Suami Lima Milyar

Suami Lima Milyar
Bab 24 Jonathan & Veronica


__ADS_3


Visual Jonathan



Luxury Vodka Bar


Di sisi lain Jonathan tampak patah hati setelah Lizzie memutuskan hubungan mereka begitu saja. Kini dia tampak berada di ruangan bar yang terletak di dalam penthouse milik pria itu. Sudah beberapa gelas dia meminum Vodka.


"Kau justru memilih Edgar daripada aku Liz. " racau Jo sambil meneguk vodka.


Prang


Jo melempar gelasnya ke arah lantai. Pria itu langsung ke luar dari sana dan pergi ke kamarnya di lantai dua. Dia langsung melesat ke kamar mandi, membiarkan air membasahi tubuhnya.


Bug


Tangannya menghantam tembok di depannya saat ini. Tak lama terdengar suara umpatan keras dari bibir Jonathan. Dia segera melepaskan pakaiannya kemudian mandi.


Skip.


Selesai mandi Jo segera duduk di atas ranjangnya mengambil ponsel milik pria itu sendiri. Dia menatap sendu foto dirinya bersama Lizzie dulu.


Hah


Jo memilih bangkit setelah menyimpan ponselnya ke dalam saku. Pria tampan itu ke luar dari kamar, menuruni anak tangga. Dia menyalakan mobilnya dan melesat pergi.


Demi menenangkan dirinya Jo memilih pergi ke Club malam dan di sana dia mabuk mabukan. Di sana juga Jo bertemu dengan Veronica yang tengah mabuk.


Hari berikutnya


"Aakh. " Veronica tampak memekik kaget kala tubuhnya polos hanya terbalut selimut. Jonathan tentu saja ikut terkejut dengan keadaan dirinya.


Veronica langsung memukuli wajah Jonathan. Jonathan segera mencekal tangannya, meminta maaf atas kejadian semalam. Tubuh wanita itu lemas seketika, dirimu tak menyangka akan menghabiskan satu malam dengan Jonathan.



Jonathan langsung memeluk Veronica dari belakang. Pria itu terus menerus mengumumkan permintaan maaf pada Veronica. Dering ponsel menyita perhatian mereka. Wanita cantik itu menepis tangan Jo, meraih ponselnya.


"Lizzie. " gumam Veronica panik.


"Halo Liz? " tanya Veronica berusaha bersikap tenang.

__ADS_1


"Ver, kamu di mana kata barista di Club, semalam Kamu mabuk? " tanya Lizzie khawatir.


"Aku baru saja bangun kok Liz, sudah ya aku mau mandi. " Veronica menghela nafas panjang, menaruh ponselnya setelah sambungan terputus.


Jo kembali mendekapnya dari belakang. Veronica memilih pasrah, semuanya telah terjadi karena kebodohannya yang mabuk. Dia berusaha menahan suara merdunya kala tangan Jo menyentuh buah persik nya.


"Singkirkan tangan kamu Jo. " omel Veronica.


Jonathan justru tertawa, tak mengikuti perintah Veronica. Pria itu merem4s squishy sintal yang telah dia mainkan semalam. Veronica melengvh pelan, dia tak mampu menahan suaranya.


Pria tampan itu kini kembali membaringkan tubuh wanitanya. Dia menyibak selimutnya dan mengulang kegiatan semalam. Veronica hanya bisa pasrah kala tubuhnya di bawa ke lembah kenikmatan.


Selesai mandi dan berpakaian. Veronica sibuk mengeringkan rambutnya, dia melirik kearah Jonathan yang sibuk mengganti spreinya. Dia langsung menaruh pengering rambut di atas meja kemudian ke luar dari sana. Jonathan langsung menyusulnya ke luar.


"Jo, sebaiknya kita lupakan kejadian semalam, anggap saja tak terjadi apapun. " ujar Veronica.


"Why? "


"Aku tahu bagaimana perasaanmu pada Lizzie dan maaf aku tak mau menjadi pelampiasan kamu! " tolak Veronica.


Setelah di rasa selesai Veronica langsung mengambil tas dan ponselnya. Dia memilih ke luar dari apartemen milik Jonathan. Jonathan mengusap wajahnya kasar, dia lantas menyusul Veronica ke luar.


Grep


Huh


Jo mengakhiri ciuman mereka, dia mengusap bibir wanitanya dengan lembut. Veronica langsung menjauhkan dirinya, segera memasang sabuk pengamannya begitu juga dengan Jonathan.


Pria tampan itu melajukan roda empatnya dengan kencang. Tak ada obrolan apapun di antara mereka berdua. Veronica hanya mampu menghela nafas panjang, kebodohannya membuat dirinya kehilangan kesucian.


Jonathan mengantarkan Veronica hingga sampai di apartemen wanita itu.


Veronica langsung turun dari mobil Jonathan. Wanita itu membulatkan mata melihat sebuah mobil yang begitu familiar menurutnya.


"Jo sebaiknya kau pergi dari sini, aku ada urusan. " Veronica lekas masuk ke dalam halaman rumahnya. Jo langsung mengikutinya, mencekal tangan Veronica. Wanita itu menghentikan langkahnya, menoleh ke belakang.


"Apalagi Jo? " ujar Veronica dengan raut kesalnya.


"Kenapa kamu begitu panik Ve, sebenarnya apa yang terjadi? " tanya Jonathan dengan raut curiga nya.


"Bukan urusanmu. " ketus Veronica sambil menghempas tangan Jonathan. Wanita itu langsung masuk ke dalam, tak lama terdengar suara keributan. Jonathan yang penasaran langsung menyelinap masuk ke dalam begitu saja.


Pria itu membulatkan mata melihat Veronica yang jatuh tersungkur. Jo mengeraskan rahangnya, berjalan cepat menghampiri Veronica.

__ADS_1


"Ayo bangun. " Jonathan membantunya berdiri, tatapannya kini tertuju pada orang orang di depannya saat ini.


"Jo jangan ikut campur, ini bukan urusanmu. " ujar Veronica.


"Diam. " geram Jonathan yang membuat Veronica mengatupkan bibirnya rapat.


"Lihat sekarang, kalian menganggap Veronica seperti anjing peliharaan. Apa otak kalian sudah tumpul. " sarkas Jonathan dengan sinis.


"Tutup mulutmu Tuan. " geram seorang pria yang seumuran dengan Jonathan.


"Mulai sekarang Veronica bukan bagian dari kalian lagi. Jika kalian masih berani menganggu nya, aku akan memastikan perusahaan kalian hancur. " tegas Jonathan. Pria itu menyeret Veronica ke luar dari kediaman keluarga Aksara.


Jonathan mendorongnya masuk ke dalam dan melajukan roda empatnya dengan kencang. Dia mengabaikan bentakan dari Veronica yang tampak marah.


Veronica sendiri mendesah kasar, dia memalingkan wajahnya ke arah luar kaca mobil. Dia menyentuh pipinya yang terasa perih akibat tamparan dari kakaknya.


Skip



Ternyata Jonathan membawa Veronica ke salah satu basement mewahnya. Keduanya lantas turun dari mobil, Jonathan mengajak Veronica masuk ke dalam.


"Mulai sekarang kamu akan tinggal di sini, akan ada tiga bodyguard yang akan berjaga di luar. " ujar Jonathan.


"Mengenai semua kebutuhanmu, aku akan menyiapkannya. " ujar Jonathan lagi.


Veronica menghela nafas panjang, dia langsung pergi ke lantai atas di mana kamarnya berada. Jonathan menatap kepergiannya dengan tatapan sulit di artikan.


Cklek


Wanita itu masuk ke dalam kamar, lalu menguncinya. Dia memilih pergi ke balkon, menenangkan dirinya di sana.


"Kenapa hidupku semakin rumit. " gumam Veronica. Dia mengeluarkan ponselnya, banyak panggilan tak masuk dari sang sahabat. Veronica memilih menolaknya, dia tak ingin membebani Lizzie dengan masalahnya sendiri.


"Maafkan aku Liz, aku hanya tak ingin merusak momen bahagiamu dengan Edgar. Lagipula kamu juga memiliki masalah sendiri. " ucap Veronica dengan lirih.


Veronica menaruh kembali ponselnya di sebelahnya. Tatapannya kembali lurus ke depan. Entah apa yang tengah dia pikirkan sekarang.


Tok


tok


Veronica lekas bangkit dan beranjak dari sana. Dia membuka pintu, membiarkan beberapa pelayan masuk dan menata barang barangnya ke dalam wall in kloset.

__ADS_1


Satu jam berlalu para pelayan itu langsung ke luar dari kamar Veronica. Veronica langsung menguncinya setelah itu melesat ke kamar mandi.


__ADS_2