Suami Lima Milyar

Suami Lima Milyar
Bab 8 Pertengkaran pertama


__ADS_3

Satu minggu kemudian


Rumah tangga Lizzie dan Edgar tampak damai. Pasangan suami istri itu justru kian mesra dan harmonis. Edgar saat ini telah menggantikan mertuanya sebagai Presdir perusahaan milik keluarga Harold.


Lizzie sendiri sibuk dengan butiknya. Dia cukup percaya jika suaminya itu pasti bisa mengelola perusahaan Daddy.


"Nyonya, nyonya. " ujar Sekar pada sang atasan dengan raut paniknya.


"Ada apa Sekar? " tanya Lizzie heran. Sekar langsung menyerahkan majalah pada atasan nya itu. Lizzie merebutnya, fokusnya tertuju pada berita yang memuat tentang Edgar.


Wanita itu terkejut dengan pemberitaan mengenai suaminya. Lizzie tentu saja tak lantas percaya begitu saja.


"Bertunangan dan seorang billionaire. " gumam Lizzie dengan tangan terkepal.


"Sekar, dapat dari mana kamu majalah ini? " tanya Lizzie dengan wajah datar nya. Sekar langsung menjelaskan pada sang atasan.


Lizzie sendiri menyambar tas dan membawa majalah itu. Wanita itu melajukan roda empatnya dengan kencang menuju ke perusahaan.


Sekar tak bisa mencegah kepergian Lizzie yang tampak marah besar. Dia berharap tak akan terjadi masalah besar nantinya.


Skip


Perusahaan Harold Corp


Lizzie segera turun dari mobilnya, bergegas masuk ke dalam. Dia mengabaikan sapaan para karyawan. Wanita itu segera masuk ke dalam lift dengan mata memerah.


Tring


Dia segera ke luar dan bergegas menuju ke ruangan sang suami. Tanpa mengetuk pintu Lizzie masuk begitu saja.


Brak


Edgar terperanjat kaget dengan kehadiran istrinya. Dia mengerutkan kening melihat sang istri tampak menahan amarahnya. Pria itu lekas bangkit, dia menghampiri istrinya.


"Katakan ini apa maksudnya Tuan Edgar Glover Smith? " ujar Lizzie dengan wajah dinginnya.


Edgar membulatkan mata, dia terkejut dengan sapaan dari istrinya barusan. Lizzie melempar tabloid itu pada sang suami. Dia mengambil tabloid nya dan melihat. Edgar hanya bisa mengumpat dalam hati setelah identitasnya tersebar.

__ADS_1


"Sayang aku? "


Plak


Lizzie melayangkan tamparannya ke wajah suaminya. Wanita itu sangat marah saat tahu suaminya membohongi dirinya.


"Aku bisa menjelaskan hal ini Lizzie. " sela Edgar.


"Kenapa kamu merahasiakan siapa dirimu, apa kamu memang berniat merebut perusahaan daddyku sejak lama? " tuduh Lizzie dengan sorot mata tajamnya.


"Bukan seperti itu Liz, tolong dengarkan aku dulu. " Edgar menggenggam tangan sang istri. Lizzie menepisnya dengan kasar. Wanita itu menghembuskan nafas berat, rasanya sangat sakit saat pria yang dia percaya justru membohongi dirinya.


Seringai terbit di sudut bibirnya, menatap suaminya dengan tatapan meremehkan.


"Sekarang kau telah berhasil merebut perusahaan Daddy, apa kau puas sekarang tuan Edgar Glover Smith? " tanya Lizzie dengan senyuman mengejek.


"Kau hanya salah paham baby, aku bisa menjelaskan semuanya padamu. " sela Edgar. Lizzie menggeleng, diapun tak lagi pada percaya dengan Edgar. Wanita cantik itu lantas ke luar dari ruangan Edgar.


"Si4l4n. " umpat Edgar. Pria itu segera menyusul sang istri. Di luar perusahaan Edgar berusaha mencegah kepergian istrinya yang dalam keadaan marah besar.


Terlambat


Setelah beberapa menit dia menepikan mobilnya di dekat danau. Lizzie segera turun, berlari kearah danau dan berteriak di sana. Dia meluapkan kemarahan yang ada dalam dirinya saat ini.


Lizzie POV


Pantas saja dia memiliki Villa, sepertinya villa itu bukan milik mendiang kakeknya namun milik Edgar sendiri. Akupun benar benar bodoh. Bagaimana bisa aku mempercayai Edgar hingga menyerahkan diriku padanya.


Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan sekarang.


Aku tak mungkin memberitahu mommy dan daddy mengenai hal ini. Kenapa kamu jahat Ed, aku percaya sama kamu namun kamu membalasnya kayak gini. Selain itu kamu juga licik ternyata. Melakukan segala cara untuk menghancurkan orang lain.


Lizzie POV end


Wanita itu berjalan gontai ke arah danau, lalu memilih duduk di atas rerumputan. Matanya mengembun, cairan bening membasahi pipi mulusnya. Kepalanya menunduk, fokusnya tertuju pada cincin di jari manisnya.


"Ini menyakitkan. " gumam Lizzie lirih.

__ADS_1


Ckit


Edgar berhasil melacak keberadaan istrinya. Dia datang bersama sopir, Pria itu menghela nafas berat. Dia berjalan pelan menghampiri istrinya. Dia langsung mendekapnya dari belakang, mengabaikan aksi berontak Lizzie.


"Maafkan aku baby, aku melakukan hal ini karena ada alasannya. " Edgar mengungkapkan alasannya yang sebenarnya pada Lizzie.


Lizzie hanya diam saja, wanita itu tetap menangis. Edgar membalik tubuh wanitanya, membawanya ke pangkuan. Sementara sopir yang bersamanya telah pergi dengan mobil yang dia bawa.


Pria itu menarik dagu istrinya, mendaratkan ciuman di bibir manis Lizzie. Tak lama dia mengakhiri ciumannya, mengusap air mata sang istri.


"Maafkan aku baby, untuk tuduhanmu itu tak benar. Aku sama sekali tak berniat merebut perusahaan daddy. " tegas Edgar. Pria itu langsung bangun, kemudian menggendong sang istri lalu membawanya ke mobil.


Skip


Di Kamar


Keduanya kini sama sama polos, Edgar mendorong istrinya ke arah ranjang lalu mengukungnya. Dan siang itu menjadi siang yang panas untuk dua insan suami istri itu. Terdengar suara merdu dari dalam kamar mereka.


Dua jam berlalu mereka selesai bercint4. Lizzie mendekap tubuh berkeringat sang suami. Edgar membalas pelukan wanitanya, berulang kali mencium kening Lizzie.


Pria tampan itu sedikit merentangkan pelukannya. Dia menurunkan sedikit selimutnya kemudian bermain di area buah persik istrinya. Lizzie memeluk kepala sang suami, dia menikmati sentuhan Edgar.


Edgar menjauhkan wajahnya, dia kembali berbaring di samping Lizzie. Lizzie meminta maaf pada suaminya, dia telah berburuk sangka pada Edgar.


"Tetap saja kau suami lima milyar aku. " ketus Lizzie yang di tanggapi kekehan oleh Edgar.


Lizzie kini sibuk mengusap dada bidang kesukaannya. Wanita itu membenamkan kepalanya di sana, Edgar membiarkannya. Pria itu bersandar di head board dengan Lizzie ada di depannya.


"Aku minta penjelasan dari kamu Boo! "


Edgar terpaksa menjelaskan siapa dirinya sebenarnya pada sang istri. Lizzie berdecak pelan, tak habis pikir dengan pemikiran konyol Edgar. Dia memilih diam, mendengarkan suaminya bicara.


"Lalu mengenai Yuki bagaimana? " tanya Lizzie dengan nada datarnya.


"Yuki itu sahabatku sejak kecil. " jawab Edgar. Lizzie kembali diam, entah apa yang tengah wanita itu pikirkan. Edgar menghela nafas panjang, mengeratkan pelukannya ke tubuh sang istri.


"Kau percaya sama aku 'kan baby? " tanya Edgar memastikan.

__ADS_1


"Entahlah. " Lizzie menatap dalam manik kelam milik suaminya. Dia sangat takut jika dirinya kembali di bohongi lagi. Lagi lagi terdengar permintaan maaf dari Edgar pada Lizzie.


Mata Lizzie kembali berkaca kaca, dia berusaha tegar dan tak terlihat lemah apalagi di depan Edgar. Dia berusaha melepaskan diri namun Edgar tak membiarkannya. Pria itu takut kehilangan Lizzie, dia akan melakukan segala cara untuk membuat istrinya bahagia.


__ADS_2