
Dua bulan sudah Lizzie dan Edgar tinggal di negara lain. Kini mereka telah kembali ke negara E bersama Harvey. Kini mereka telah berada di mansion, Lizzie memeluk mertuanya meluapkan rasa rindunya.
"Sehat sehat ya cucu mami dalam perut kamu sayang. " gumam Mami Diora mengusap perut menonjol sang menantu.
"Iya Mami. " balas Lizzie sambil tersenyum. Wanita hamil itu mengatakan perihal Harvey dan menjelaskan siapa bocah tampan itu.
"Sayang sini sama oma Diora. " ucap mami pada cucu sambungnya itu. Harvey langsung mendekat, dia memeluk sang oma.
"Oma, Vey tak sabar menanti adik bayi lahir. " ungkap Harvey dengan polosnya.
"Oma juga sayang. " Mami Diora mencium cucu sambung laki lakinya itu. Lizzie dan Edgar saling melempar senyuman satu sama lain.
"Mami kami ke kamar duluan ya. " ucap Edgar yang di angguki mami Diora. Edgar mengajak istrinya menuju ke kamar meninggalkan Harvey bersama sang oma.
Cklek
Pasutri itu masuk ke dalam kamar. Edgar memeluk istrinya dari belakang, Lizzie berbalik dan mencium suaminya dengan liar. Calon hot daddy itu mengakhiri ciumannya, mengajak istrinya ke kamar mandi.
Satu jam kemudian keduanya baru ke luar, masing masing telah berpakaian. Merasa lelah Lizzie lebih dulu membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
Edgar menciumi perut sang istri dengan penuh cinta.
tok
tok
"Permisi tuan, di luar ada tuan Damar menunggu anda. " ujar pelayan.
"Sayang,aku temui Damar dulu. " Edgar mencium kening istrinya. Pria itu langsung beranjak dari ranjang dan ke luar dari kamar. Lizzie tentu saja membiarkannya, wanita hamil itu mengajak bicara calon bayi dalam perutnya.
Dia memilih mengambil ponselnya, mengetik nomor sang mommy. Terdengar suara helaan nafas berat ke luar dari bibirnya.
"Halo mommy! "
"Lizzie, apa itu kamu nak? " tanya Mommy dengan nada bergetar.
"Iya aku Lizzie, aku telah kembali dari liburan kami mommy. " ungkap Lizzie.
__ADS_1
Tiba tiba suasana menjadi hening. Lizzie menunggu sang mommy kembali berbicara padanya.
"Datanglah ke villa kami mom, sore ini kami akan mengadakan pesta barbeque. " ungkap Lizzie.
"Mommy dan daddy akan datang. " jawab mommy. Sambungan terputus, Lizzie menaruh kembali ponselnya di atas meja. Dia kembali mengusap perutnya dengan penuh kelembutan.
Sore harinya
Lizzie menyambut kedatangan orang tuanya. Tangis haru memenuhi ruangan, kedua wanita beda usia itu saling meminta maaf satu sama lain.
"Mommy, Daddy saat ini aku telah hamil buah cintaku dengan Edgar. " ungkap Lizzie sambil menyentuh perutnya.
"Benarkah sayang? " tanya Mommy tak percaya.
"Iya Mommy. "
Mommy langsung memeluk sang anak, memberikan selamat untuk putrinya itu. Hal sama di lakukan Daddy Farhan. Puas mengobrol dengan orang tuanya, Lizzie bergabung bersama dengan para sepupu dan sahabatnya.
"Tokcer juga kamu Jo. " ceplos Lizzie. Veronica langsung menabok lengan sang sahabat. Lizzie terkekeh pelan, dia menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. Jonathan hanya bisa mendengus pelan mendengar ucapan frontal Lizzie.
"Sorry ya kami tak bisa menghadiri pernikahan kalian berdua. " ujar Lizzie merasa bersalah pada sang sahabat.
"Its oke Liz, aku paham kok sama keadaan kamu. " sahut Veronica sambil tersenyum.
"Soal Harvey, kalian telah mengadopsinya? " tanya Jonathan memastikan.
"Iya Jo, mami juga sepakat dengan keputusan ini. " balas Edgar.
"Lihatlah para orang tua kita begitu gemas dengan Harvey yang begitu pintar. " ungkap Edgar melirik ke meja orang tuanya. Jonathan membenarkan ucapan mantan rivalnya itu.
Canda dan tawa mewarnai obrolan. Pelayan datang membawakan ikan yang telah selesai di bakar dan minuman segar untuk mereka. Mereka semua menyantapnya bersama sama.
Mereka semua tampak melakukan tos dengan menggunakan gelas yang terisi wine. Terkecuali Lizzie dan Veronica hanya meminum teh hangat masing masing.
__ADS_1
Setelah pesta usai mereka masuk ke dalam mansion dan pergi ke kamar masing masing. Mereka semua menginap satu malam di villa Edgar.
"Sayang sepertinya kau sangat senang sekali? " tanya Edgar mencium pipi chubby istrinya.
"Tentu saja sayang, aku dan mommy telah berbaikan. Rasanya tak sanggup aku jika harus bermusuhan dengan ibuku sendiri. " ungkap Lizizie dengan senyuman lebarnya.
"Kau benar sayang, apalagi mommy dan daddy memberikan restu nya pada kita berdua. " sahut Edgar. Pria itu mencium Istrinya dengan lembut, dia turut bahagia melihat sang istri bahagia seperti sekarang.
"Yuk tidur, udah malem bumilku. " ujar Edgar. Lizzie mengangguk, segera memejamkan kedua matanya.
Keesokan harinya kedua insan suami istri itu sudah bangun dan selesai berpakaian. Mereka lekas ke luar dari kamar dan mengajak Harvey turun ke bawah. Para orang tua telah menunggu di meja makan.
Sarapan kali ini terasa sangat meriah. Mommy tampak terharu melihat putrinya tampak bahagia dengan. keluarga kecilnya. Suara celotehan Harvey mencairkan suasana.
"Harvey sayang, ikut oma dan opa ya. Kita beli mainan yang banyak untuk kamu boy. " ujar Mommy pada sang cucu.
"Iya Oma Shella, Vey juga ingin boneka jerapah. " jawab Harvey dengan polos. Semua orang tergelak mendengar ucapan polos Harvey barusan.
Setelah lima belas menit berlalu, mereka selesai sarapan. Mommy dan Daddy mengajak si kecil Harvey bersama mereka meninggalkan kediaman Edgar.
Edgar pamit ke kantor, sementara Lizzie dan mertuanya kini berada di ruang tamu. Wanita paruh baya itu membuka majalah yang dia pegang sambil mengobrol dengan Lizzie.
"Rasanya sangat lega mami, aku telah berbaikan dengan mommy dan Daddy. Selama ini rasa bersalah terus bersarang dalam benakku. " gumam Lizzie.
"Mami turut senang melihatnya nak, kau seorang ibu sekarang. Kau harus bisa berpikir leluasa saat mengambil keputusan. " tegur Mami Diora dengan lembut.
"Iya Mam, terimakasih karena selalu memberikan nasehat padaku. " gumam Lizzie yang di angguki Mami Diora.
Salah satu pelayan mengantarkan segelas susu untuk Lizzie. Wanita hamil itu menerimanya, meminta pelayan membawakan buah yang telah si kupas dan di potong kecil kecil.
"Mom, pipi dan tubuhku saat ini gemuk. Aku takut Edgar berpaling ke wanita lain. " ungkapnya.
"Berat bada kamu bertambah itu hal wajar sayang, kamu kan sedang hamil. " sahut mami.
Lizzie menghela nafas panjang, dia merasa lega setelah mendengar ucapan sang mertua.Mami Diora menggelengkan kepalanya melihat perubahan sikap sang menantu yang sensitif.
Wanita paruh baya itu bisa memaklumi, di masa muda dia juga merasakan hal sama. Dia kembali menengok majalahnya dengan santai. Lizzie asyik meminum susunya hingga habis. Dia pun memperhatikan mertuanya dalam diam. Lizzie tentu saja beruntung memiliki mertua sebaik mami Diora.
__ADS_1