Suamiku Bukan Milik Ku

Suamiku Bukan Milik Ku
Bab 76


__ADS_3

"Mana yang luka Dek? Bilang sama Papa, mana yang sakit?" Tanya Papa khawatir.


"Ngapain kamu di luar? Kamu kan sakit, ayo masuk ke Ruangan kamu lagi." Ucap Bang Naufal.


"Sebentar, sebentar. Jangan dulu bicara iya! Biarkan Ade bicara dulu! Ade baik-baik aja, kalian jangan khawatir." Ucap ku membuat mereka menghembuskan nafas lega.


"Ade minta tolong Papa dan Bang Naufal ke sini, karena butuh bantuan. Anisa anak nya Kak Aldi kecelakaan dan butuh darah golongan B+, karena Ade lagi hamil. Ade ngga bisa mendonorkan darah, jadi Ade minta tolong mau kan Papa dan Abang mendonorkan darahnya untuk Anisa?" Tanya ku.


"Ayo, di mana Ruangan nya?" Tanya Papa.


"Ayo Pa, Bang ikut Ade." Ucap ku, kemudian mengetuk pintu UGD.


Ceklek. . .


"Sudah dapat pendonor nya?" Tanya suster.


"Sudah sus, ini ada Papa dan Abang saya mereka golongan darah B+. Bisa di cek sekarang?" Tanya ku.


"Baiklah, mari ikut dengan saya Pak." Ucap Suster, kemudian mereka pergi ke ruangan yang berbeda.


"Aldiii. . ." Panggil seorang wanita paruh baya dan beberapa orang lainnya menghampiri kami.


"Bu. . ." Ucap Kak Aldi, langsung memeluk wanita paruh baya itu.


"Apa yang terjadi Nak? Bagaimana bisa Anisa kecelakaan? Bagaimana kamu menjaga nya?" Cecar Ibu nya dengan berbagai pertanyaan.


"Maaf Bu." Ucap Kak Aldi.


"Siapa perempuan hamil ini? Jangan-jangan ini perempuan yang kamu ceritakan?" Tanya seorang wanita paruh baya lainnya dan Sinta yang di tanya pun menganggukan kepala.


"Pasti gara-gara kamu kan? Cucu saya kecelakaan? Dasar pelakor! Apa jangan-jangan anak di kandungan kamu! Anak haram kalian? Dasar wanita ngga tau malu! Pergi dari sini!" Ucap marah Ibu Sinta.

__ADS_1


"DIAM!" Teriak Marah Kak Aldi, dan membuat Sinta semakin menunduk.


"Apa-apaan kamu Aldi? Berani kamu berteriak di depan Ibu? Kamu lupa? Ibu ini ibu istri kamu dan nenek anak kamu! Hanya demi wanita murahan ini, kamu berani membentak ibu?" Ucap Ibu Sinta tak habis pikir.


"Harus nya Ibu tanya sama anak Ibu! Apa yang sudah dia lakukan! Asal Ibu tau! Wanita yang Ibu hina itu, adalah wanita baik-baik! Tidak seperti anak Ibu! Sudah bersuami tidur dengan banyak laki-laki!" Ucap Kak Aldi yang membuat banyak orang tercengang.


"Apa kamu bilang? Jangan menuduh anak saya sembarangan! Anak saya itu anak baik-baik, tidak mungkin dia berbuat seperti itu! Jangan memutar balikkan fakta! Kamu yang berselingkuh, tapi menuduh anak saya!" Ucap Ibu Sinta membela anaknya.


"Menuduh? Lantas bisakah anak Ibu menjelaskan kepada kami semua di sini? Bagaimana mungkin golongan darah Anisa bisa berbeda dengan saya dan anak Ibu?" Tanya Kak Aldi yang membuat semua orang semakin terkejut.


"Ng-ga. . . Jangan asal bicara kamu Aldi! Anisa itu anak kalian! Ngga mungkin golongan darah nya berbeda! Ngga! Itu ngga mungkin! Ini pasti ada kesalahan! Iya kan Nak! Ini pasti salah paham! Anisa anak kalian kan? Pasti ada yang salah." Ucap Ibu Sinta tidak percaya dan Sinta hanya diam saja.


"Aldi! Apa benar yang kamu ucapkan Nak?" Tanya Ibu Aldi dan Kak Aldi hanya menganggukkan kepala, Ibu Kak Aldi sangat terkejut.


"Ngga. . . Ngga mungkin! Ini pasti salah paham! Anisa anak kandung mereka! Iya pasti ada yang salah!" Ucap Ibu Sinta sambil menggelengkan kepala tidak percaya, datanglah Suster yang tadi mengambil darah Papa dan Bang Naufal.


"Tunggu Suster!" Panggil Ibu Kak Aldi mencegah suster masuk ke dalam.


"Ada yang bisa saya bantu Bu?" Tanya Suster.


"Betul Bu, golongan darah pasien B+. Kalau begitu saya permisi dulu." Ucap Suster kemudian masuk ke dalam, menyisakan banyak orang yang terkejut.


"Pa, Bang." Panggil ku sambil tersenyum ke arah mereka.


"Sudah selesai sayang, ayo kita pulang saja. Kamu harus banyak istirahat, kamu pasti lelah." Ucap Papa.


"Makasih banyak iya Pa, Bang." Ucap ku sambil memeluk Papa.


"Sama-sama Nak/Dek." Ucap Papa dan Bang Naufal.


"Pak Rey?" Panggil 2 orang paruh baya kepada Papa, dan papa pun melirik ke arah mereka.

__ADS_1


"Pak Cakra, Pak Agus?" Ucap Papa, kemudian mereka pun bersalaman.


"Bapak sedang apa di sini?" Tanya ramah Pak Cakra, bapak nya Kak Aldi.


"Ini anak bungsu saya tadi telpon katanya dia ada di Rumah Sakit, saya kira dia kenapa. Tau nya minta tolong saya donor darah untuk Anisa, ini baru selesai donor darah nya." Terang Papa.


"Ja-di Bapak yang mendonorkan darah untuk Anisa cucu saya?" Tanya Pak Agus terkejut.


"Oh. . . Anisa cucu Bapak, iya betul. Saya dan putra saya tadi mendonorkan darah kamu, kebetulan darah kami sama dengan Anisa." Ucap Papa.


"Terimakasih banyak iya Pak, atas bantuan Pak Rey dan keluarga. Sudah bersedia mendonorkan darah untuk cucu kami, mohon maaf kami merepotkan Bapak." Ucap Pak Cakra.


"Sama-sama Pak, semoga Anisa bisa cepat sembuh. Kalau begitu kami pamit dulu Pak, assalamualaikum." Ucap Papa pamit dan kami pun memutuskan untuk pulang, di perjalanan aku tampak termenung.


"Dek. . ." Panggil Bang Naufal.


"Iya Bang." Jawab ku.


"Kamu kenapa? Ada yang sakit?" Tanya Papa khawatir.


"Ngga kok, Ade baik-baik aja. Cuman lagi mikirin Anisa." Ucap ku sendu.


"Yang sabar iya Nak! Kita banyakin berdoa supaya Anisa cepat sehat, besok kita bisa menjenguk nya lagi." Ucap Papa dan aku pun menganggukkan kepala.


"Ngomong-ngomong gimana ceritanya, Anisa bisa sampai kecelakaan Dek?" Tanya Bang Naufal penasaran.


Aku pun mulai menceritakan semuanya dari mulai pertemuan aku, Anisa dan Kak Aldi. Serta pertengkaran Kak Aldi dan istrinya.


"Bener-bener iya mereka itu! Udah tau ada anak kecil, malah bertengkar di depan anak kecil." Ucap Bang Naufal.


"Iya Bang, kasian banget kan Anisa." Ucap ku sendu.

__ADS_1


"Jadikan semua ini pelajaran berharga untuk kalian, seberat apa pun masalah rumah tangga. Jangan sampai bertengkar di depan anak, apalagi anak yang jadi korbannya." Ucap Papa sambil mengelus rambut ku.


"Iya Pa." Jawab aku dan bang Naufal.


__ADS_2