
Pagi ini keluarga kecil itu tampak bahagia. Seperti biasa Lizzie dan Edgar mengantar Harvey ke sekolahnya.
Ketiganya turun dari mobil dan pergi ke kelas Harvey. Mereka berpapasan dengan guru yang mengajar di kelas Harvey.
"Ada apa Bu? " tanya Lizzie pada Bu Liana.
"Begini nyonya, ada yang mencari Harvey. " ujar Bu Liana. Lizzie dan Edgar saling melirik satu sama lain. Ketiganya langsung pergi ke ruangan bu Liana.
Cklek
"Maaf nyonya, telah menunggu lama. " ujar Bu Liana. Seorang wanita lekas menoleh, kedua matanya membulat sempurna. Jessica lekas bangkit, dia menatap wajah sang anak dan berusaha mendekati.
"Daddy. " Harvey langsung menggenggam erat tangan sang daddy. Bocah tampan itu sepertinya terlihat takut dengan Harvey.
"Harvey sayang, mami mencarimu ke mana mana nak. Kemarilah! "
"Aku tidak mau, mami jahat. Mommy dan daddylah orang tua ku. " pekik Harvey.
Edgar langsung menggendong sang anak lalu membawanya duduk di sofa. Lizzie tentu saja terkejut dengan pertemuan ini.
"Jadi kamulah yang merawat dan menjaga Harvey ku? " tanya Jessica pada Lizzie.
"Maaf Jes, Bukan Harvey kamu. Harvey Damon adalah putraku dengan Edgar. " tegas Lizzie.
"Setelah apa yang terjadi, kenapa baru sekarang kamu mencarinya Jessica? " desak Lizzie. Jessica mengatupkan bibirnya, entah apa yang di pikirkan saat ini.
"Katakan apa yang sebenarnya yang terjadi hingga Harvey takut sama kamu Jes? " desak Lizzie.
"Ini bukan urusanmu. " Jessica langsung menarik Harvey dan berusaha merebutnya. Edgar tentu saja tak membiarkannya, membawa ke luar Harvey.
Lizzie menyusulnya ke luar. Wanita itu menghela nafas panjang, segera masuk ke dalam mobil. Dia pun mengusap kepala sang anak, Edgar meninggalkan area sekolahan. Wanita hamil itu berusaha menenangkan putranya yang tampak ketakutan.
"Mommy dan Daddy tak akan membiarkan mami Jessica merebut kamu sayang. " gumam Lizzie menciumi kepala sang anak.
"Mom, aku enggak mau sama mami Jessica. Dia jahat, selama ini dia mengabaikan aku dan pergi dengan pria lain. " gumam Harvey dengan isakan tangisnya.
Lizzie tentu saja terkejut mendengar pengakuan anaknya lagi. Wanita itu hanya bisa berusaha menghibur Harvey.
__ADS_1
Di Villa
Ketiganya langsung turun dan masuk ke dalam. Lizzie meminta sang mertua menemani Harvey di kamarnya dan menjelaskan kejadian tadi. Edgar memapah istrinya ke ruang tamu.
"Ternyata benar tebakanku selama ini Boo. Rasanya aku tak rela jika Harvey di ambil alih ibu kandungnya, sementara Jessica sendiri tak suka dengan anak laki laki. " ungkap Lizzie dengan nada khawatirnya.
"Kamu tenang saja, aku akan mengurusnya. Tentu saja aku tak akan membiarkan Jessica merebut Harvey dari kita sayang. " gumam Edgar sambil tersenyum.
Lizzie mengangguk, dia pun mempercayakan hal ini pada sang suami. Katakanlah dia egois, sebab dia menjauhkan Harvey dari ibu kandungnya namun Lizzie sangat sayang dengan bocah tampan itu.
Terdengar helaan nafas panjang, dia mengusap perutnya yang besar. Edgar menghubungi salah satu bodyguardnya, dia meminta mencari tahu informasi mengenai Jessica dan keluarganya.
Lizzie menyandarkan tubuhnya di sofa. Pengakuan Jessica membuatnya terkejut jika Harvey putra kandung wanita itu. Meskipun begitu rasa sayangnya pada Harvey tetaplah masih sama.
"Mommy enggak mau berpisah sama kamu Harvey. " gumam Lizzie dengan lirih. Kehadiran Harvey mampu menghilangkan rasa jenuh saat dirinya berada di dalam villa.
"Kenapa melamun hm? " Edgar mengusap pipi chubby istrinya.
"Aku kepikiran Harvey,boo. Aku takut kita akan kehilangan putra kita yang lucu itu. " gumam Lizzie pelan. Edgar menghela nafas panjang, dia senang melihat istrinya yang begitu sayang pada Harvey dengan tulus.
Pria tampan itu memeluk sang istri dan berusaha menenangkannya. Lizzie menghela nafas panjang, dia berusaha menenangkan dirinya. Dering ponsel Lizzie mengalihkan perhatian mereka. Wanita itu melepaskan diri dari pelukan sang suami.
"Halo Jes, ada apa? " tanya Lizzie dengan nada tak biasanya.
"Di mana alamat kamu, nanti malam ada hal yang ingin aku bicarakan sama kamu dan suamimu! " tekan Jessica.
Lizzie meminta izin suaminya setelah itu memberikan alamat villa mereka pada Jessica. Dia menaruh kembali ponselnya setelah sambungan terputus. Keduanya saling melirik satu sama lain kemudian menghela nafas panjang.
Tepat pukul tujuh malam Jessica dan suaminya datang. Edgar tentu saja terkejut setelah mengetahui jika Tuan Leon adalah suami Jessica. Kini mereka semua berkumpul di ruang tengah.
"Kedatangan kami kemari karena istri saya bilang jika putra kami Harvey berada dalam penjagaan kalian? " tanya Tuan Leon memastikan.
"Iya Anda benar, kami telah mengadopsinya sejak dua bulan
lalu. " ungkap Edgar.
__ADS_1
"Tapi pengadopsian itu tidak sah Tuan, kalau orang tuanya masih hidup dan sehat. " ujar Leon.
"Saya mohon kembalikan Harvey pada kami! " ujar Tuan Leon memohon. Mami Diora datang bersama si kecil, keduanya bergabung bersama mereka.
Tuan Leon tampak berkaca kaca melihat putranya tampak sangat sehat.
"Harvey sini sayang, Papi rindu sama kamu. " ucap Tuan Leon pada putranya.
"Harvey enggak mau, Vey hanya suka tinggal bersama mommy dan daddy. " tolak Harvey memeluk tubuh oma nya dengan erat.
Tuan Leon menghembuskan nafas berat mendapati penolakan dari putranya sendiri. Jessica turut membujuk anaknya itu namun Harvey menolaknya.
"Jessica, jangan terlalu memaksa Harvey hal itu justru akan menganggu mentalnya. " tegur Lizzie. Jessica melirik tajam kearahnya namun di abaikan Lizzie.
Kini terjadi perdebatan alot diantara dua kubu tersebut. Oma Diora mengajak sang cucu ke meja makan lebih dulu. Lizzie mengusap perut besarnya, dia tak boleh terbawa emosi.
Mereka semua beranjak dari sana sana pergi ke meja makan. Mereka semua makan malam dengan tenang tanpa obrolan apapun. Lizzie hendak menyuapi putranya namun di tolak Harvey.
"Sini mommy, Vey mau nyuapin mommy. " ucap Harvey dengan senyuman manisnya. Lizzie merasa terharu dengan perlakuan putra kecilnya itu. Jessica mengepalkan tangan, dia tak suka melihat anaknya begitu menyayangi wanita lain daripada dirinya.
Setelah lima belas menit berlalu,mereka telah usai makan malam bersama. Edgar melirik kearah sang mami tercinta.
"Mi, Bawa Harvey ke kamarnya. " ujar Edgar. Mami Diora mengangguk, dia lantas mengajak sang cucu pergi dari meja makan. Jessica sempat menahannya namun mami Diora menepisnya.
"Aku akan membawa masalah ini ke pengadilan. " ujar Leon dengan serius.
"Bawa saja, aku juga akan membawa ke ranah hukum atas pasal penelantaran anak yang kalian lakukan pada Harvey. " ungkap Edgar.
Leon membulatkan mata mendengar pernyataan Edgar barusan. Pria itu tentu saja tak terima, dia mengebrak meja dengan raut kemarahan.
Brak
Lizzie terkejut, reflek mengusap perut buncitnya dengan lembut. Edgar lantas bangkit, menatap tajam kearah dua tamunya itu kemudian mengusirnya.
"Pergilah dari sini sebelum saya memanggil kan bodyguard untuk mengusir kalian. " ujar Edgar dengan wajah dinginnya.
__ADS_1
"Akan ku pasti kan Harvey akan kembali pada kami Edgar. " pekik Leon penuh emosi. Mereka langsung pergi dari kediaman Edgar.
Edgar sendiri mengajak istrinya pergi ke kamar mereka. Keduanya perlu beristirahat, besok akan memikirkan langkah selanjutnya.