
Keesokan harinya Evelyn datang ke villa milik Edgar. Wanita itu membawakan makanan untuk calon suaminya itu.
Melihat kehadiran Evelyn membuat mood Edgar memburuk. Pria itu hanya diam saja saat Evelyn mengajaknya bicara.
"Sayang, ayo sarapan bersama. " ajak Evelyn menyentuh lengan Edgar.
Prang
Edgar membanting bekal makanan yang di bacakan Evelyn. Pria itu mencekik leher Evelyn membuat Evelyn kesulitan bernafas.
"Kau sepertinya mengabaikan. ancamanku kemarin Eve! " geram Edgar dengan tatapan sinisnya.
Edgar langsung mendorongnya ke lantai dengan keras. Dia pun mengabaikan suara kesakitan yang di rasakan Evelyn. Pria itu langsung memanggil dua bodyguardnya.
"Bawa wanita sialan ini menjauh kalau perlu buang dia ke hutan. " ketus Edgar dengan sorot mata tajamnya.
Evelyn menggeleng, wanita itu tampak ketakutan dan berusaha memberontak. Dua bodyguard langsung membawanya ke luar.
Edgar mendesah kasar, rasanya dia ingin sekali memukul Evelyn dengan tangannya. Pria itu memilih ke luar dari villa miliknya.
Di sisi lain Evelyn berusaha memberontak namun tenaganya kalah jauh. Salah satu bodyguard memukul tengkuknya hingga tak sadarkan diri.
back to back
Edgar kini berada di pantai, menenangkan dirinya di sana. Dia mengeluarkan sebuah cincin di tangannya. Cincin milik Lizzie yang wanita itu tinggalkan di rumah sakit.
"Kau benar benar melepaskan ikatan kita Lizzie, apa kau telah melupakan aku begitu mudahnya. " gumam Edgar lirih. Pria itu menggenggam erat cincin milik Lizzie.
"Sampai kapanpun cincin ini hanya milik kamu Lizzie. " batin Edgar.
Dering ponselnya menyita perhatiannya. Pria itu menyimpan cincin itu ke dalam dompet. Edgar mengeluarkan ponselnya kemudian menekan tombol hijau.
"Kami sudah menyingkirkan nona Evelyn tuan. " ujar sang bodyguard.
"Awasi dia dan jangan biarkan dia kabur. " tegas Edgar. Pria itu langsung memutus sambungannya, menaruh ponsel nya ke dalam saku celana.
__ADS_1
"Harusnya sejak dulu aku menyingkirkan Evelyn, karena dia aku kehilangan kamu Lizzie. " ucap Edgar penuh penyesalan.
Edgar mengusap wajahnya kasar, dia tengah memikirkan cara untuk mendapatkan Lizzie kembali. Pria itu beranjak dari sana dan kembali ke dalam mobil.
Duda tampan itu melajukan roda empatnya menuju ke alamat Lizzie yang di kirimkan anak buahnya. Tiba di sana pria itu lekas turun dari mobilnya, langsung menekan bell nya.
Cklek
Lizzie terhenyak kaget melihat kehadiran Edgar di depan pintu penthouse nya. Untuk apa kamu datang ke sini? " tanya Lizzie dengan nada ketusnya.
Edgar langsung masuk begitu saja tanpa peduli umpatan dari mantan istrinya. Lizzie menutup pintu penthouse dan menyusulnya di ruang tamu.
"Sialan lagi lagi pria itu. " umpat Edgar melihat kehadiran Jonathan.
Pria itu memilih duduk di sebelah Lizzie, dia sengaja ingin membuat Jonathan cemburu. Jonathan sendiri menahan tawanya melihat ke absurd an mantan suami dari Lizzie itu.
"Kamu itu kenapa sih Ed,menjauh lah. Aku tak nyaman kalau kamu duduk merapat padaku. " ungkap Lizzie dengan nada jengkelnya.
Edgar hanya cuek, Lizzie sendiri mulai bangkit dan menjauh dari hadapan sang mantan sang suami. Wanita itu merasa tak nyaman di dekatnya. Jo yang melihatnya segera menenangkan Lizzie.
"Halo aku Jonathan, calon suami Lizzie. " sapa Jo dengan sopan.
"Aku Edgar. mantan suaminya. " jawab Edgar singkat. Aura pria itu menunjukkan permusuhan. Jonathan pun menanggapinya dengan senyuman. Lizzie sendiri menyandarkan kepalanya di bahu Jonathan.
Edgar menghela nafas panjang, berusaha mengontrol dirinya agar tak lepas kendali. Rasanya ingin berteriak melihat perhatian yang di tunjukkan Lizzie pada Jonathan.
Lizzie begitu merasakan nyaman berada di dekat Jonathan. Tanpa dia sadari ada sepasang mata yang menatapnya cemburu.
"Ya sudah kalian lanjutkan saja ngobrolnya. " Lizzie lekas bangkit, meninggalkan Jonathan dan Edgar di ruang tamu. Setelah kepergian Lizzie,fokus Edgar tertuju pada Jonathan.
"Menjauhlah darinya, aku ingin kembali dengan Lizzie. " ujar Edgar dengan wajah datarnya.
"Selama ini kau tak tahu bagaimana menderitanya Lizzie. Dia kehilangan janinnya saat Lizzie mengalami kecelakaan. Hal itu membuatnya cukup trauma. " ungkap Jonathan.
"Apa? " Edgar begitu terkejut dengan pernyataan Jonathan barusan. Tiba tiba rasa bersalah menghantam dirinya. Teringat ucapannya kemarin saat dirinya menuduh Lizzie.
__ADS_1
Jonathan menjelaskan apa saja yang di alami Lizzie selama dua tahun ini pada Edgar. Pria tampan itu terdiam melihat ekspresi yang di tunjukkan rivalnya itu.
"Jika kau masih mencintai Lizzie, menjauhlah dan biarlah dia mencari kebahagiaan nya. " ucap Jonathan dengan bijak.
Tak lama Lizzie datang, dia kini membawakan minuman untuk kedua tamunya. Wanita itu benar benar mengabaikan keberadaan mantan suaminya. Edgar sendiri menatapnya dalam diam dengan tatapan bersalahnya.
"Sayang, kau tidak mengatakan apapun 'kan dengan Edgar? " tanya Lizzie dengan tatapan curiganya.
"Tentu saja tidak. " jawab Jonathan sambil tersenyum. Lizzie bernafas lega mendengarnya, Jo sendiri meminum kopi nya dengan santai.
Edgar menghela nafas panjang, rasanya sesak sekali kehadirannya tak di anggap sama sekali oleh Lizzie. Pria itu langsung meminum kopinya dengan perasaan campur aduk. Dia menaruh cangkirnya di atas meja, Edgar langsung pamit pada Lizzie. Terlihat jelas jika cintanya tetaplah masih sama pada sang mantan istri.
"Aku pulang dulu Liz. " gumam Edgar beranjak dari duduknya.Pria itu langsung bangun dan melenggang pergi.
"Liz, kau bisa mengantarnya ke depan. " celetuk Jo.
"Enggak perlu Jo. " jawab Lizzie singkat.
Jonathan sendiri hanya bisa menanggapinya dengan senyuman. Dia tak akan memaksa Lizzie untuk melakukan apa yang tak dia sukai. Tangannya terulur, mengusap kepala Lizzie dengan lembut.
Malam harinya Veronica baru pulang, wanita itu bergabung bersama Jonathan dan Lizzie. Gadis itu memutar bola matanya kala Jo mengedipkan mata kearahnya.
"Ya ampun Lizzie, kamu menemukan spesies langka ini dari mana sih? " ketus Veronica menunjuk kearah Jonathan.
Lizzie tergelak kencang mendengar ucapan Veronica barusan. Jonathan sendiri mendengus geli dengan ucapan Veronica padanya. Kedua wanita itu langsung bergosip ria, Jonathan membiarkannya.
"Ayo makan malam bareng." ajak Lizzie pada keduanya. Ketiganya segera beranjak dari sana menuju ke meja makan. Canda tawa mewarnai obrolan ketiganya. Veronica memperhatikan sang sahabat yang terlihat bahagia.
"Liz, are you oke now? " tanya Veronica tiba tiba.
"Yes, memangnya kenapa? " tanya Lizzie dengan kening berkerutnya.
"Apa kau sudah tak mencintai Tuan Edgar lagi? " tanya Veronica tanpa basa basi. Lizzie terdiam, entah apa yang wanita cantik itu pikirkan sekarang. Jonathan menyenggolnya, memberi kode agar tak bertanya seperti itu.
Lizzie menghela nafas panjang, dia kembali fokus menatap sang sahabat. "Masih namun seiring waktu rasa itu akan terkikis. Aku tak ingin hancur untuk kedua kalinya. " ungkap Lizzie.
__ADS_1
"Mungkin di antara kamu dan Edgar hanya salah paham dan mis komunikasi. " pungkas Veronica. Mereka kembali melanjutkan makan malamnya.