Suami Lima Milyar

Suami Lima Milyar
Bab 15 Kedatangan Evelyn


__ADS_3

Hari berikutnya, seorang wanita baru turun dari pesawat bersama seorang anak perempuan. Keduanya lekas masuk ke dalam mobil.


"Mami, Apa Daddy tidak menjemput kita? " tanya gadis manis itu.


"Tidak sayang, kita buat kejutan untuk daddy kamu. " balas wanita bernama Evelyn itu. Bocah manis itu mengangguk, sepanjang perjalanan keduanya tampak mengobrol dengan seru.


Evelyn sendiri mengeluarkan ponselnya. dia kini berusaha menghubungi Edgar namun tak bisa. Wanita itu hanya mampu mengumpat dalam hatinya. Dia menyimpan kembali ponselnya dalam tas.


Beberapa menit berlalu Evelyn dan anaknya sampai di penthouse. Keduanya segera turun, wanita cantik itu mengambil kopernya kemudian masuk ke dalam apartemen.


Evelyn segera meminta pelayan mengurus Friska. Sementara dirinya pergi ke kamar. Wanita itu langsung membersihkan diri di kamar mandi kemudian memakai pakaiannya. Evelyn tak menyerah begitu saja, dia berusaha menghubungi Edgar.


"Edgar kemana sih? " ucap Evelyn dengan kesal.


Evelyn hanya mampu mengumpat. Ponselnya kembali berdering, dia langsung mengangkatnya begitu saja.


"Halo? "


"Aku mendapat kabar jika tuan Edgar dan istrinya tengah bertengkar hebat nyonya. " ujar si botak.


"Kau tetap cari informasi mengenai Edgar dan istrinya lalu laporkan padaku. " gumam Evelyn. Wanita itu lantas mematikan sambungan teleponnya. Dia tersenyum sumringah, tak sia sia dia melakukan rencananya dengan sangat rapi.


Evelyn segera bersiap, Wanita itu lekas ke luar dari kamar setelah mengambil tasnya. Dia mengajak putrinya menuju kediaman Glover.


Wanita itu menemui ibu kandung Edgar. Nyonya Diora menyambut kedatangan Evelyn dengan raut terkejutnya. Wanita itu mengizinkan sang tamu masuk ke dalam dan duduk di sofa.


"Bagaimana kabar tante? " tanya Evelyn dengan basa basi nya.


"Saya baik. " jawab Nyonya Diora dengan raut datar nya.


"Oh ya tante, Edgar di mana. Friska ingin bertemu dengan daddy nya. " ujar Evelyn dengan entengnya.


Nyonya Diora tertawa mendengar ucapan Evelyn barusan. Raut wajahnya kembali datar, menatap tajam kearah Evelyn.


"Daddy huh, apa kau seorang pelawak Eve? " tanya Nyonya Diora dengan senyuman menyebalkannya.


Wanita paruh baya itu memanggil Friska untuk mendekat. Dia usap kepala bocah manis itu dengan lembut. Evelyn sendiri merasa was was dengan apa yang ingin di sampaikan nyonya Diora.

__ADS_1


"Dengarkan oma, Uncle Edgar itu bukan daddy kamu sayang. Daddy kamu bernama Edward, dia sudah lama pergi ke surga sana. " ceplos Nyonya Diora pada sang cucu.


"Mami. " pekik Evelyn dengan tatapan tajam nya.


"Enggak mungkin oma, Daddy Edgar itu daddy aku. " pekik Friska sambil menangis.


"Kau mau oma marah sama kamu, oma enggak pernah bohong sama kamu Friska, cucu oma yang cantik. " ujar Nyonya Diora dengan sorot lembut namun tegas.


Si kecil Friska menangis histeris, mommy Diora berusaha menenangkan sang cucu. Evelyn sendiri mengepalkan tangannya melihat kelakuan mantan mertuanya itu.


"Pelayan. " panggil Nyonya Diora. Salah satu pelayan datang, nyonya Diora memintanya membawa Friska menuju ke taman belakang. Setelah kepergian cucunya, fokusnya tertuju pada Evelyn.


"Sayang sekali mendiang Edward harus terjebak dengan wanita liar sepertimu hingga lahirlah Friska, cucuku yang malang. " ujar Nyonya Diora dengan senyuman sinisnya.


"Hentikan mami. " pekik Evelyn


kesal.


"Aku akan mengawasi pergerakan kamu Eve. jika kamu bertingkah melewati batasmu maka aku pastikan hak asuh Friska akan jatuh ketanganku! " tegas nyonya Diora tak main main.


"Jangan mencoba mengancam ku mami, aku tak akan mundur begitu saja. " pungkas Evelyn dengan seringai miringnya. Evelyn lekas bangkit, wanita itu memilih mengajak Friska pulang.


Setelah kepergian Evelyn, nyonya Diora begitu panik. Wanita paruh baya itu langsung mengirim pesan pada sang anak mengenai Evelyn. Terdengar suara helaan nafas panjang ke luar dari bibir Nyonya Diora.


Evelyn telah sampai di penthouse miliknya. Wanita itu tak jarang membentak sang anak saat dirinya kesal. "Friska, kamu bisa diam gak sih mommy pusing nih. " pekik Evelyn jengkel.


Si kecil Friska menangis terisak. Gadis cilik itu turun dari mobilnya dan berlari masuk ke dalam. Evelyn menghela nafas berat, mengumpat pelan dan segera masuk ke dalam.


Evelyn segera naik ke lantai dua, menaruh tasnya di atas meja kemudian mengeluarkan ponselnya miliknya.


"Halo Lus, nanti malam jemput aku ya kita pergi ke club. " ajak Evelyn.


"Iya eh btw kamu kapan baliknya? " tanya Lusi sang sahabat.


"Tadi. " jawab Evelyn singkat. Setelah mengobrol dengan sahabatnya sebentar Evelyn segera menutupnya.


Tepat pukul tujuh malam Evelyn sibuk bersiap siap. Friska datang ke kamar sang mommy, memperhatikan kegiatan ibunya itu.

__ADS_1


"Mommy mau ke mana? " tanya Friska dengan polosnya.


"Mau pergi, kamu di sini saja bareng pelayan Friska. " ujar Evelyn. Wanita itu mengenakan pakaian seksi berwarna hitam. Dia mengambil tasnya, segera turun ke bawah. Friska sendiri langsung menyusul sang mommy dan berusaha mencegahnya.


"Mommy hiks jangan pergi.


aku ingin di bacakan dongeng sama


mommy. " rengek Friska.


"Lepas Friska. " geram Evelyn yang menarik tangan sang anak. Wanita itu lantas pergi tanpa mempedulikan. tangisan putrinya. Friska menangis kencang menatap kepergian sang mommy.


Salah satu pelayan bernama Mona mendekati sang nona muda. Gadis itu merasa kasihan dengan Friska, lalu menggendongnya dan membawa Friska ke kamarnya.


Evelyn sendiri sibuk mengobrol sepanjang jalan dengan sahabatnya. Dia sama sekali tak peduli dengan nasehat dari Lusi mengenai Friska putrinya.


"Udahlah gak usah nasehatin aku, kau aja belum nikah. Sok sok an mau nasehatin orang. " sindir Evelyn dengan keras.


Lusi berdecak pelan, dia sangat tak suka dengan sikap Evelyn saat ini. Gadis itu memilih fokus menteri tanpa mempedulikan ocehan Evelyn.


Sampai di club keduanya langsung turun dari mobil, mereka berdua masuk ke dalam. Hingar bingar club begitu membuat bising. Banyak orang yang datang berdatangan, entah pasangan atau bukan. Evelyn menarik Lusi pergi ke bar dan memesan minuman.


"Kamu tahu Lus, mantan kertuaku itu mengancam akan merebut hak asuh Friska. " ceplos Evelyn.


"Terus kamu diam saja gitu? " tanya Lusi.


"Tentu saja tidak, aku tak akan membiarkan wanita tua itu merusak rencanaku. " ceplosnya. Lusi hanya menjadi pendengar rencana sang sahabat. Evelyn langsung menenggak minuman di gelasnya begitu juga dengan Lusi.


"Lalu rencana kamu sekarang apa? " tanya Lusi.


"Aku akan membuat Edgar berlutut padaku lalu memaksanya menikahi aku Lusi! "


Mereka bersulang, keduanya kembali meneguk wine. Lusi benar benar tak menyangka jika sang sahabat begitu licik dan ambisius. Dia berharap rencana Evelyn akam berjalan lancar nantinya.


"Lalu bagaimana dengan kamu


Lusi? " tanya Evelyn. Lusi menghela nafas berat, mengungkapkan keluh kesahnya.

__ADS_1


__ADS_2