
2 Bulan kemudian. . .
Setelah Arjun di izinkan pulang dari Rumah Sakit, aku pun mengadopsi nya menjadi anak ku dan beruntung keluarga ku mendukung keputusan ku itu. Di bantu oleh Bang Naufal aku dapat mengadopsi Arjun resmi di mata hukum dan kini Arjun resmi menjadi anak ku, semenjak itu aku pun menyekolahkan nya bersama dengan para keponakan ku yang lain.
Tidak pernah aku duga dia bisa mengejar ketertinggalannya dalam pelajaran, bahkan mampu meraih beberapa prestasi dalam waktu singkat. Sungguh membuat aku sangat bangga kepadanya, dia pun tulus menyayangi ku dan keluarga ku.
Dan selama 2 bulan ini pun, Mas Tio atau pun Ibu nya tidak lagi mengganggu ku semenjak aku mengusir Ibu nya dari rumah ku. Membuat hari-hari ku menjadi tenang, dan saat ini tinggal menghitung hari menunggu kelahiran sang buah hati ku.
"Ma. . ." Panggil Arjun kepada ku yang sedang sibuk memeriksa berkas kantor.
"Ada apa Bang? Sini duduk dekat Mama." Ucap ku, kemudian memindahkan berkas yang ada di tangan ku.
"Mama lagi sibuk?" Tanya Arjun.
"Ngga ko Nak! Mama cuman memeriksa sedikit berkas, ada apa? Abang perlu sesuatu?" Tanya ku.
"Mama besok mau tidak temani ke Sekolah? Besok ada acara Ibu dan anak, tapi kalau Mama ngga bisa juga ngga apa-apa! Abang ngerti kok!" Ucap Arjun.
"Oke! Besok Abang berangkat bersama Mama iya! Jam berapa bang?" Tanya ku antusias.
"Memang Mama bisa?" Tanya Arjun ragu.
"Bisa dong! Apa sih yang ngga bisa buat anak Mama ini! Sudah Abang tenang aja, Mama akan nemenin Abang besok." Ucap ku sambil mengelus rambutnya.
"Makasih banyak iya Ma." Ucap Arjun bahagia.
"Sama-sama! Oh iya! Abang udah ngerjain PR belum?" Tanya ku.
__ADS_1
"Udah Ma, tadi pulang sekolah Abang langsung mengerjakan PR. Iya sudah! Abang mau ke kamar dulu iya Ma! Abang mau belajar dulu, Mama jangan terlalu lelah. Kasian adik bayi, tidurnya jangan terlalu malam iya Ma." Ucap Arjun penuh perhatian.
"Iya sayang! Selamat malam Abang, mimpi indah." Ucap ku.
Saat menjelang tengah malam, tiba-tiba aku merasakan kontraksi di perut ku. Namun karena kontraksi nya belum terlalu sering, aku pun memutuskan untuk berganti pakaian dan berjalan-jalan di kamar. Aku pun berusaha untuk tetap tenang dan berusaha rileks.
04.30
Kontraksi yang ku rasakan semakin sering, aku pun menelpon supir untuk bersiap dan kemudian keluar dari kamar dengan perlahan.
"Ma. . ." Panggil Arjun yang kemudian bergegas mendekati ku dengan tangan yang memegang gelas air putih, mungkin dia baru dari dapur untuk mengambil air minum dan aku pun hanya tersenyum.
"Mama kenapa? Muka Mama pucat, Mama mau lahiran?" Tanya Arjun beruntun.
"Kamu kenapa belum tidur?" Tanya ku mengalihkan pembicaraan, agar dia tidak khawatir.
"Terimakasih iya Bang! Udah sana Abang tidur lagi." Ucap ku dengan senyum paksa.
"Ngga! Mana mungkin Abang bisa tidur liat Mama kaya gini! Sebentar Abang bangunin Opa dan Oma dulu iya Ma, Mama duduk dulu. Ayo Abang bantu!" Ucap Arjun kemudian memapahku menuju kursi.
"Sebentar iya Ma." Ucap Arjun dan aku hanya menganggukkan kepala menahan sakit yang kurasakan.
Tak lama kedua orang tua ku pun datang dengan wajah panik dan khawatir, kami pun segera menuju Rumah Sakit terdekat. Setelah sampai ternyata pembukaan ku sudah lengkap, proses kelahiran Putra ku pun berlangsung lancar.
Oek. . . Oek. . . Oek. . .
Tanpa terasa air mata ku terus mengalir, betapa lega nya aku telah berhasil melahirkan putra ku dengan selamat. Namun jauh di lubuk hati ku yang terdalam, hati ku sangat sakit. Anak yang aku dambakan kini lahir tanpa adanya sosok ayah di sampingnya.
__ADS_1
Bayi tampan, dengan pipi gembul yang baru saja aku lahir kan itu tampak menggemaskan dan mencuri perhatian semua orang. Mereka satu persatu ingin menggendong nya, namun tidak ada yang diizinkan untuk menggendong bayi kecil ku itu oleh Abang nya kecuali aku dan kedua orang tua ku.
Membuat kami semua terkekeh dan juga terharu melihat betapa posesif nya Abang kepada adiknya, dan betapa Abang begitu ingin melindungi adiknya dari sekecil ini.
"Mohon maaf semuanya, adik Abang masih kecil sekali. Jadi tidak boleh ada yang menggendong adik Abang kecuali Mama, Opa dan Oma. Nanti takut badan adik menjadi sakit, dan tidak boleh mencium pipi adik. Karena bisa menyebabkan pipi adik menjadi iritasi, pipi bayi baru lahir sangat sensitif.
. . . Jadi harus berhati-hati jika ingin menyentuhnya dan pastikan tangan sudah bersih dari kuman jika ingin berdekatan dengan adik Abang. Mohon pengertiannya semuanya, ini demi kebaikan adik Abang." Ucap Arjun, kemudian menundukkan kepala memohon maaf.
Deg. . .
Betapa tertegun nya kami, mendengar cara berbicara Arjun yang begitu ingin melindungi adiknya dan khawatir terjadi sesuatu kepada adiknya.
"Siap komandan, kami tidak akan mencium atau menggendong adik bayi nya Abang Arjun. Tapi boleh kan kami melihat adik bayi nya? Janji deh! Kami semua akan cuci tangan dulu, meski nanti kami tidak boleh menggendong nya." Ucap Kak Niko dengan sedikit meledek dan kemudian di siku perutnya oleh Kak Mely.
"Aduuuhh. . . Sakit Bun!" Keluh Kak Niko dan dengan isyarat mata Kak Mely meminta Kak Niko melirik ke arah Arjun yang menundukkan kepalanya.
"Hey. . .kenapa jagoan? Abang marah ayah bilang begitu?" Tanya Kak Niko kemudian menghampiri Arjun dan mensejajarkan dengan tinggi badan Arjun.
"Maaf. . ."cicitnya.
"Abang ngga salah kok! Malah kita bangga! Abang sudah bisa lindungi adik dari sekarang." Ucap Kak Niko sambil memeluk nya.
"Benar itu Bang! Kita bangga sama Abang! Tapi Abang harus bisa jaga dan lindungi adik terus iya! Bukan hari ini doang, kalian harus saling menjaga dan melindungi kelak saat dewasa." Ucap Bang Naufal.
"Itu pasti Abang lakuin! Abang akan jaga dan lindungi adik selamanya! Itu janji Abang!" Ucap tegas Arjun.
Saat suasana haru biru berlangsung, tiba-tiba ada yang menerobos masuk ke dalam ruang rawat ku dan mengacaukan semuanya.
__ADS_1
BRAKKK. . .