
Nara melindungi putranya yang tampak takut dengan Jessica ibu kandungnya sendiri.
"Harvey, ayo pulang sama mommy. " ujar Jessica dengan lembut.
"Enggak mau mommy Jessi jahat. " pekik Harvey.
Jessica berdecak pelan, sebenarnya wanita itu malas harus melakukan drama picisan seperti ini. Merasa tak sabaran dia langsung mendekat, berusaha menarik putranya. Nara tentu saja tak tinggal diam, dia berusaha melindungi Harvey dari Jessica.
"Kamu ini siapa, kenapa kamu ikut campur dalam urusanku? " pekik Jessica kesal.
"Saya Nara, calon istri Landon. " ungkap Nara dengan berani.Wanita itu langsung mendorong Jessica menjauh kemudian mengajak Harvey pergi. Mereka lantas masuk ke dalam taksi, berusaha menghindari kejaran Jessica.
Jessica tentu saja tak tinggal diam, dia langsung mengejar Nara dan Harvey. Di dalam taksi, Nara berusaha menenangkan sang anak.
Terdengar suara helaan nafas berat, dia sangat kesal akan kelakuan Jessica barusan.
Tiba di Mansion ibu dan anak itu langsung turun. Nara lekas membawa Harvey masuk ke dalam.Tanpa dia sadari, keduanya telah diikuti Jessica. Jessica tersenyum licik setelah mengetahui tempat tinggal Landon.
Wanita itu pergi dari kediaman Landon sebelum ketahuan. Nara meminta putranya untuk membersihkan diri. Wanita itu duduk di ruang tamu kemudian mengirim pesan pada calon suaminya.
"Rasanya aku ingin sekali menampar Jessica tadi. " geram Nara.
__ADS_1
Nara menaruh kembali ponselnya di atas meja.
Siangnya Landon kembali, pria itu masuk ke dalam dengan nafas tersengal. Pria itu menghampiri calon istrinya dengan raut wajah khawatir.
"Sayang kamu dan Harvey, baik baik saja 'kan? " tanya Landon.
"Iya kami baik baik saja. " balas Nara sambil tersenyum. Landon bernafas lega, dia langsung memeluk sang kekasih. Dia meregangkan pelukannya lalu melepaskan jas dan membuka beberapa kancing kemejanya.
"Baiklah aku ke kamar duluan. " Landon lekas bangkit, dia berjalan meninggalkan wanitanya. Nara menghela nafas panjang, dering ponselnya menyita perhatian wanita itu.
Nara menyambar ponselnya langsung. Wanita itu membulatkan mata membaca pesan dari nomor tak di kenal. Dia mengigit bibir bawahnya, raut wajahnya berubah panik.
Dia mencoba menghubungi nomor itu namun tak bisa. Narapun memilih memblokir nomor itu secara langsung. Terdengar decakan pelan ke luar dari bibir wanita itu.
Wanita itu memilih beranjak dari sana dan pergi ke kamarnya. Setelah mengunci pintu, dia langsung berendam dalam jakuzzie. Nara teringat dengan masa lalunya, wanita itu tersenyum miris saat mengalami kdrt.
Setelah tiga puluh menit, Nara segera ke luar memakai handuk dan memakai pakaian santai nya. Dia memilih duduk di atas ranjang, tak menyangka jika pria itu akan hadir kembali dalam kehidupannya.
"Aku berharap Landon memang pria yang tepat untukku. " gumam Nara penuh harap.
tok
__ADS_1
tok
Nara lekas bangkit dan membuka pintu kamarnya. Landon mengerutkan kening melihat raut sedih di wajah calon istrinya.
"Kenapa? "
Nara langsung memeluknya tiba tiba. Landon benar benar tak mengerti, sepertinya ada yang di sembunyikan Nara darinya. Pria tampan itu membalas pelukannya. Tak lama Nara melepaskan pelukannya kemudian mengajaknya ke kamat Harvey.
Keduanya memilih menemani Harvey bermain robot. Nara memperhatikan calon putra sambungnya seraya tersenyum tipis. Wanita itu begitu sayang dengan Harvey sejak pertama kali bertemu. Dia pun menganggap Harvey seperti putranya sendiri.
"Sayang sebenarnya ada apa? " tanya Landon begitu penasaran.
"Tadi, pria itu mengirim pesan padaku sayang. " ungkap Nara tanpa mau menyebutkan nama pria di masa lalunya.
"Pria? " Landon mengerutkan kening. Dia mencoba mencerna siapa yang tengah di maksud calon istrinya. Tak lama rahang pria itu tampak mengeras.
"Namun aku telah memblokir nomornya. " sahut Nara dengan lirih. Landon segera menggenggam tangan calon istrinya. Dia sangat paham dengan apa yang di rasakan Nara saat ini.
Pria itu memberikan dukungan untuk Nara agar tetap tenang. Nara tentu saja sangat senang mendapat dukungan dari pria yang dia cintai. Mereka kembali mengamati Harvey sambil mengobrol.
Harvey menoleh, menyela obrolan orang tuanya. Pertanyaan polos Harvey membuat Nara dan Landon tertawa.
__ADS_1
"Papi, Mami kapan aku punya adik seperti adik Arion dan Gyana? " tanya Harvey dengan polosnya.
"Masih lama boy,bersabarlah okey. " sahut Landon sambil mengacak rambut sang anak. Harvey hanya mengangguk pelan dan kembali fokus pada mainan robotnya.