
Suasana pagi di villa Lizzie dan Edgar tampak senyap. Mommy dan Daddy berusaha mencairkan suasana, mereka begitu paham akan perasaan Lizzie.
"Mommy tahu kalau kamu begitu sayang sama Harvey, tapi nak Harvey masih memiliki orang tua kandung yang utuh! " ujar mommy dengan lembut.
"Tapi Harvey nya sendiri takut sama Jessica mom, tentu saja aku tak akan menyerahkan putraku pada wanita itu. Aku sama saja membuat mental Harvey semakin down nantinya jika dia kembali pada orang tua kandungnya. " pungkas Lizzie.
Mommy Shella menghela nafas berat, melihat putrinya yang keras kepala. Wanita paruh baya itu kembali menasehati sang anak.
"Maaf mom, tapi aku memiliki bukti jika Jessica telah menelantarkan Harvey. Selain itu ternyata Harvey bukan anak kandung tuan Leon. " sahut Edgar yang membuat semua orang terkejut.
"Kamu jangan bicara sembarangan Edgar. " tegur Daddy pada menantunya.
"Aku serius Dad, untuk itu biarkan kami memperjuangkan hak asuh Harvey. " bujuk Edgar dengan tegas.
Mommy dan Daddy kehilangan kata kata. Lizzie menggenggam tangan sang suami, dia percaya pada suaminya sepenuhnya.
Kini suasana hening melanda ruangan tengah. Tak ada obrolan apapun lagi di antara mereka. Mereka kembali melanjutkan sarapannya. Setelah itu orang tua Lizzie pamit pulang.
Lizzie menghela nafas panjang, dia langsung melirik kearah suaminya. Mereka sama sama tetap kekeh dengan keputusan mereka yang ingin merebut hak asuh Harvey dari Jessica.
Tak lama pengacara dari Edgar telah datang. Pengacara itu bernama Alex, Edgar mempersilakan pengacaranya itu untuk duduk.
"Bagaimana, apa berkas nya sudah siap? " tanya Edgar.
"Sudah siap Tuan, hanya saja Apa anda yakin bisa memenangkan hak asuh tuan muda kecil Harvey? " tanya Tuan Alex memastikan.
Edgar terdiam, ada keraguan dalam diri pria itu mengenai Harvey. Dia mengusap wajahnya kasar dan kembali fokus pada Alex.
"Pihak Tuan Leon pasti akan melakukan segala cara tuan. " ungkap Tuan Alex.
"Aku yakin. " Edgar langsung bangkit, dia pergi ke ruangan kerjanya. Tak lama pria itu kembali dan menyerahkan hasil tes DNA dari Harvey dan Tuan Leon.
Tuan Alex memeriksanya, terkejut dengan apa yang dia baca. Pria itu segera menyimpannya ke dalam tas dengan aman.
__ADS_1
"Persidangan akan di adakan lusa Tuan, persiapkan diri Anda. " ujar Tuan Alex yang di angguki Edgar. Setelah cukup lama berdiskusi dengan kliennya, pengacara tampan itu langsung pamit.
Sepeninggal Tuan Alex, pasutri itu kembali mengobrol. Lizzie tentu saja sangat gugup dan cemas, meski persidangan itu masih besok lusa. Wanita itu tampak gelisah terlihat dari raut wajahnya.
Sorenya Mami dan Harvey kembali. Keduanya bergabung bersama Lizzie dan sang suami. Bocah tampan itu tampak mengatakan kegiatannya di sekolah pada kedua orang tuanya.
"Sayang, apa teman teman kamu baik semua? " tanya Lizzie.
"Ada yang jahil dan suka meledek aku mommy. " ungkap Harvey dengan wajah polosnya.
"Kamu tidak memukulnya 'kan sayang? " tanya Lizzie yang di tanggapi dengan gelengan. Wanita hamil itu bisa bernafas lega mendengar jawaban sang anak.
Edgar terkekeh pelan melihat wajah panik istrinya barusan. Lizzie langsung melirik suaminya dengan tatapan tajam nya. Pria tampan itu langsung menghentikan tawa.
"Vey mau ganti baju dulu. " Harvey langsung bangkit, mencium pipi sang mommy kemudian berlari menuju ke kamarnya.
Lizzie menghela nafas panjang, dia mengusap perutnya. Dia berusaha menenangkan hatinya yang begitu resah. Edgar langsung bangkit, memapah istrinya menuju ke kamar.
Selesai berpakaian, seperti biasa Edgar membantu istrinya mengeringkan rambut dan mengganti spreinya dengan yang baru.
Usai beres beres, Edgar mengajak istrinya duduk di atas ranjang. Pria itu menatap penuh cinta wanitanya, Ibu dari anak anaknya kelak.
"Gimana kalau jalan jalan, kamu mau enggak? " tawar Edgar pada istrinya.
"Aku mau boo. " jawab Lizzie dengan antusias. Edgar langsung bangkit, mengambil ponsel dan kunci mobilnya kemudian memapah istrinya ke luar dari kamar mereka.
Keduanya langsung pamit pada Mami dan Harvey. Mereka berdua masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan, Lizzie mengajak bicara baby dalam perutnya. Edgar tersenyum kecil mendengarnya, pria itu kembali fokus ke depan.
Di Mall
Mereka berdua berbelanja untuk kebutuhan baby. Keduanya sepakat membeli pakaian sepasang laki laki dan perempuan. Lizzie tampak heboh melihat pakaian bayi yang begitu lucu lucu menurutnya.
Satu jam berlalu, selesai bayar Edgar menaruh barang barangnya ke dalam bagasi mobil. Mereka masuk ke dalam dan langsung pergi dari sana.
__ADS_1
Keduanya langsung pulang begitu saja. Edgar tak ingin istrinya kelelahan setelah berkeliling di mall tadi.
Skip
Villa
Edgar memanggil bodyguard untuk membawa barang barangnya ke dalam. Sementara pria itu memapah sang istri hingga ke kamar mereka. Keduanya lekas membersihkan diri dan berpakaian.
Pria itu segera ke luar, membuatkan susu ibu hamil untuk istri tercintanya. Edgar kembali ke kamar, dia menghampiri istrinya dan menyerahkan segelas susu.
"Habiskan sayang. " pinta Edgar. Lizzie lantas meneguk susunya hingga tandas. Wanita hamil itu menyerahkan gelas kosongnya pada sang suami. Edgar langsung menaruhnya kembali ke atas meja.
Pria tampan itu menaruh bantal di kepala ranjang. lalu dia membantu istrinya bersandar. Lizzie menghela nafas panjang, merasa nyaman tubuhnya. Edgar sibuk mengusap perut buncit sang istri, menyapa calon buah hati mereka.
"Kira kira nama apa yang cocok untuk calon baby kita ini? " tanya Lizzie pada sang suami.
"Nanti saja saat dia lahir, aku akan memberitahu kamu sayang. " ucap Edgar sambil tersenyum.
Mereka kembali mengobrol, Harvey kecil masuk ke dalam kamar. Bocah lelaki itu langsung naik ke ranjang. Edgar menarik putranya berada di tengah tengah mereka.
"Kapan adik bayi lahir mom, Vey tak sabar menantikannya. Vey ingin bermain dengan adik bayi secepatnya. " cetus Harvey dengan nada tak sabaran.
"Sabar sayang tiga bulan lagi, adik bayi lahir ke dunia. " sahut Edgar sambil mengusap kepala putranya.
Harvey memilih berbaring di sebelah mommy tercintanya. Bocah tampan itu turut memberikan usapan di perut Lizzie.
"Mommy, adik bayi gerak. " pekik Harvey dengan riang.
"Berarti adik bayi mendengar apa yang kamu bicarakan sayang. " balas Lizzie sambil tersenyum lebar. Harvey tentu saja sangat senang.
dia kembali mengusap perut sang mommy. Edgar hanya bisa menggeleng, dia mengusap kepala sang anak dengan gemas.
Hot daddy itu mengelitiki perut sang anak. Harvey langsung membalas sang daddy, canda tawa ayah dan anak itu mampu membuat Lizzie tertawa. Wanita hamil itu mengusap perut besarnya dengan wajah bahagia.
__ADS_1