Suamiku Bukan Milik Ku

Suamiku Bukan Milik Ku
Bab 22


__ADS_3

Seperti biasa disepanjang jalan kami saling diam, tidak ada yang memulai pembicaraan. Hingga tibalah kami di Perusahaan ku, aku pun turun dari sepeda motor milik suami ku.


"Sudah sampai." Ucap Mas Tio.


"Makasih iya Mas! Udah mau mengantarkan aku ke kantor." Ucap ku sambil membuka helm dan menyerahkannya kepada Mas Tio.


"Sama-sama, Dek. Iya udah Mas berangkat ke kantor iya." Ucap nya pamit sambil menerima helm dan menyimpannya di motor.


"Iya, Mas hati-hati di jalannya. Semoga Allah melancarkan segala urusan Mas dan Semoga Mas selalu dalam lindungan-Nya." Do'a ku tulus.


"Aamiin, kamu juga iya dek! Mas berangkat." Ucap nya sambil menjalankan sepeda motor nya.


"Assalamualaikum, Mas." Teriak ku sambil melambaikan tangan.


Biasanya sebelum pergi Mas Tio selalu memberikan kecupan di kening atau mengelus pelan rambutku, kini kebiasaan kecil itu mulai terlupakan olehnya.


Aku pun berjalan masuk ke dalam Perusahaan dengan tidak bersemangat, namun aku tetap menampilkan senyum paksa ku. Tidak ingin ada orang yang tau permasalahan yang aku alami.


Ting. . .


Lift pun terbuka, aku masuk ke dalam lift dan kemudian aku termenung. Memikirkan mau di bawa ke mana rumah tangga ku, jika terus seperti ini.


Setelah tiga di lantai Ruangan ku berada, aku berjalan tanpa menoleh ke kanan dan kiri. Bahkan tak mendengar sapaan Sekretaris Dian yang menyapaku, lantas ku buka pintu ruangan.


Tanpa berkata-kata, aku mulai mengerjakan berkas yang ada. Hingga tak lama aku terkejut saat Selva membuka pintu dengan kencang.


BRAKK. . .


"Hosh. . . Hosh. . . Hosh." Suara napas Selva yang terdengar.


"M-maaf m-ba a-ku te-lat." Ucap Selva sambil terengah-engah sehabis berlari.


"Mmmm. . . ." Jawab ku singkat, sambil terus mengerjakan berkas yang ada tanpa melihat Selva.


Selva pun terkejut dengan jawaban yang ku berikan, hingga dia mematung tak jauh dari pintu. Kemudian setelah dia mengatur napasnya, Selva pun mendekati ku.


"Mba baik-baik aja kan? Mba kenapa? Ayo cerita dong! Aku siap dengerin cerita mba! Jangan di pendem sendiri dong! Mba punya aku buat cerita." Ucap Selva mencecar ku dengan pertanyaan.


"Udah kamu duduk, istirahat dulu. Mba mau ngerjain berkas ini dulu, jangan ganggu mba." Ucap ku yang masih fokus dengan berkas.

__ADS_1


Tanpa berkata-kata Selva pun berjalan menuju sofa dan merebahkan badannya. Sambil memikirkan apa yang terjadi pada ku, dan tak lama dia bertanya kembali.


"Ayolah mba cerita! Rasanya aneh banget loh! Mba ngga marahin aku! Ayo dong mba!" Rengek Selva.


"Mba ngga apa-apa! Udah kamu jangan berisik." Ucap ku.


Tak terasa 2 jam pun berlalu aku mengerjakan berkas-berkas yang menumpuk ini, tinggal sedikit lagi. Namun ku renggangkan terlebih dahulu badan ku yang terasa pegal.


"Iya ampun anak itu!" Ucap ku menggelengkan kepala, melihat Selva yang sedang tertidur pulas di sofa.


"Pantesan ngga ada suaranya, ternyata lagi asik tidur." Ucap ku sambil berjalan menuju sofa, untuk membangunkan Selva.


Namun tiba-tiba aku punya ide, untuk menjahili nya. Dengan senyum jahat, aku menghampiri Selva.


"KEBAKARANNNN. . ." Teriak ku di samping telinga Selva.


"Kebakaran. . . Kebakaran. . . Tolong . . . Api. . ." Teriak Selva sambil berlari ke sana ke sini dengan rambut berantakan dan muka bantal.


"Toloooonngg. . . Mba ayo keluar. . Cepetan!" Teriak Selva sambil menarik tangan ku dan aku sudah tidak kuat menahan tawa.


"Hahaha. . . Hahaha. . . Iya ampun kamu!" Aku pun tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan Selva.


"Ayo mba kita keluar, TOLONG. . . KITA DI SINI. . ." Teriak Selva.


"Hahaha. . . Di mimpi mu. . . Hahaha. . ." Ucap ku sambil terus tertawa.


"Mba kenapa ketawa? Harusnya kan panik! Ayo cepetan kita keluar." Ucap Selva yang masih belum sadar, bahwa aku yang mengerjai dia. Hingga tiba-tiba, ada yang mengetuk pintu Ruangan ku.


Tok. . . Tok. . . Tok. . .


"Masuk." Teriak ku.


Ceklek. . .


"Maaf Bu mengganggu." Ucap Sekretaris Dian yang kemudian terlihat seperti menahan tawa, melihat Selva.


"Ekhmm. . . Iya ada apa?" Ucap ku berusaha menahan tawa.


"Ibu ada meeting dengan TIM A 15 menit lagi, untuk membahas proyek PT. Jaya Wijaya di ruang meeting." Ucap Sekretaris Dian mengingatkan ku.

__ADS_1


"Oke! Kamu siapkan semuanya iya, 10 menit lagi kita ke ruang meeting." Ucap ku.


"Baik Bu, kalau begitu saya permisi." Ucap Sekretaris Dian yang akan meninggalkan ruangan, namun di tahan oleh Selva.


"Sebentar-sebentar, jadi ini ada kebakaran atau ngga? Kenapa kalian nyantai gini? Tadi siapa yang teriak kebakaran?" Tanya Selva yang mulai sadar, bahwa tidak ada kebakaran dan seketika itu pun tawa ku kembali pecah.


"Hahaha. . . Hahaha. . ." Tawa ku.


"Kebakaran? Ngga ada kebakaran Bu." Ucap Sekretaris Dian yang kini mulai paham apa yang terjadi sambil menahan tawanya.


"APAAA???" Teriak Selva.


"Hahaha. . ." Aku pun masih tertawa melihat kelakuan Selva.


"Pasti ini mba! Iya kan? Jawab! Mba pasti sengaja ngerjain aku kan?" Tanya Selva kesal.


"Hahaha. . ." Aku pun terus tertawa.


"Mohon maaf Bu, saya permisi kembali ke ruangan untuk menyiapkan berkas yang diperlukan saat meeting." Ucap Sekretaris Dian yang ingin segera keluar dari ruangan ku.


"Oke!" Ucap ku singkat dengan menahan tawa.


"MBBBAAAA!!!" Teriak Selva kesal.


"Hahaha. . . Oke maaf. . . Maaf." Ucap ku sambil berusaha menghentikan tawa ku.


"Mba jahat banget sih! Aku lagi tidur nyenyak! Aduhhh. . . Kepala ku jadi pusing nih! Mba jahat banget!" Ucap Selva kesal, sambil memijit kepalanya.


"Hahaha. . . Salah kamu sendiri, udah datang terlambat! Eh. . . Malah enak-enak tidur, bukannya bantuin ngerjain berkas!" Ucap ku yang menyalahkan Selva.


"Iya kan mba juga aku ngomong, ngga di dengerin terus! Iya udah aku tidur aja, lagian mba kenapa sih tadi? Aku ngomong jawabnya singkat terus! Lagi sakit gigi atau apa?" Tanya Selva penasaran dan seketika aku pun kembali sendu, mengingat hal yang membuatku sedih hari ini.


"Udah ah. . Mba mau meeting! Kerjain tuh berkas di meja, awas kalau tidur lagi! Mba hukum lagi." Ancam ku pada Selva.


"Iya ampun Mba! Tolong lah, aku ini masih syok. Masa di suruh ngerjain berkas?" Ucap Selva memelas.


"Ngga mau tau, pokoknya mba selesai meeting! Berkas di atas meja harus selesai, kalau ngga mba akan hukum kamu lagi." Ucap ku sambil membereskan barang, kemudian bersiap keluar ruangan.


"Tapi mba, kepala aku ini masih pusing! Mba sih bangunin aku kaya gitu, pusing nih kepala aku!" Ucap Selva mengeluh karna aku mengerjainya dan aku pun tertawa pelan.

__ADS_1


"Iya maaf deh! Mba kan bercanda hehehe. . . Mba kasih waktu 15 menit buat kamu ngumpulin nyawa iya! Terus kamu kerjain itu berkas, oke sayang ku! Mba ke ruang meeting dulu." Ucap ku pamit sambil mengelus pelan kepala Selva yang sedang berbaring di sofa.


Aku pun berjalan keluar ruangan dan pergi menuju Ruang Meeting dengan Sekretaris Dian. Saat kami sampai, ternyata TIM A sudah datang. Sehingga kami langsung memulai meeting, membahas Proyek PT. Jaya Wijaya yang kami menangkan.


__ADS_2