
Sebelum bertemu Alexa, Lizzie membersihkan diri lebih dulu.
Selesai dengan aktivitasnya, Lizzie segera berpakaian dan menemui sang sepupu di ruang tamu.
"Liz, kenalkan ini suamiku Gavin. " ujar Alexa.
"Aku Lizzie. "
"Gavin. " jawab Gavin singkat. Fokus Lizzie kini tertuju pada perut buncit Alexa. Alexa menjelaskan apa yang dia alami selama ini pada Lizzie.
Lizzie cukup prihatin dengan apa yang di alami Alexa. Dia telah memaafkan kesalahan sang sepupu.
"Terimakasih telah memaafkan aku Liz. " gumam Alexa dengan tatapan berkaca kaca. Lizzie langsung memberinya pelukan, kedua wanita itu saling meminta maaf satu sama lain dan memilih berdamai.
"Rencananya aku ingin bertemu mami dan papi. " ungkap Alexa.
"Kau yakin Alexa? " tanya Lizzie dengan ragu. Alexa mengerutkan kening tak mengerti. Lizzie hanya menggeleng, dia memberikan nasehat pada sepupunya itu.
Kedua wanita itu berbincang ringan di sana. Pelayan datang menyajikan. camilan untuk ketiganya.
"Lalu bagaimana hubungan mu dengan Edgar, Liz? " tanya Alexa.
"Kami sudah bercerai Alexa." ungkap Lizzie sambil tersenyum. Alexa tentu saja sangat terkejut mendengar pengakuan Lizzie. Dia memilih mengalihkan pembicaraan, tak ingin membuat sepupunya larut dalam kesedihan.
Lizzie menghela nafas panjang, dia merasa iri melihat Alexa telah menemukan bahagianya bersama pria yang dia cintai. Dia juga menginginkan hidup bahagia bersama suami, hamil dan merasakan mual muntah seperti awal kehamilannya yang pertama dulu.
Lizzie POV
Ya tuhan seandainya kecelakaan itu tak terjadi, mungkin saja bayiku sudah lahir ke dunia. Aku memang ibu ceroboh dan tak pantas menjadi seorang ibu. Menjaga calon bayiku sendiri saja tak mampu. Rasanya aku sangat takut jika kehilangan lagi, apa aku ini memang wanita pembawa sial?
Lizzie POV end.
Dering ponsel nya menyita perhatiannya. Lizzie langsung menyambarnya segera menerima panggilan telepon.
"Halo Mommy, ada apa? " tanya Lizzie.
__ADS_1
"Paman kamu mengamuk di mansion Daddy nak. " ujar mommy Shella. Lizzie membulatkan mata, dia segera menutup sambungannya. Wanita itu memberitahu Alexa, mereka bertiga sama sama pergi ke mansion Harold.
Skip
Di Mansion Harold
Mereka bertiga langsung masuk ke dalam. Lizzie langsung membantu sang Daddy, dia begitu marah pada sang paman.
"Kenapa paman justru mengamuk pada daddy? " desak Lizzie.
"Daddy kamu dengan kurang ajar nya membuat perusahaan paman kehilangan klien. " geram Tuan Dom dengan tatapan penuh kemarahan.
"Mungkin paman yang salah, yang tak becus mengurus perusahaan. " ujar Lizzie.
"Kau. " Tuan Dom melayangkan tangannya namun di cekal oleh Alexa. Pria paruh baya itu menoleh, terkejut dengan kehadiran putrinya yang telah lama dia cari.
"Kenapa Papi terus berbuat ulah, harusnya papi juga instrospeksi diri. " ujar Alexa.
Tuan Dom masih terkejut, fokusnya tertuju pada perut putrinya. Hal yang sama di rasakan Nyonya Desi melihat putrinya setelag sekian lama. Alexa menurunkan tangan sang papi, dia memberitahu agar berbicara di ruang tamu dengan kepala dingin.
"Kenalkan ini Gavin suamiku dan aku sedang hamil calon anak kami. " ujar Alexa membuat semua orang terkejut mendengarnya.
"Apa kamu sudah tak menganggap kami orang tua hingga pergi tanpa kabar Alexa? " ujar Tuan Dom dengan nada dinginnya.
Alexa menghela nafas panjang, dia berusaha menjelaskan namun kedua orang tuanya tak mau dengar. Wanita hamil itu memilih diam, tuan Dom kembali marah pada Tuan Farhan.
"Bukan karena aku, klienmu cabut Dom. Tapi karena kau sendiri yang suka berfoya foya hingga rugi milyaran. " ujar Tuan Farhan.
"Tutup mulutmu Farhan. " bentak Tuan Dom emosi. Tuan Farhan berdecak pelan, segera mengusir Tuan dom dan istrinya dari kediaman Harold.
Alexa sendiri meminta maaf atas kelakuan orang tuanya pada Uncle dan aunty nya. Dia juga meminta maaf atas kesalahannya selama ini. Nyonya Shella tentu saja memaafkan sang keponakan. Wanita paruh baya itu tak ingin menyimpan dendam lama lama dalam hatinya.
"Sekali lagi maafkan atas sikap orang tua saya Uncle. " ucap Alexa dengan sungguh sungguh. Tuan Farhan menghela nafas panjang, mengangguk sebagai jawaban.
Alexa bisa bernafas lega setelah mendapatkan maaf dari orang orang yang dia sakiti dulu. Gavin menyela obrolan, dia menawarkan kerjasama dengan Uncle Farhan. Tuan Farhan tentu saja menyambut positif, kedua pria itu lantas beranjak dan pergi ke ruangan kerja Tuan Farhan.
__ADS_1
Alexa meringis pelan, Nyonya Shella langsung mendekat. Dia meminta keponakannya itu untuk tenang dan tak memikirkan apapun saat ini.
"Tenangkan diri kamu Alexa, fokus saja pada bayi dalam kandungan kamu nak! " ujar nyonya Shella.
"Iya Aunty. " jawab Alexa sambil tersenyum. Wanita hamil itu langsung memeluk sang aunty, melepaskan rindunya. Lizzie yang melihatnya mengulum senyumnya melihat sang mommy dan Alexa telah berbaikan.
Alexa melepaskan pelukannya, dia membiarkan nyonya Shella mengusap perut buncitnya. Mereka kembali mengobrol dengan santai. Canda tawa mewarnai obrolan mereka. Lizzie sering menjahili Alexa membuat bumil merasa malu.
Sorenya Alexa pergi ke taman belakang mansion sang bibi. Wanita hamil itu sangat suka dengan suasana dingin dan adem. Gavin datang menyusul wanitanya, pria itu turut duduk di sebelah sang istri.
"Kok ke sini mas, memangnya sudah selesai bicaranya dengan Uncle Farhan? " tanya Alexa.
"Sudah sayang. " jawab Gavin dengan lembut.
Alexa menyandarkan tubuhnya di kursi sambil mengusap perutnya. Dia kembali merasakan pergerakan dari dalam perutnya. Gavin mencium kening istrinya dengan lembut, turut menyentuh perut sang istri.
"Mas aku kecewa sama papi dan mami. Kenapa mereka justru marah sama aku, harusnya menanyakan perihal keadaanku. " gumam Alexa dengan nada kecewanya.
"Sepertinya mereka tak pernah sayang sama aku. " lanjutnya lirih.
"Hust jangan berbicara seperti itu sayang, mereka tetaplah orang tuamu. " tegur Gavin. Alexa terisak pelan, Gavin langsung membawanya ke pelukan nya. Pria tampan itu menghela nafas panjang, membiarkan istrinya menangis.
Setelah beberapa menit Alexa mulai tenang. Wanita itu lantas mengusap air matanya dengan cepat.
Sementara di ruang tamu Lizzie berbicara serius dengan kedua orang tuanya.
"Sayang mommy sangat setuju jika kamu bersama Jonathan. " ungkap nyonya Shella pada putrinya. Lizzie terdiam, dia kehilangan kata kata setelah mendengar pengakuan sang mommy. Tangannya terkepal kuat, dia berusaha menahan dirinya untuk tak berkata keras.
"Tapi bagaimana dengan perasaanku mom, cinta tak bisa di paksakan. " ungkap Lizzie dengan wajah datarnya.
"Sayang mommy yakin jika lambat laun kau pasti akan mencintainya. " bujuk Mommy Shella.
"Mom aku sudah dewasa, yang menjalani itu aku mom bukan mommy. " tegas Lizzie. Wanita itu lantas mengambil tasnya kemudian lantas bangkit dan pergi begitu saja.
Mommy Shella tak berkutik mendengar jawaban dari putrinya. Tuan Farhan hanya bisa menghela nafas panjang tanpa mengatakan apapun.
__ADS_1