
Paginya banyak tamu yang telah berdatangan di kediaman Harold. Saat ini Lizzie tengah make up di dalam kamar. Gadis itu telah mengenakan gaun pengantin nya berwarna putih. Setelah selesai make up, orang tua Lizzie datang menjemput.
Lizzie segera bangkit, menghampiri keduanya. Tuan Farhan terenyuh melihat sang anak sebentar lagi akan menikah. Keduanya langsung berjalan bersisian dengan Lizzie, mengantarnya menuju ke altar pernikahan.
"Edgar, Om serahkan putri om pada kamu. Tolong jaga dia dan bahagiakan dia. " pinta Tuan Farhan pada calon menantunya. Edgar segera menggenggam tangan pengantinnya.
"Aku janji akan menjaganya om! " gumam Edgar. Lizzie merasa malu kala calon suaminya terus memandangi dirinya. Kini mereka berdiri berhadapan dengan pastur.
Pastur mulai membacakan doa doa untuk keduanya. Edgar bisa merasakan jika calon istrinya tampak gugup saat ini. Pria itu langsung membisikkan sesuatu di telinga Lizzie.
"Saudara Edgar Glover bersediakah engkau menerima Lizzie Harold sebagai istri anda dalam keadaan apapun? "
"Ya saya bersedia!
"Saudari Lizzie Harold bersediakah engkau menerima saudara Edgar Glover sebagai suami Anda dalam keadaan apapun? "
Lizzie menghela nafas panjang, dia berusaha mengontrol dirinya yang tampak gugup.
"Saya bersedia. "
"Mulai sekarang hubungan kalian telah resmi menjadi suami istri. " ucap pastur.
"Silakan sematkan cincinnya, Anda bisa mencium pasangan Anda
Tuan. "
Edgar menyematkan cincin ke jari istrinya begitu pula sebaliknya. Pria itu membuka tudung kepala sang istri kemudian merapatkan tubuh mereka. Dia memagut lembut bibir Lizzie yang terasa manis itu.
Lizzie membalas ciuman sang suami bertepatan dengan suara sorakan dan tepukan tangan. Edgar langsung mengakhiri ciuman mereka dengan tak rela. Gadis itu tampak merona, menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami. Tangan Edgar membelit pinggang ramping sang istri.
Gadis itu menjauhkan wajahnya, menatap lekat pria yang menjadi suaminya sekarang. Dia merasa Edgar sangatlah tampan dan gagah memakai tuxedo seperti sekarang.
"Kau sangat tampan. " ceplos Lizzie yang membuat sudut bibir Edgar terangkat. Lizzie sendiri merutuki kebodohannya, bagaimana bisa dia keceplosan.
Keduanya kini menyalami para tamu yang memberikan selamat untuk mereka. Gadis itu menyeringai miring melihat keluarga pamannya datang mendekatinya. Dia langsung merapatkan tubuhnya pada sang suami.
__ADS_1
"Bagaimana paman, sekarang aku telah menikah dengan Edgar. Apa paman tak berniat memberikan selamat pada kami? " tanya Lizzie sambil tersenyum.
"Selamat atas pernikahan kalian berdua. " ujar Paman Dominic. Pria paruh baya itu mengucapkan sesuatu di depan sang keponakan dengan pelan setelah itu pergi dari sana.
"Pria tua tak tahu diri, jika bukan pamanku sudah aku bogem dia. " gumam Lizzie dengan nada kesalnya.
"Kita bisa mewujudkan ide yang di berikan pamanmu itu baby? " bisik Edgar dengan seringai miringnya. Lizzie menoleh, menatap lekat pria yang menjadi suaminya.
Gadis itu mengatupkan bibirnya, entah apa yang tengah di pikirkan nya saat ini.
Pesta berlanjut hingga malamnya. Edgar mengajak istrinya berdansa, malam ini mereka menjadi raja dan ratu sehari. Semua mata kini tertuju pada mereka berdua. Lizzie tersenyum lebar, menikmati setiap moment bersama Edgar, suaminya.
Larut malam pesta itu baru usai. Pasangan pengantin baru itu pamit ke kamar. Lizzie menunjukkan kamarnya pada sang suami. Gadis itu membuka satu persatu hadiah dari teman temannya. Setelah mendapat apa yang dia dapat, Lizzie langsung pergi ke kamar mandi.
Beberapa saat berlalu
Edgar membulatkan mata melihat istrinya datang dengan lingerie yang sangat seksi. Lizzie menyemprotkan pewangi ketubuhnya kemudian berjalan kearah sang suami. Sepertinya dia perlu melakukan apa yang di katakan pamannya tadi.
"Aku harus mempertahankan semuanya termasuk perusahaan daddy! " gumam Lizzie dalam hati.
"Apa kau yakin ingin melakukannya Lizzie? " tanya Edgar memastikan.
"Iya Boo, bantu aku. " jawab Lizzie dengan mantap. Edgar langsung memagut bibirnya dengan liar. Pria itu mengangkatnya, membawanya ke atas ranjang. Dengan tak sabaran Edgar merobek gaun transparan itu dengan brutal.
Malam ini Lizzie memberikan hak sang suami dengan suka rela. Di awal terasa sakit namun lambat laun Lizzie menyukai sentuhan sang suami. Edgar akan menggempur istrinya hingga pagi nanti.
Skip
Keesokan harinya cahaya mentari mengusik tidur lelap sepasang suami istri ini. Lizzie terbangun dengan tubuh terasa remuk. Gadis itu mengeratkan pelukannya di tubuh kekar Edgar.
Edgar turut membuka matanya, fokusnya tertuju pada makhluk cantik dalam pelukannya. Bibirnya terangkat, melengkung membentuk senyuman samar.
"Pagi baby! "
"Pagi Boo, rasanya tubuhku remuk semuanya. Aku harap pengorbanan aku ini tak sia sia Boo mengingat perjanjian kita tak.. " ucapan Lizzie terhenti kala Edgar menciumnya. Pria itu mengakhiri ciumannya, menatap lekat wajah sang istri.
__ADS_1
"Kau milikku selamanya, aku tak akan membiarkan kamu lepas begitu saja. " gumam Edgar dengan seringai miringnya. Pria itu mendekatkan wajahnya, mencium kening sang istri dengan lembut.
Glek
Lizzie merasakan bila Edgar sangat serius dengan ucapannya. Wanita itu menatap dalam wajah tampan sang suami. Entah kenapa dia merasa begitu percaya dengan pria yang baru dia kenal ini.
Edgar menyibak selimutnya, dia kembali mengulang kegiatan mereka semalam.
Dua jam berlalu selesai berpakaian, mereka baru turun ke bawah. Edgar memperhatikan langkah sang istri, dia sangat tahu jika wanitanya masih kesakitan. Keduanya segera bergabung dengan orang tua Lizzie.
"Pagi mommy, pagi Daddy. " sapa Lizzie dengan wajah cerianya.
"Pagi juga sayang. " sahut mommy. Mereka berempat melakukan aktivitas rutin mereka seperti biasa di atas meja makan.
Setelah beberapa menit, Edgar dan Lizzie langsung pamit. Keduanya akan tinggal di rumah baru milik Edgar. Keduanya ke luar dari mansion, masuk ke dalam mobil dan melesat jauh.
Lizzie begitu penasaran, ke mana suaminya akan membawa dirinya. Namun yang pasti dia akan ikut kemanapun Edgar pergi.
Perjalanan memakan waktu tiga puluh menit lamanya. Kini mereka akhirnya sampai, keduanya langsung turun. Edgar menggandeng istrinya masuk ke dalam Villa, dia mengenalkan istrinya pada para pelayan. Lalu mereka berkeliling menjelajahi seluruh ruangan.
"Boo, sebenarnya ini Villa siapa? " tanya Lizzie penasaran.
"Villa milik mendiang kakekku. " jawab Edgar sambil tersenyum. Lizzie menatap suaminya dengan tatapan curiga nya namun dia memilih percaya. Keduanya kini memasuki kamar utama yang memiliki ruangan sangat luas.
Lizzie pergi ke balkon, berdiri sambil merentangkan kedua tangannya. Edgar memeluknya dari belakang, menikmati aroma strawberry dari tubuh sang istri. Wanita cantik itu menoleh, mengalungkan tangannya ke leher sang suami.
"Boo kamu sudah mengenal aku dan keluargaku, tapi aku sedikitpun tak mengenal kamu. " gumam Lizzie mengungkapkan isi hatinya.
"Apa kau malu memiliki suami miskin sepertiku baby? " tanya Edgar yang mendapatkan gelengan dari Lizzie.
"Bukan, hanya saja aku tak ingin ada hal yang di tutupi dari kamu. Jika kamu enggak mau bilang, aku tak akan memaksa. Asalkan apapun yang terjadi jangan tinggalkan aku Boo! " pinta Lizzie penuh harap.
"Untuk saat ini kamu cuma menjadi partnerku untuk membantuku melawan paman Dominic. Aku harap kamu tak seperti pria di luaran sana yang pergi begitu saja setelah mendapat apa yang dia mau. " pungkas Lizzie.
Edgar terdiam. Entah apa yang tengah dia pikirkan saat ini. Namun dia merasa kagum dengan keberanian yang istrinya miliki. Lizzie merupakan. Gadis yang mandiri, dia tegar dan juga tak mudah di tindas.
__ADS_1