Suami Lima Milyar

Suami Lima Milyar
Bab 34 Tentang Jessica Claire


__ADS_3

Jessica langsung pulang menemui suaminya. Langkahnya terhenti kala melihat suaminya berada di dalam kamar.


"Sialan ternyata dia belum bisa melupakan mantan istri tak bergunanya itu. " gumam Jessica dengan tangan terkepal kuat. Wanita itu berlalu pergi, entah apa yang tengah wanita itu pikirkan.


Tak lama wanita itu kembali dan masuk ke dalam. Dia membawakan teh hangat untuk sang suami.


"Apa kau belum bisa melupakan mantan istrimu hah? " pekik Jessica kesal.


"Sayang kau hanya salah paham, aku hanya kepikiran dengan putra kita yang telah hilang. Aku sudah mengerahkan anak buahku untuk mencari Harvey namun tak


ketemu? " ungkap Tuan Leon.


Jessica lantas duduk di sebelahnya, dia menyerahkan teh buatannya. Tuan Leon langsung meminumnya dengan santai, tanpa di sadari istrinya tersenyum miring. Dia menaruh cangkirnya di atas meja.


Huam


Merasa mengantuk Tuan Leon langsung berbaring dan kedua matanya terpejam. Jessica tersenyum puas melihat suaminya tertidur. Dia berharap ingatannya tentang Harvey sedikit demi sedikit terlupakan.


Jessica memilih ke luar dari kamarnya bersama sang suami. Dia masuk ke dalam salah satu kamar rahasianya.


"Putra kita, haha sangat konyol. Leon Leon, kau sangat mudah untuk aku tipu. " gumam Jessica dengan seringai licik nya.


Wanita itu memegang hasil DNA antara suaminya dengan Harvey, putra mereka. Jessica menaruhnya di tempat rahasia agar sang suami tak mengetahui kebenaran mengenai Harvey.


Teringat sesuatu Jessica langsung menghubungi asistennya. Setelah mendapatkan nomor ponsel Lizzie. Dia segera menghubungi Lizzie dan mengajaknya ketemuan.


Skip



Taman, pukul 03.00 sore.


"Sore nyonya. " sapa Lizzie dengan senyuman manisnya.


"Sore, langsung saja saya bersedia menjadi model dalam peragaan busana kamu nanti. " ujar Jessica.


"Saya sangat senang dengan keputusan Anda, nyonya. " ujar Lizzie dengan sopan.


Jessica menjelaskan keinginan nya pada Lizzie. Wanita hamil itu tentu saja menyetujui kesepakatan mereka. dia memperhatikan perut Lizzie yang terlihat membuncit.


"Jadi kau sedang hamil? " tanya Jessica.

__ADS_1


"Iya, kehamilan ini telah aku dan suamiku nanti nantikan. Kami juga memiliki anak laki laki yang pintar dan cerdas. " ungkap Lizzie.


"Kalau saya sendiri tak suka memiliki anak apalagi anak laki laki. " ujar Jessica dengan santai.


Lizzie mengerutkan kening, mendengar ucapan Jessica yang tak biasa. Wanita itu mencoba bertanya namun seperti biasa Jessica menjawab dengan nada angkuhnya.


"Anak adalah harta yang tak ternilai, dia adalah sumber kebahagiaan seorang ibu selain suaminya. " ungkap Lizzie. Jessica hanya diam saja tak menanggapi ocehan Lizzie yang tak penting menurutnya.


Satu jam berlalu Jessica pergi begitu saja. Setelah kepergian Jessica, Lizzie baru sadar jika rekan kerjanya itu memiliki sikap arogansi yang tinggi.


"Tapi wajah Harvey mirip dengan Jessica, apa jangan jangan Harvey putra kandungnya. " batin Lizzie. Wanita itu menepis pemikirannya barusan. Dia lekas bangkit, berjalan ke arah mobil dan masuk ke dalam.


Beberapa menit berlalu Lizzie telah kembali ke Villa. Dia segera turun dari mobil dan bergegas masuk ke dalam. Lizzie memperhatikan puteranya yang asyik bermain di rumah tengah. Dia memilih ke kamarnya lebih dulu, membersihkan diri kemudian beristirahat sebentar.


"Boo, aku ingin bicara sama kamu? " tanya Lizzie pada suaminya. Wanita itu telah selesai mengganti pakaiannya.


"Bicara apa baby? " sahut Edgar yang menaruh ponselnya.


Kini keduanya duduk di atas ranjang saling berhadapan satu sama lain. Edgar menunggu istrinya berbicara.


"Aku memiliki rekan kerja bernama Jessica Claire, entah kenapa aku merasa wanita itu memiliki kemiripan wajah dengan Harvey? "


"Masa sih sayang. Harusnya jika benar wanita itu ibu kandungnya Harvey, dia seharusnya segera mencari keberadaan Harvey di sosial media ataupun apapun itu. " cetus Edgar.


Lizzie memilih berbaring, tubuhnya terasa pegal. Edgar langsung memijiti kaki sang istri tercinta. Wanita hamil itu menghela nafas panjang, dia jadi pusing sendiri saat ini.


"Aku takut kehilangan Harvey, Boo. Aku begitu sayang padanya melebihi anak kandungku. " gumam Lizzie dengan lirih.


"I know how do you feel baby!


(Aku tahu bagaimana perasaanmu sayang!)


"But you have to be ready and accept whatever happens!


(Tetapi kamu harus siap dan terima apapun yang terjadi)


Lizzie menghela nafas panjang, dia memberikan senyum terbaiknya di depan suami tercintanya. Dia merasa ucapan suaminya sangatlah tepat. Tangannya terukir dan menyentuh perutnya yang mulai membuncit.


"Kalau capek tidurlah sayang. " pinta Edgar. Lizzie memejamkan kedua matanya, tak lama terdengar suara dengkuran halus. Edgar sendiri menghentikan memijit kaki istrinya. Dia langsung meraih ponselnya kemudian menghubungi sang asisten.


Setelah itu calon hot daddy ke luar dari kamar dan menuruni tangga. Edgar menemui putranya yang asyik bermain di ruang tengah. Harvey menoleh kala melihat sang daddy mendekatinya.

__ADS_1


"Boy, Daddy boleh bertanya sama kamu? " tanya Edgar.


"Boleh Daddy! "


"Waktu di pantai itu, apa kamu masih ingat apa yang terjadi boy? " tanya Edgar dengan halus.


Harvey terdiam, raut ceria bocah itu berubah suram. Tubuhnya tampak bergetar, Edgar yang melihatnya segera membawa putranya ke dalam pelukannya.


"Mereka jahat Daddy, terutama mami yang begitu benci sama aku. " gumam Harvey dengan isakan tangisnya.


"Sst sudah boy, jangan bicara lagi jika kamu takut. Tenang ya di sini aman, ada mommy, daddy dan oma opa yang sayang sama kamu. " gumam Edgar.


Edgar mengumpat pelan dalam hati, dia tak akan membiarkan Harvey trauma ketakutan lagi. Pria tampan itu mengusap pelan punggung mungil anaknya. Setelah Harvey tenang, dia melepaskan pelukannya.


"Boy,sekarang kamu tak sendirian. Kami semua sayang sama kamu. " ujar Edgar.


"Ingat laki laki enggak boleh takut dan menangis. "


Harvey menghapus air matanya, tersenyum menampilkan giginya yang putih. Edgar mengulum senyumnya, mengacak acak rambut sang anak.


"Ayo main lagi. "


Harvey kembali melanjutkan mengambarnya. Edgar menghela nafas panjang, mengusap wajahnya dengan kasar. Dia masih teringat obrolannya dengan sang istri saat di dalam kamar tadi.


Dua jam kemudian Lizzie baru turun dari kamarnya. Wanita itu meminta pelayan membuatkan dirinya minuman dan di bawa ke ruang tamu. Lizzie menghampiri sang suami, langsung duduk di sebelah Edgar dengan pelan pelan.


"Sayang sudah bangun! " Edgar membawa sang istri ke dalam pelukannya. Calon hot daddy itu menciumi pucuk kepala istrinya. Lizzie membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami.


Lizzie menjauhkan wajahnya kala pelayan datang mengantarkan minumannya. Wanita itu lantas menyesap tehnya dengan perlahan. Di taruhnya di atas meja kemudian mengobrol dengan sang suami.


"Mommy, mommy. " Harvey datang mendekati orang tuanya. Bocah tampan itu terus mengoceh membuat Edgar dan istrinya tertawa pelan.


"Lucunya anak mommy yang tampan ini. " ungkap Lizzie dengan senyuman lebarnya.


"Lebih tampan Vey apa Daddy, mom? " tanya Harvey dengan polosnya.


"Dua duanya tampan sayang dan juga kesayangan mommy. " jawab Lizzie yang membuat senyuman Harvey merekah.


"Terimakasih mommy. " ucapnya.


"Sama sama. " balas Lizzie.

__ADS_1


__ADS_2