Suamiku Bukan Milik Ku

Suamiku Bukan Milik Ku
Bab 29


__ADS_3

"Jadi ada yang ingin kamu jelaskan?" Tanya Bang Naufal, dan muka ku pun langsung tertunduk sedih.


"Sudah berapa lama kamu tau suami mu selingkuh?" Tanya Bang Naufal lagi, aku masih diam membisu dengan menautkan kedua tanganku.


"Kenapa diam! Cepat jawab pertanyaan Abang!" Ucap Bang Naufal tegas.


"Abang jangan begitu!" Tegur Mama, kemudian Mama memegang bahu dan tangan ku memberikan aku kekuatan.


"Ayo sayang kamu ceritakan kepada kami semua, apa yang sudah terjadi dengan rumah tangga kamu? Ngga perlu ada yang di tutupi, kamu harus terbuka dengan kami. Ayo coba cerita." Bujuk Mama dengan lembut, aku pun menarik napas panjang sebelum menceritakan segalanya kepada keluarga ku.


"Maafin Ade, bukan nya Ade ngga mau cerita. Cuman ini aib rumah tangga Ade dan Ade malu untuk ceritanya." Ucap ku sendu dengan menggenggam tangan Mama lebih kuat, bertanda aku takut.


"Tidak apa-apa sayang, ayo cerita. Kami di sini tidak akan menghakimi siapa pun, kami hanya ingin mendengarkan apa yang terjadi dari mulut kamu." Ucap Mama lembut sambil mengusap tanganku.


"Jadi sebenernya. . .


. . .


Aku pun menceritakan dari awal aku menikah, ibu mertua yang tinggal bersama kami, aku yang belum hamil membuat aku stres dan akhirnya aku memutuskan untuk kembali bekerja. Namun ternyata suami aku memiliki wanita lain di belakang ku.


Aku menceritakan semuanya dengan air mata yang berlinang, Mama pun memeluk ku dengan erat. Dan aku pun menceritakan pertemuan ku dengan Mas Tio dan selingkuhan nya.


". . . Ade minta maaf baru cerita sekarang." Ucap ku mengakhiri cerita tentang rumah tanggaku pada keluarga ku.


Ku lihat Mama ikut menangis, Papa dan kedua Kakak ku terlihat menahan amarah dan mengepalkan tangan mereka. Kemudian Papa menarik napas panjang, sebelum berbicara padaku.


"Kenapa ngga cerita dari awal, Dek? Kamu punya keluarga, tempat berkeluh kesah. Kenapa harus menyimpan semua penderitaan sendiri?" Tanya Papa kecewa, kemudian berdiri dan menghampiri ku.


Aku pun langsung memeluk Papa dengan erat dan menangis sejadi-jadinya. Papa menepuk-nepuk punggung ku, berusaha menenangkan ku.


"Ma-af a-de u-da-h bu-at se-mu-a ke-ce-wa." Ucap ku terbata-bata, karena menangis sesenggukan. Kemudian aku merasakan semakin banyak yang memeluk ku, rasanya nyaman sekali berada di pelukan keluarga ku.


"Sudah. . Sudah. . Jangan menangis lagi." Ucap Papa sambil melerai pelukan, kemudian mengusap air mata di kedua mata ku.


"Apa pun yang kamu rasakan, kamu bisa berbagi dengan kami semua. Kami akan selalu ada untuk kamu, jangan pernah lakuin ini lagi iya?" Ucap Papa sambil menepuk pelan kepala ku.

__ADS_1


"I-ya Pa." Ucap ku di sisa tangis ku.


"Ingat kamu punya keluarga yang akan menemani saat suka dan duka! Jangan ulangi hal ini lagi." Ucap Bang Naufal sambil memberikan senyuman untuk ku.


"Lain kali lebih terbuka dengan kami, Dek! Kita bisa mencari solusi bersama." Ucap Kak Niko pada ku.


"Anak Mama yang cantik, jangan menangis lagi. Air mata kamu terlalu mahal, hanya untuk orang-orang yang tidak penting. Sekarang coba Mama pengen liat senyum kamu." Ucap Mama berusaha menghibur ku dan aku pun tersenyum kecil.


"Senyum apaan itu? Senyum itu yang lebar, nih kaya gini." Ucap Kak Niko sambil tersenyum lebar. Meski aku tau dia pun ikut menangis, karena matanya memerah.


"Ini juga udah senyum Kak." Ucap ku pura-pura kesal, namun aku tetap tersenyum dan langsung memeluk ke dua kakak ku.


"Liat ini Ma, Pa! Masa Princess kita senyum nya jelek gitu? Perasaan Princess kalau senyum bisa membuat semua laki-laki meleleh. Hahaha. . ." Ucap Kak Niko menggoda ku agar mau tersenyum lepas kembali.


"Abang, itu liat Kakak! Ngeledekin Ade terus Bang." Ucap ku merajuk dan mengadu, sambil menggoyangkan tangan Bang Naufal.


Kemudian semua orang ikut tersenyum dan tertawa bersama, kami pun bercanda tawa sambil memakan cemilan yang di bawakan Dian.


"Oh. . . Iya! Kenapa semuanya pada tau Ade ada di sini?" Ucap ku bingung sambil menatap satu persatu keluarga ku.


"Kamu pikir, setelah menikah. Kami semua akan lepas tanggung jawab dari kamu?" Tanya Bang Naufal dan di balas anggukan kepala oleh ku.


"Sayang kamu itu segalanya buat kami, tidak mungkin kami tidak mencari tau tentang kehidupan kamu. Kami selama ini hanya menunggu kamu datang untuk bercerita, namun hingga kini kamu tidak juga datang pada kami." Ucap Mama kecewa pada ku.


"Maafin Ade iya, Ma! Tadinya Ade cuman mau mengatasi masalah Ade sendiri, tapi ternyata Ade ngga sekuat itu." Ucap ku sambil kembali memeluk Mama.


"Iya sudah yang lalu biarlah berlalu, sekarang kamu harus fokus menata hidup kamu iya sayang." Ucap Mama lembut sambil mengelus rambut ku.


"Iya Ma." Jawab ku sambil memejamkan mata, menikmati pelukan hangat yang sudah beberapa bulan ini tidak aku rasakan.


Tidak ada yang bisa mengalahkan hangatnya pelukan seorang Ibu dan tidak ada yang bisa mengalahkan kasih sayang keluarga.


Aku bersyukur memiliki keluarga yang begitu menyayangi dan memperdulikan ku, selalu ada di saat aku membutuhkan dan selalu memaafkan segala kesalahanku.


Tiba-tiba Papa berkata.

__ADS_1


"Jadi langkah apa yang akan kamu ambil selanjutnya?" Tanya Papa, sambil mengelus sayang rambut ku.


"Aku ngga tau Pa." Ucap ku sendu.


"Jangan ragu untuk mengambil keputusan, Papa yakin kamu tau mana yang baik dan tidak baik untuk mu. Jika butuh bantuan bilang pada Papa." Ucap Papa tegas.


"Iya terima makasih banyak Pa." Ucap ku kemudian memeluk Papa.


"Gimana kalau kita liburan?" Ucap Kak Niko memberikan ide.


"SETUJU." Teriak Selva dan Dian yang tiba-tiba, membuat kami semua terkejut.


"Woy. . . Kalau mau teriak kasih aba-aba dulu dong! Jangan bikin kaget." Ucap Kak Niko marah sambil memegang dadanya.


Karena posisi berdiri Kak Niko membelakangi mereka, sehingga tidak sadar mereka datang. Dan hanya mereka hanya cengengesan dengan wajah polos.


"Sudah. . . Sudah kalian ini iya." Ucap Mama sambil menggelengkan kepala.


"Tapi bener Ma, mereka bikin kaget kita. Mama aja terkejut kan?" Tanya ku pada Mama.


"Sudah ngga perlu di bahas lagi! Ayo kalian ke sini, masa berdiri di situ. Sini duduk bersama kami." Ucap Mama lembut.


"Iya Ma." Ucap Selva dan Dian, yang kemudian berjalan menuju sofa. Dan tak lupa Selva yang jahil dengan sengaja menyenggol Kak Niko.


"Woy. . . Senggol-senggol!" Ucap Kak Niko ketus dan Selva hanya memutar bola mata jengah. Sedangkan yang lain menggelengkan kepala pusing melihat mereka berdebat.


"Jadi mau liburan ke mana?" Tanya Papa yang sejak tadi diam.


"Yes. . . Ada donatur buat kita liburan." Ucap Kak Niko sambil tertawa riang, sedangkan Papa hanya menaikan alisnya sebelah.


"Kamu yang mengajak liburan, masa Papa yang biayain?" Ucap Papa santai.


"Tap-i. . ." Ucapan Kak Niko terhenti, karena dering telpon milik Papa.


Kring. . . Kring. . . Kring. . .

__ADS_1


Saat Papa melihat handphone nya raut wajah Papa berubah drastis, membuat kamu semua heran.


Kring. . . Kring. . . Kring. . .


__ADS_2