
Hari berikutnya Jessica datang membawa pengacara. Kedatangan wanita itu tentu saja membuat Landon dan Nara terkejut.
"Seperti yang sudah di putuskan hakim, Harvey akan berada dalam pengasuhanku. " ujar Jessica dengan wajah sombongnya.
"Aku tak akan membiarkan putraku bersamamu Jes, kau tak mampu menjadi mommy nya Harvey. " sahut Landon dengan lirikan tajam nya.
"Cih, lalu bagaimana dengan kau Landon. Dulu kau pria pengecut yang tak mau bertanggung jawab. " ketus Jessica dengan nada datar nya.
Pengacara dari Jessica langsung menjelaskan yang terjadi. Wanita itu tersenyum penuh kemenangan melihat Landon tak memiliki kuasa atas Harvey.
Terjadi perdebatan sengit antara pihak Jessica dan pihak Landon. Jessica tampak tersenyum puas, setelah selesai dia mengajak Harvey ikut bersamanya setelah berbisik sesuatu di telinga putranya.
"Ikut mommy atau mommy akan mencelakai orang tua angkatmu. " bisik Jessica di telinga si kecil Harvey.
Bocah tampan itu tampak berkaca kaca, dia pun mengangguk pasrah. Jessica tersenyum puas, dia langsung menggandeng nya ke luar dari mansion Landon. Landon dan Nara tentu saja mengejarnya.
Keduanya masuk ke dalam mobil dan melesat pergi. Landon langsung mengikuti mereka dengan kecepatan sedang.
"Ya Tuhan Harvey, mami harap kamu baik baik saja sayang. " gumam Nara panik.
Setelah mengikuti sang anak cukup jauh merekapun berhenti. Keduanya tampak terkejut melihat mobil Jessica menabrak.
"Harvey. " teriak Landon dan Nara secara bersamaan. Mereka berlari kearah mobil Jessica. Landon lekas membantu putra nya ke luar, mereka tampak panik melihat darah ke luar dari kepala sang anak.
Landon lantas mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi ambulan. Nara sendiri menangis histeris mihat putra sambungnya terkapar tak berdaya.
Beberapa menit berlalu ambulan datang, mereka lantas membawa Jessica dan Harvey ke dalam ambulan. Mereka semua langsung pergi ke rumah sakit.
Skip
__ADS_1
Di rumah sakit
"Putra kita hiks. " Nara menangis dalam pelukan Landon. Mereka tampak hancur melihat keadaan Harvey tadi. Saat ini dokter tengah menangani keadaan si taman Harvey.
Landon sama hancurnya seperti Nara. Mereka benar benar sangat takut kehilangan Harvey.
Beberapa jam kemudian Dokter ke luar. Landon melepaskan pelukannya lalu mengajak Nara menghampiri sang dokter.
"Bagaimana keadaan putra kami dokter? " tanya Landon.
"Maaf kalau saya harus mengatakan hal ini. " ujar dokter.
"Putra kalian dalam keadaan koma sementara wanita yang bersama putra kalian mengalami kelumpuhan pada kakinya. " ungkap Dokter.
Jder
Bagai di sambar petir di pagi hari. Landon dan Nara begitu terkejut dengan pengakuan Dokter. Nara kembali menangis histeris, tak kuasa mendengar keadaan Harvey, putra sambungnya. Landon sendiri tampak terkejut, dia turut menangis.
"Kita telah gagal menjaga Harvey, sayang. " gumam Nara dengan nada lirihnya.
Landon membalas pelukan sang kekasih hati. Hanya terdengar suara isakan tangis mereka yang mewarnai suasana saat ini.
Setelah beberapa menit mereka lantas berdiri dan pergi ke ruangan Harvey. Hati Nara mencelos setelah masuk ke dalam. Wanita itu lantas mendekat kemudian menggenggam tangan sang anak.
"Mami Nara dan Papi ada di sini sayang. Maafin kami yang gagal melindungi kamu nak. " gumam Nara dengan nada putus asa nya.
Landon turut duduk di sebelahnya, dia mengusap kepala sang anak dengan tatapan sendunya. Rasa sesak kini menghantam dadanya melihat tubuh lemah putranya.
Nara berulang kali menciumi telapak tangan mungil putranya. Dia terus mengajak sang anak bicara. Sesekali dia menghapus air matanya dengan kasar.
__ADS_1
Siangnya sekitar pukul satu, Lizzie dan Edgar datang. Lizzie turut menangis, melihat keadaan Harvey saat ini. dia juga turut mengajak bicara putra angkatnya itu.
Setelah puas, mereka duduk di sofa mengobrol. Nara menjelaskan kejadiannya pada Lizzie dan Edgar.
"Kami telah gagal melindungi Harvey dari Jessica. " gumam Nara dengan nada penyesalan.
"Ini bukan salah kalian Nara, Landon. Saat ini fokus kita hanya kesembuhan dan Harvey sadar dari komanya. " sahut Lizzie dengan bijak.
Wanita itu mengusap air matanya. Dia tak menyangka sang anak akan mengalami hal mengerikan seperti ini.
Lizzie POV
Harvey sayang, segeralah sadar nak. Mommy, Daddy, Papi dan mami kamu begitu sayang pada kamu. Bukankah kamu ingin sering bermain dengan Arion dan Gyana. Mommy tak sanggup melihat kamu dalam keadaan koma seperti ini sayang. Mommy Lizzie ingin lihat kamu tertawa seperti biasanya. Kami semua sangat sayang sama kamu dan cepat lah sadar sayang!
Lizzie POV end.
Dia memilih memeluk suaminya, berusaha menahan air matanya yang hampir ke luar lagi dan lagi. Edgar menghela nafas berat, mengusap punggung bergetar istrinya. Apa yang di alami Harvey saat ini menjadi kesedihan semua orang.
Pria itu melepaskan pelukannya, dia membiarkan istrinya beranjak. Lizzie mendekati ranjang putranya. Dia mengusap lembut kepala sang anak, kemudian mendaratkan ciuman di kening Harvey.
"Mommy Lizzie di sini sayang. Kami semua tak akan membiarkan kamu merasa ketakutan dan kesepian. " gumam Lizzie dengan tulus.
"Kamu tak ingin bermain dengan kedua adikmu 'kah? " tanya Lizzie dengan tatapan sendunya.
"Bukankah kamu pernah bilang sayang bila kamu tak akan membiarkan mommy menangis? "
Hiks
Lizzie kembali menangis. Dia menciumi tangan sang anak, saat ini wanita itu duduk di dekat Harvey. Bocah tampan itu masih memejamkan mata hingga saat ini. Tangan Lizzie terulur menyentuh pipi Harvey dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Segeralah sadar sayang, kami semua menunggu kamu. " ucapnya sambil memaksakan tersenyum.
Sementara di ruangan lain, Jessica tampak menjerit histeris. Wanita itu tak terima jika dirinya dalam keadaan lumpuh. Dokter segera memberikan suntikan penenang pada Jessica yang mengamuk.