
Siang ini Edgar mengajak Lizzie mengurus surat pernikahan mereka. Keduanya telah membawa berkas penting untuk mereka berdua. Keduanya tampak saling mengulas senyum satu sama lain.
"Selamat tuan, nyonya kalian telah resmi menjadi suami istri. " ujar sang petugas.
"Terimakasih. " Edgar menggandeng istrinya pergi dari sana. Sepanjang perjalanan keduanya tampak mengobrol.
Pria itu memutuskan membawa sang istri menuju ke villanya. Sampai di sana keduanya langsung turun dan masuk ke dalam. Edgar mengajak istrinya duduk di sofa, dia mengeluarkan cincin di sakunya. Pria tampan itu menyematkan ke jari sang istri begitu juga sebaliknya.
"Welcome home my wife. " ucap Edgar dengan senyuman lebarnya.
"Thanks hubby. " Lizzie langsung mencium suaminya kemudian masuk ke dalam pelukan Edgar. Keduanya tampak bahagia setelah menikah kembali meski belum mengadakan pestanya.
Keduanya sama sama tak peduli dengan pandangan orang lain. Lizzie begitu menikmati waktu Bersama Edgar, pria yang kembali menjadi suaminya.
"I love you boo. " ucap Lizzie menatap penuh cinta sang suami.
"Love you too Baby! " Edgar mengangkat tubuh istrinya ke atas pangkuannya. Wanita cantik itu melepaskan kancing kemeja sang
suami.
Dua insan suami istri itu kembali berciuman dengan mesra.Lizzie mengalungkan tangannya ke leher sang suami tercintanya. Edgar memeluk pinggang istrinya dengan posesif.
Gairah Edgar melambung tinggi, dia tak mampu menahannya lagi. Pria itu lekas bangkit, membawa istrinya menuju ke kamar.
Sore harinya keduanya baru selesai mandi dan keramas. Setelah berpakaian Edgar membantu istrinya mengeringkan rambut. Lizzie menoleh, wanita cantik itu memeluk tubuh sang suami.
"Gimana kalau kita honeymoon
boo? " tanya Lizzie.
"Memangnya kamu ingin ke mana baby?
__ADS_1
"Kota Asveille, Negara Z. " cetus Lizzie.
"Baiklah aku setuju denganmu
baby, berangkatnya besok lusa. " jawab Edgar sambil mencium kening istrinya. Lizzie mengangguk, keduanya saling melepaskan diri.
"Maaf Tuan, Nyonya di luar ada Tuan Dirga. " ujar sang pelayan. Edgar dan Lizzie segera ke luar dari kamar mereka. Mereka berdua menghampiri Dirga yang berada di ruang tamu.
Lizzie langsung memperkenalkan dirinya pada Dirga dan tunangan pria itu yang di ketahui bernama Cecilia atau Sisil.
"Jadi kalian sempat bercerai dan sekarang sudah menikah lagi Ed? " tanya Dirga memastikan.
"Ya kau benar, kami bercerai karena salah paham. Ada campur tangan dari Evelyn yang sengaja membuat hubungan kami rusak. " ujar Edgar dengan nada datarnya.
"Kisah kalian begitu rumit ya, mengingatkan aku di masa lalu. " cetus Sisil dengan lirikan tertuju pada Dirga. Dirga mengaruk kepalanya yang tak gatal, dia hanya bisa tersenyum memperlihatkan giginya.
"Kenapa Dirga? " tanya Lizzie tak mengerti.
Edgar merangkul bahu sang istri, dia sedikit menjelaskan permasalahan Dirga dan Sisil dulunya. Lizzie hanya mengangguk, dia tak lagi bertanya.
Lizzie memilih mengobrol dengan Sisil. Kedua wanita itu mulai akrab dan sepertinya memang sefrekuensi. Edgar lekas bangkit, mengajak sahabatnya itu menuju ke ruangan kerjanya.
"Bukankah wanita itu mantan istri mendiang Edward, mereka memiliki satu anak perempuan namanya Friska. " Sisil tengah mengatakan apa yang dia ketahui dan meyakinkan Lizzie agar percaya pada Edgar.
Lizzie mengangguk, dia jadi ingin bertemu dengan si kecil Friska. Dia memang membenci sosok Evelyn namun tidak dengan putri dari wanita itu. Terdengar suara helaan nafas panjang ke luar dari bibir Lizzie. Wanita cantik itu menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Tenanglah Liz, Evelyn tak akan menganggu lagi rumah tanggamu dengan Edgar. " ujar Sisil dengan serius.
"Kalau ada ulat bulu yang berniat menggoda suamimu, kau cukup perlu menampar dan menjambak rambutnya. " ceplos Sisil yang di tanggapi tawa oleh Lizzie.
Mereka kembali mengobrol, kali ini keduanya membicarakan tentang Edgar dan Dirga. Lizzie hanya diam saat mendengar keluh kesah Sisil mengenai Dirga.
Di sisi lain di kediaman Harold, mommy Shella tampak marah besar. Wanita paruh baya itu tak bisa menghubungi nomor sang anak. Tuan Farhan menghela nafas panjang, dia tak bisa melakukan apapun saat ini.
"Mom, sudahlah jangan marah marah terus. Ini sudah menjadi keputusan Lizzie. " tegur Tuan Farhan pada sang istri.
__ADS_1
"Lizzie itu seperti tak menghargai kita Daddy, sekarang nomornya tak bisa kita hubungi sekarang. " dumel nyonya Shella.
Dering ponsel milik Tuan Farhan menyita perhatiannya. Pria paruh baya itu langsung mengeluarkan ponselnya, membaca pesan yang masuk.
"Lizzie dan Edgar sudah kembali menikah mom. " ungkap Tuan Farhan yang membuat nyonya Shella terkejut.
"Lizzie itu benar benar keterlaluan Daddy. " keluh Nyonya Shella.
"Cukup mommy. " bentak Tuan Farhan yang kehilangan kesabarannya. Nyonya Shella mengatupkan bibirnya rapat, dia pasrah kala tubuhnya di tarik untuk duduk.
Suasana terasa dingin, tak ada obrolan lagi di antara suami istri tersebut. Tuan Farhan menghela nafas panjang,mengontrol dirinya yang lepas kendali.
"Dengarkan Daddy, biarkan Lizzie dengan keputusannya sendiri. Dia yang menjalani hidupnya, lagipula mommy tak berhak mengaturnya karena putri kita sudah DEWASA! " ujarnya penuh penekanan pada kata dewasa.
Nyonya Shella berdecak pelan, dia meras suaminya terlalu membela anak mereka. Wanita paruh baya itu mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada seseorang. Tuan Farhan menggelengkan kepalanya, dia berharap istrinya mau mengerti kali ini.
Back to back
Malam harinya Lizzie dan lainnya kini berkumpul di meja makan. Wanita itu tampak senang, rileks dan santai. Dia lantas melayani sang suami dengan suka cita.
"Kalian romantis sekali membuatku iri. " ceplos Sisil. Lizzie memang harinya dengan senyuman.
"Kau bisa bermesraan dengan tunanganmu itu Sil. " sahut Edgar yang tengah melirik Dirga sahabatnya.
"Dia masih di mabuk mantan, gak usah ajak dia Ed. " sahut Sisil dengan wajah masamnya. Edgar tergelak mendengar omongan Sisil barusan. Dirga sendiri hanya diam, dia merasa selalu salah di mata Sisil. Kali ini pria itu mengaku salah dan membiarkan kekasihnya terus mengolok dirinya.
Mereka melanjutkan makan malamnya. Edgar meminta keduanya menginap, Sisil tentu saja setuju. Wanita itu membantu Lizzie membereskan meja. Sementara para pria langsung pergi ke kamar masih masing.
Seusai dari dapur Lizzie langsung naik ke lantai dua menyusul sang suami di kamar mereka. Wanita itu turut membaringkan tubuhnya di sebelah sang suami. Edgar membawa istrinya ke dalam pelukan hangatnya.
"Aku sangat yakin mommy pasti marah besar sama aku boo! " gumam Lizzie.
"Bagaimana kalau kita temui mommy dan daddy besok? " tawar Edgar.
"Enggak usah Boo, kita temui mami aja. Aku kangen sama mami Diora. " ungkap Lizzie sambil tersenyum. Edgar mencium kening wanitanya dengan lembut. Lizzie tersenyum, mereka kembali melanjutkan obrolan random mereka.
__ADS_1
Merasa mengantuk, keduanya segera memejamkan mata masing masing.
.