
Hendra yang mendengar perkataan Dian langsung diam,karena kaget saat Dian mengatakan kakek Zara mantan mertuanya meninggal dunia.
"Apa Papah sakit,?"
"Tidak,,Papah tidak sakit,Papah masuk kamar sebelum mahrib,dan Jam 7 kita panggil untuk makan malam,tapi di ketuk kamarnya ngga di buka aja,lalu Mas Doni mendobraknya,saat kita dekati Papah ,Papah sudah ngga sadar dan kita bawa rumah sakit,sampai di rumah sakit Dokter langsung menanganinya,tapi,,tapi sepuluh menit yang lalu Dokter bilang Papah sudah meninggal,,"Dian menceritakanya sambil menangis tersedu sedu.
"Kita akan kesana sekarang,kamu harus sabar dan tabah,ini semua sudah takdir Papah dari Tuhan,"Dian menjawab Iya.
Telfon pun mati,lalu Hendra melihat ke Zara,Hendra bingung mau bilang ke Zara nya gimana.
"Ada apa mas,,?"tanya Dea,Hendra lalu menarik Dea untuk sedikit menjauh,dan Hendra memberitahukan tentang kakek yang meninggal,Dea pun langsung kaget.
"Kamu yang beri tau kabar ini ke Zara yah,Mas ngga sanggup memberi taunya,"
"Iya Mas,,tapi sekarang kita pulang dulu,kita kasih taunya di rumah aja,Zara pasti akan sangat sedih,"Hendra bilang Ya.
Hendra lalu mengajak pulang semuanya,wajah Hendra dan Dea sedikit berbeda dan Zara juga Rizki pun melihat nya.
"Ki,,kamu yang bawa mobil,kita pulang sekarang,"kata Hendra,Rizki hanya menjawab iya,Dea juga bilang ke Mba juga pak supir untuk pulang.
__ADS_1
"Bun,,ada apa Sih,,kok kaya ada masalah,,?"tanya Zara pada Dea.
"Ngga ada apa-apa sayang,sekarang kita pulang yuk,,"Dea lalu menuntun Kia,sedang kembar juga berjalan di samping Dea.
Di jalan Hendra diam terus,sambil berfikir nanti akan langsung berangkat.
Sampai rumah Hendra menyuruh Duduk dulu di ruang keluarga,dan Dea menyuruh Mba Mimin mengajak Kia ke kamar dulu.
Sekarang ada Zara,Rizki ,kembar ,Hendra dan Dea.
"Sayang,,tadi Mamah Dian telfon Papah,dan kata Mah Dian kakek ,,"Dea berhenti bicara karena Zara sudah terlihat tegang.
"Bun,,jangan becanda Bun,,ngga mungkin kakek,,kakekk,,"Rizki yang duduk di sebelah Zara langsung mengusap punggung Zara.
"Ngga sayang,,ini benar,,kita akan berangkat sekarang ke rumah kakek,,"
"Ngga,,kakek ngga mungkin,,Bang,,Kakek Bang,,"
Hendra yang ngga mau melihat Zara menangis langsung bilang ke kembar untuk tetap di rumah,ngga boleh ikut karena besok ada ulangan di sekolahnya.
__ADS_1
Hendra menyuruh Dea bersiap juga,dan Pak supir di ajak juga untuk gantian nyetir nanti,Dea juga menyuruh Mba Mimin ikut karena untuk membantu Zara menjaga Kia.
Rizki dan Zara tidak bawa baju ganti,untung saja Zidan bawa baju dan perlengkapan lainya.
Rizki merangkul Zara menuju mobil ,Zara terus saja menangis.
Hendra dan pak supir di depan,Zara dan Rizki juga Bunda di tengah,mba minim dengan Kia di belakang,dan Kia sudah tidur.
Mobil melaju cukup cepat karena jalanan sepi,jam sudah menujukan pukul setengah 11 malam.
"Sudah sayang,,jangan nangis terus,kamu harus ikhlas,,ini sudah takdir dari Tuhan,"Kata Rizki sambil mengusap kepala Zara.
"Iya sayang ,benar yang di katakan Rizki,kamu harus ikhlas,,"Dea juga ikut bicara.
"Tapi kenapa tiba tiba gini,kemarin sore aja kakek masih telfonan sama Zara Bun,,"
"Iya namanya hidup dan kematian hanya Tuhan yang tau,kita hanya bisa menerimanya,kakek tiada juga tidak sakit,dan tidak merepotkan Anak dan cucunya,Kakek sungguh orang baik sampai akhir hidupnya pun tidak tidak mengalami kesakitan,"Zara mendengarkan perkataan Dea,dan benar memang Kakek orang yang sangat baik dan sangat menyayangi keluarganya.
jangan lupa like komen dan votenya trimakasih...
__ADS_1