Suami Lima Milyar

Suami Lima Milyar
Bab 35 Tawaran Kerjasama


__ADS_3

Pagi harinya keluarga kecil Edgar baru selesai sarapan bersama. Rencananya mereka akan mengantarkan Harvey ke sekolah barunya.


Mereka bertiga ke luar dari Villa, segera masuk ke mobil dan langsung jalan.


Tiba di sekolah ketiganya turun dari mobil. Lizzie dan suaminya mengajak sang anak menemui kepala sekolah untuk mengurus pendaftaran Harvey.


Setelah selesai mereka ke luar dari ruangan kepala sekolah. Harvey langsung pamit pada orang tuanya di antar oleh guru cantiknya.


"Sepertinya putra kita sangat semangat sekali sekolahnya. " gumam Lizzie.


"Iya sayang kamu benar. " sahut Edgar yang mengajak istrinya pergi dari sana. Tiba di halaman mereka langsung masuk ke dalam mobil dan melesat pergi.


Pria itu mengantar sang istri ke kediaman mertuanya setelah itu pergi ke kantor.


Tiba di perusahaan kedatangan Edgar di sambut Damar, asistennya. Pria itu berjalan begitu saja tanpa membalas sapaan karyawan seperti biasanya.


"Maaf Tuan, ini ada beberapa karyawan magang. " ujar Damar pada sang atasan.


"Kenapa perempuan Dam? " tanya Edgar dengan sorot mata tajamnya. Damar menelan saliva nya, pria itu langsung menjelaskan pada atasannya tersebut.


Edgar menghela nafas panjang, dia menolak para karyawan wanita. Pria itu hanya ingin karyawan pria yang akan menjadi sekretarisnya yang bisa membantunya nanti.


"Maaf tuan, Anda bisa melihat CV daya lebih dulu. " ujar seorang wanita dengan rambut pirangnya.


"Tak perlu, sebaiknya kamu ke luar dari perusahaan ini. Saya hanya ingin karyawan yang profesional bukan merangkap sebagai wanita penggoda! " ketus Edgar.


Edgar meminta Damar untuk mengusirnya, pria itu lantas pergi dan masuk ke dalam lift.


Ke luar dari lift, Edgar langsung menuju ke ruangannya. Dia duduk di kursinya sambil meregangkan dasi yang melilit lehernya. Terdengar suara helaan nafas panjang ke luar dari bibirnya.Dia merasa perlu menjaga kepercayaan yang di berikan sang istri padanya.


"Aku tak ingin mengulang kesalahan yang sama hanya karena orang ketiga. " gumam Edgar. Dia pun mengusap wajahnya kasar, memilih memeriksa berkasnya.

__ADS_1


Tak lama Asisten Damar masuk ke dalam ruangan Edgar. Pria itu berjalan kearah atasannya itu.


"Tuan, di luar ada klien yang ingin bertemu dengan Anda! " ujar Damar.


"Biarkan dia masuk Dam! "


"Say permisi. " Damar langsung ke luar, tak lama Tuan Leon datang dan duduk di kursi. Pria itu mengenalkan dirinya pada Edgar.


Edgar fokus pada pria seumurannya itu. Dia menimbang nimbang tawaran yang Leon berikan padanya.


"Saya akan memikirkannya Tuan Leon, untuk masalah proyek saya tak bisa begitu gegabah mengambil keputusan. " ujar Edgar.


"Ya saya mengerti Tuan, bagaimana kalau nanti kita makan siang bersama. " ujar Tuan Leon yang di angguki oleh Edgar. Mereka kembali membicarakan bisnis.


Siangnya mereka makan siang di sebuah restauran terdekat. Obrolan keduanya tampak santai dan tak canggung. Edgar juga diam saja saat Leon mengatakan perihal keluarganya.


"Lalu bagaimana dengan Anda Tuan Edgar? " tanya Leon.


"Istri saya sedang hamil, putra pertama saya begitu pintar dan tak sabar menanti adik bayinya lahir. " ungkap Edgar.


"Baiklah saya pamit dulu. " ujar Leon setelah memanggil pelayan. Setelah kepergian kliennya itu, Edgar menghubungi istri tercintanya.


Pria itu lantas ke luar dari Restauran dan segera pergi. Edgar melajukan roda empatnya menuju ke tempat penjual seafood. Setelah mendapatkan makanan itu, Edgar melajukan rodanya menjemput putranya lebih dulu.


Dia juga membelikan eskrim untuk Harvey dan pergi ke mansion Harold. Keduanya langsung turun dan masuk ke dalam. Lizzie langsung menyantap seafood yang di bawakan suaminya.


"Terimakasih sayang aku jadi kenyang saat ini. " ungkap Lizzie dengan wajah cerianya. Edgar mengangguk, dia mengobrol dengan Daddy.


Lizzie mengusap perutnya yang membuncit. Fokusnya kini tertuju pada putranya yang telah selesai menghabiskan es krim. Wanita hamil itu tersenyum tipis melihat keceriaan di wajah sang anak.


"Mom, Dad rencananya aku dan Edgar akan menjenguk Alexa. Bukankah Alexa telah lahiran. " ujar Lizzie memulai obrolan lagi.

__ADS_1


"Biarkan kami saja yang ke sana nak, mami tak tega melihatmu bepergian jauh setiap hari. " ujar mommy Shella pada anaknya.


"Apa yang di katakan mommy benar sayang. " sahut Edgar. Lizzie menghela nafas panjang, dia membujuk suami dan kedua orang tuanya untuk mengizinkan dirinya menjenguk Alexa dan baby nya.


Wanita itu memilih menyerah kala suaminya tetap kekeh dengan keputusannya sendiri. Lizzie melipat tangannya sebentar kemudian mengusap perutnya, mengadukan pada calon bayinya.


"Ish mommy ngambekan. " ledek Harvey dengan jahil.


Lizzie melototi sang anak yang tertawa terpingkal. Edgar tergelak melihat raut kesal istrinya yang tengah di jahili Harvey. Dia pun mendengus pelan, membiarkan sang anak menertawakan dirinya.


Si kecil Harvey menghentikan tawanya, dia langsung meminta maaf pada sang mommy. Bocah tampan itu mendekat, mengusap perut besar sang mommy tercinta.


"Mom, kira kira adeknya Harvey laki laki apa perempuan? " tanya Harvey dengan polosnya.


"Rahasia sayang. " jawab Lizzie sambil tersenyum penuh makna.


"Yah padahal aku penasaran mommy. " rengeknya dengan nada manja.Lizzie menanggapinya dengan senyuman, dia mengusap kepala putranya dengan penuh kasih sayang.


Edgar dan lainnya tertawa kecil melihat interaksi ibu dan anak itu. Mommy dan Daddy turut terhibur dengan obrolan Lizzie dan Harvey yang sangat lucu.


Calon hot daddy itu mengajak sang anak pergi ke kamar. Rencananya mereka akan menginap di kediaman Harold. Setelah kepergian laki laki beda usia itu, Lizzie kembali mengobrol dengan orang tuanya.


"Sayang, kamu membuat mommy dan daddy penasaran dengan jenis kelamin baby kamu nanti. " ungkap Mommy Shella dengan nada penasaran.


"Iya mom sabar ya. Aku ingin ini menjadi sebuah kejutan untuk kita semua. Apapun jenis kelaminnya nanti, aku harap kasih sayang kalian pada calon babyku tak berkurang mommy! " ungkap Lizzie.


"Iya sayang mommy janji. " balas Mommy Shella dengan senyuman tipisnya.


Lizzie bisa bernafas lega saat ini. Dia berharap ketakutannya selama ini tak akan terjadi pada sang anak kelak. Terdengar suara helaan nafas panjang ke luar dari bibir Lizzie. Tak di pungkiri dia merasa khawatir jika terjadi ketidak adilan dalam keluarga kecilnya kelak.


"Mommy sangat sayang sama kamu nak apapun jenis kelamin kamu nantinya. " gumam Lizzie dengan penuh cinta. Wanita itu tak berhenti mengusap perut buncitnya sendiri.

__ADS_1


Tepat pukul tujuh malam mereka berkumpul di meja makan. Canda tawa mewarnai makan malam mereka seperti biasanya. Celotehan Harvey begitu menghibur mereka semua. Lizzie tentu saja di buat gemas dengan tingkah polah sang anak.


"Sayang makan dulu setelah itu baru melanjutkan obrolan. " tegur Lizzie yang di angguki Harvey. Kini suasana berubah hening, mereka fokus pada makanan masing masing.


__ADS_2