Suami Lima Milyar

Suami Lima Milyar
Bab 32 Kelucuan Harvey


__ADS_3

Sorenya Harvey pulang bersama Edgar, bocah tampan itu mendapat mainan dari oma dan opanya. Edgar mengantar putranya menuju ke kamar, mereka membersihkan diri lebih dulu.



Visual Si kecil Harvey Damon


Edgar yang telah selesai berpakaian membantu Harvey memakai kaosnya. Setelah itu mengajak putra kecilnya turun untuk menemui Lizzie.


"Sore mommy. " ucap Harvey mencium pipi sang mommy.


"Sore juga sayang. " Lizzie menciumi pipi chubby anaknya itu dengan gemas. Edgar menurunkan Harvey, dia membiarkan putranya bermain mobil mobilan yang di bawa.


Edgar menciumi istri dan menyapa calon buah hati mereka di dalam perut Lizzie. Lizzie mengusap kepala suaminya dengan penuh kelembutan.


"Gimana tadi pekerjaan kamu lancar 'kan di kantor? " tanya Lizzie pada sang suami.


"Lancar kok sayang, tapi besok ada klien aku yang datang dari Amerika. " ungkap Edgar.


"Temui aja, beliau kan klien penting kamu Boo! " ujar Lizzie yang di angguki Edgar. Dering ponsel menyita perhatiannya. Wanita hamil itu meraih ponselnya.


"Halo Sekar ada apa? " tanya Lizzie pada sang asisten.


"Ada undangan buat nyonya di peragaan busana. Bagaimana menurut Anda nyonya Lizzie? " tanya Sekar.


"Memangnya kapan? " tanya Lizzie.


"Besok siang nyonya. " jawab Sekar dengan ramah. Lizzie langsung berbicara dengan sang suami kemudian memberikan persetujuan pada Sekar.


Tut


Lizzie menaruh ponselnya di atas meja. Rencananya dia besok akan datang ke peragaan busana di temani sang suami tercinta.


"Sayang sepertinya kamu fokus aja pada klien kamu. Besok aku akan di temani Sekar. " bujuk Lizzie pada sang suami.


"Janji ya kamu harus jaga diri baik baik baby. " pinta Edgar yang di angguki istrinya. Mereka kembali berpelukan dengan mesra. mereka kembali memperhatikan tingkah polah Harvey yang tampak lucu.


Edgar lekas bangkit, mengajak putranya ke halaman belakang. Mereka bermain bola bersama, Lizzie tentu saja menyusul dan memperhatikan suami dan anaknya. Wanita hamil itu memilih duduk di kursi sambil meminum tehnya sambil memperhatikan suami dan anaknya.


"Mommy aku haus. " Harvey merengek menghampiri sang mommy. Lizzie lekas bangun, dia mengajak putranya menuju ke dapur.

__ADS_1


"Ini sayang minum susunya. " ujar Lizzie. Harvey meneguk susu yang di berikan sang mommy.


"Sudah habis mommy. "


"Ya sudah kamu panggil Daddy, ajak mandi lagi. " ujar Lizzie. Harvey berlari kearah Edgar. Lizzie mengulas senyumnya, dia kembali ke ruang tengah. Wanita hamil itu menyalakan televisi, memindah channel dengan cepat.


Dia memperhatikan tayangan gosip yang cukup panas saat ini. Lizzie menatap tak asing wanita yang menjadi sorotan media saat ini.


"Mungkin hanya sekadar mirip. " gumam Lizzie yang tak mau berpikir apapun. Wanita hamil itu memindah channel lain, memilih menonton kartun.


Lizzie mengambil ponselnya, mencari tahu siapa artis terkenal di televisi itu. Dia membaca perihal informasi mengenai wanita tersebut melalui laman web.


"Kenapa wajah Harvey mirip dengan artis wanita ini. " gumam Lizzie.


"Enggak, Harvey sekarang putraku dengan Edgar. Mungkin saja ini hanya kebetulan semata. " batin Lizzie. Wanita hamil itu mencoba tak memikirkan sesuatu yang belum pasti.


Lizzie menyandarkan tubuhnya ke sofa sambil memijit pelipisnya.


Lizzie POV


Aku sangat sayang dengan Harvey, dia sudah aku anggap seperti putra kandungku sendiri. Kehadiran dirinya dalam rumah tanggaku dan Edgar semakin berwarna. Rasanya aku tak sanggup jika harus berpisah dengan putra kecilku itu. Aku telah berjanji akan memberimu kasih sayang yang melimpah untuk Harvey. mommy sangat sayang sama kamu Harvey, meski kamu tidak terlahir dari rahim mommy nak.


Lizzie mengusap wajahnya kasar. Dia langsung bangkit, menyusul suami dan putranya di dalam kamar Harvey. Wanita hamil itu menghampiri putranya yang asyik menggambar di atas ranjang.


"Sayang kamu lagi apa hm? " tanya Lizzie mengusap kepala Harvey dengan lembut.


"Lagi gambar mommy. " jawabnya sambil tersenyum. Lizzie pun memperhatikan nya dengan lekat. Beberapa menit berlalu Harvey menyerahkan gambarnya pada sang mommy.


"Ini apa sayang? "


"Gambar kita mom, ada Daddy Edgar, ada mommy sambil


menggendong adik bayi dan aku ada di tengah tengah kalian. " ujar Harvey dengan polosnya.


Mata Lizzie berkaca kaca mendengar ucapan putranya barusan. Wanita hamil itu lantas memeluk Harvey yang di balas bocah tampan itu.


Edgar yang melihatnya tersenyum sumringah. Dia begitu menyukai anak dan istrinya yang tampak bahagia. Dia merasa kehadiran Harvey dalam kehidupannya bersama sang istri semakin melengkapi kebahagiaan mereka.


Lizzie melepaskan pelukannya, dia menciumi kening dan pipi sang anak dengan lembut. Harvey tersenyum lebar, memperlihatkan giginya yang tampak rapi.

__ADS_1


"Mommy, Daddy terimakasih telah menyayangi Vey dengan tulus. " ucap Harvey.


"Sama sama sayang, kamu putra kesayangan mommy dan Daddy. " balas Lizzie sambil tersenyum manis.


"Baiklah aku mau menggambar


lagi. " ucapnya dengan antusias. Harvey memilih bermain bongkar pasang di lantai di temani sang daddy.


Canda tawa mewarnai obrolan ayah dan anak tersebut. Lizzie mengulas senyumnya melihat kedekatan sang suami dengan putra mereka.


"Daddy curang. " pekik Harvey dengan bibir cemberutnya. Edgar tergelak kencang saat dirinya berhasil menjahili putranya itu.


"Ayo di tata lagi boy. " jawab Edgar dengan santai. Harvey hanya bisa memukul lengan sang daddy dengan tangan mungil nya. Pria tampan itu dengan sengaja merobohkan mainan yabg sudah di tata sedemikian oleh Harvey.


"Boo jangan jahili putra kita. " tegur Lizzie yang di tanggapi kerlingan nakal dari suaminya. Lizzie hanya menggeleng geli melihat tingkah sang suami tercinta.


Kembali terjadi perdebatan antara ayah dan anak itu. Harvey yang kesal memukuli tubuh sang daddy, dia tampak sangat kesal selalu di jahili daddy-nya.


Haha


Tawa Edgar langsung pecah melihat wajah cemberut putranya. Dia langsung membantu sang anak dan membujuknya agar tak ngambek lagi.


"Kali ini Daddy tak akan menjahili kamu boy, daddy janji! "


"Daddy janji kan? " tanya Harvey yang di angguki Edgar.


Lizzie yang hanya melihat keduanya hanya mampu menghembuskan nafas panjang. Dia tak habis pikir dengan suaminya yang sangat suka menjahili Harvey.


Bibir nya tak henti hentinya melengkung membentuk seulas senyuman. Tangannya terulur menyentuh perutnya, mengajak bicara calon buah hatinya dengan penuh kasih sayang.


Suara ketukan pintu membuat fokusnya teralihkan. Lizzie lekas bangkit dan ke luar dari kamar sang anak. Dia memanggil sang suami dan anaknya kemudian turun ke bawah lebih dulu.


"Veronica. " Lizzie langsung memeluk sahabatnya kemudian duduk di sofa.


"Aku kesini membawakan mainan untuk Harvey. " ujar Veronica sambil tersenyum lebar.


"Boy sini mendekat ke aunty. " pinta Veronica yang di turuti Harvey. Bumil itu langsung menyerahkan banyak mainan untuk sang keponakan.


"Padahal oma dan opa juga telah memberikan Harvey mainan, Ve! " ungkap Lizzie.

__ADS_1


"Enggak papa, aku senang aja bisa membelikan mainan untuk Harvey, keponakan tampanku! "


__ADS_2