
Deg. . .
Kulihat wajah Mas Tio yang terkejut dan seketika pucat, menandakan dia benar-benar tidak menyangka aku akan memergoki nya sedang makan bersama selingkuhannya.
"Mas. . ." Panggil ku sekali lagi, karena Mas Tio tidak menjawab panggilan ku yang pertama.
"E-h. . . I-ya." Ucap Mas Tio gugup dan muka pucat nya, tetapi tidak membuat ku iba.
"Mas lagi makan siang di sini juga iya?" Ucap ku pura-pura polos.
"I-ya, M-as ma-kan si-ang di-sini." Ucap Mas Tio terbata-bata saking gugup nya, tiba-tiba wanita berhijab itu ikut berbicara.
"Mba yang waktu itu meeting bareng kita kan iya? Yang memenangkan proyek PT. Jaya Wijaya?" Tanya perempuan berhijab itu menyela pembicaraan kami.
"Iya betul! Perkenalkan nama saya Nadira Hutama." Ucap ku sambil mengulurkan tangan, dengan sedikit melirik ke arah Mas Tio yang ketakutan rahasianya terbongkar.
"Hallo Mba, nama saya Sifa. Saya senang sekali bisa bertemu dengan Mba, waktu Mba presentasi itu keren banget! Hebat banget Mba!" Ucap Sifa sambil menjabat tangan ku dengan terkagum-kagum, dan aku pun tersenyum getir.
Selingkuhan suami ku, senang bertemu dengan ku?
Apa saat nanti dia tau bahwa aku adalah istri sah dari laki-laki yang ada di hadapannya, dia akan tetap mengagumiku?
Aku yakin tidak!
Karena dia tidak tau, aku adalah istri sah Mas Tio. Dia bisa berperilaku seperti itu di depan ku.
Dan aku tidak peduli hal itu, yang aku inginkan Mas Tio mengerti dengan peringatan yang aku berikan ini.
"Hallo Sifa, senang juga bertemu dengan kamu?" Ucap ku sambil tersenyum paksa dan ku lihat Mas Tio terus mengusap keringat nya yang bercucuran.
"Mba makan siang di sini juga?" Tanya Sifa.
__ADS_1
"Iya kami mau makan siang di sini, kebetulan Restoran ini dekat dengan kantor." Ucap ku tersenyum paksa.
"Oh. . Iya! Betul juga iya! Restoran ini kan sebelah nya PT. NH grup, bisa sering-sering iya mba ke sini?" Tanya Sifa yang antusias mengajakku berbincang.
"Mba mau gabung dengan kami? Keliatan nya meja nya sudah penuh semua." Ucap Sifa antusias menawari kami untuk bergabung di meja nya dan ku lirik Mas Tio tampak terkejut dengan apa yang Sifa lakukan.
Namun tak ada satu patah kata pun yang diucapkan nya. Aku sangat menikmati ekspresi ketakutan yang Mas Tio tunjukkan, ingin sekali aku memberikan tamparan di wajahnya.
Tapi itu tidak akan seru, aku masih ingin bermain-main dulu dan memberikan pelajaran untuk suami ku tercinta.
"Memangnya tidak apa-apa, jika kami ikut bergabung di sini?" Tanya ku memancing Mas Tio agar lebih ketakutan.
"Iya ngga apa-apa dong mba! Malah aku seneng banget, ayo mba sini duduk aja. Iya kan Mas?" Ucap Sifa riang kemudian melirik Mas Tio yang tampak pucat.
"I-ya." Ucap singkat Mas Tio.
"Loch. . . Kamu kenapa Mas? Ko muka kamu pucat? Kamu sakit Mas? Tadi kamu baik-baik aja! Apa ada yang salah dengan makanannya? Kita ke dokter aja iya!" Ucap Sifa khawatir dengan Mas Tio hingga mencecar nya dengan berbagai pertanyaan, sambil memeriksa keadaan Mas Tio.
"Wah Sifa ini sangat perhatian iya dengan Mas Tio." Ucap ku pada Sifa dan membuat Mas Tio semakin berkeringat dingin.
"Iya mba kami itu sebenernya se- . . " Ucapan Sifa yang aku tunggu-tunggu ternyata sengaja di potong oleh Mas Tio.
"Ja-m ma-kan siang sudah habis, Mas mau kembali ke kantor." Ucap Mas Tio yang ntah ingin di tujukan kepada siapa.
"Tapi Mas pucet banget mukanya! Kita ke Dokter aja iya? Biar aku yang telpon ke kantor." Ucap Sifa yang benar-benar khawatir dengan Mas Tio.
"JANGAN!" Teriak Mas Tio dan membuat kami semua bingung, kenapa tiba-tiba Mas Tio berteriak seperti itu.
Ide jahil ku pun muncul.
"Mas Tio kenapa? Perlu saya antar? Kebetulan saya bawa mobil, biar lebih cepat ke Rumah Sakit nya." Ucap ku pura-pura terkejut dengan teriakan Mas Tio.
__ADS_1
"Tidak terimakasih, Mas duluan ke kantor." Ucap Mas Tio yang langsung buru-buru bangun dari duduk nya dan pergi begitu saja, membuat Sifa bingung dengan tingkah Mas Tio.
"Maaf iya Mba, bukannya kurang sopan. Mungkin Mas Tio memang sedang buru-buru, sekali lagi saya minta maaf iya Mba." Ucap Sifa merasa tidak enak pada ku.
"Ngga apa-apa ko Sifa, kamu tenang aja! Iya sudah kalau begitu saya duluan iya! Senang berjumpa dengan kamu!" Ucap ku dengan senyum paksa dan mengulurkan tangan ku.
"Senang juga bisa berjumpa dengan Mba Nadira! Semoga lain kali kita bisa bertemu lagi iya Mba." Ucap Sifa antusias sambil berjabat tangan dengan ku.
"Pasti kita bertemu lagi, saya permisi." Ucap ku sambil berjalan menjauh dari meja Sifa.
Aku, Selva dan Sekretaris Dian berjalan kaki menuju kantor kami, sepanjang jalan kami tidak mengobrol sama sekali. Mungkin mereka tau bagaimana suasana hati ku saat ini, jadi mereka memilih diam.
Hingga tibalah kami di Ruang Direktur, tempat ku bekerja sekarang ini. Ku tarik napas dalam, kemudian ku buka pintu ruangan ku.
Ceklek. . .
Saat ku berjalan menuju meja kerja ku, langkah kaki ku semakin berat. Hingga akhirnya aku pun terduduk lemas di lantai depan meja ku.
Aku termenung dengan air mata yang mengalir di pipi ku, tak lama kurasakan pelukan hangat menerpa tubuhku. Ternyata Dian dan Selva memeluk ku dari belakang, memberikan aku kekuatan.
Namun air mata terus mengalir di iringi isakan kecil ku, meratapi kisah rumah tangga ku yang berujung tanduk. Aku pun bingung apa yang harus aku lakukan dengan rumah tangga ku.
Isakan kecil terus keluar dari mulut ku, tak tertahankan. Semakin lama pandangan ku semakin tak jelas, karena air mata yang terus mengalir. Hingga aku pun tak sadar tertidur di pelukan mereka.
Saat aku terbangun dari tidur ku, aku pun mengerjapkan mataku. Ternyata aku tertidur di kantor, setelah lelah menangis. Dan kulihat Selva dan Dian tertidur pula di dekat ku, mungkin mereka kelelahan menunggu ku tidur.
Tak ingin membangunkan mereka, aku pun beranjak perlahan menuju kamar mandi. Ku cuci muka ku, ku tatap wajah ku di cermin.
"Apa aku sudah tidak secantik dulu? Apa aku sudah tidak sebaik dulu? Apa aku sudah tidak menarik lagi? Sampe Mas tega khianati aku?" Ucap ku sambil menatap cermin di depan ku dan memegang pipi ku yang sudah kembali berlinangan air mata.
"Kenapa Mas ngga pernah jujur ke aku? Mas dulu meminang ku baik-baik, kembalikan aku kepada orang tua ku dengan baik-baik juga. Jangan sakiti aku seperti ini Mas!" Ucap ku dengan isakan kecil dan aku pun terduduk di lantai kamar mandi.
__ADS_1