melepaskan pelukannya kemudian mengeluarkan ponselnya.
"Halo. " sapa Edgar.
"Aku, Landon. Ayah kandung dari bocah bernama Harvey. Apa benar kamu Edgar, yang telah menolong putraku? " tanya Landon.
"Iya. " jawab Edgar singkat.
Keduanya terlibat obrolan serius. Entah apa yang mereka obrolkan saat ini. Tiga puluh menit berlalu Edgar baru mengakhiri obrolannya. Dia langsung memberitahu sang istri dan maminya mengenai obrolannya dengan Landon.
Lizzie menghela nafas panjang, diapun setuju dengan tawaran yang di berikan Landon pada mereka. Mau tak mau dia harus menerima kenyataan ini. Landon memberi mereka kesempatan merawat Harvey hingga calon anak dari Lizzie dan Edgar lahir nantinya.
Mami Diora hanya bisa mengelus kepala cucunya tanpa mengatakan apapun. Ini semua memang terasa berat untuk mereka, mereka semua begitu sayang pada Harvey.
__ADS_1
"Aku setuju sayang, kamu bisa bilang sama tuan Landon agar memberikan waktu untuk kita bersama Harvey sementara. " ungkap Lizzie yang di angguki suaminya.
Edgar langsung mengirim pesan pada Landon setelah itu menyimpan kembali ponselnya dalam saku celana. Setelah itu suasana berubah hening, hanya terdengar ucapan Harvey.