Suamiku Bukan Milik Ku

Suamiku Bukan Milik Ku
Bab 87


__ADS_3

BRAAKKK. . .


"Host . . . Host . . . Host . . . Ma-na . . . Host. . . A-nak ku. . ." Ucap Mas Tio yang tiba-tiba menerobos masuk ke Ruang Rawat ku dengan nafas terengah-engah dan semua menatap nya dengan jengah.


"Mohon maaf jangan berisik! Adik dan Mama saya sedang tidur!" Ucap Arjun yang memecah kesunyian dan membuat Mas Tio membelalakkan matanya marah.


"Siapa kamu! Seenaknya bicara begitu! Dengar baik-baik anak kecil! Yang baru melahirkan itu mantan istri saya dan itu anak saya! Jadi saya berhak ke sini! Saya mau mengadzani nya! Dengar itu!" Ucap Mas Tio marah.


"Tidak perlu repot-repot! Keponakan kami sudah di adzani, jadi silahkan pulang kembali. Karena anda sungguh mengganggu." Ucap Kak Niko.


"APA? Sudah di adzani? Siapa yang berani mengadzani anak ku? Kurang ajar sekali! Aku yang berhak mengadzani nya! Bukan orang lain! Seenaknya saja mengadzani anak ku! Mana orang nya hah!" Ucap Mas Tio marah.


"Saya!" Ucap Papa yang baru keluar dari kamar mandi.


"Pa-pa." Ucap Mas Tio terbata-bata.


"Iya! Saya yang mengadzani cucu saya! Karena ayah nya tidak tau ke mana!" Ucap sarkas Papa.


"Pa! Jangan bicara begitu! Tentu Papa tau apa yang terjadi! Jadi jangan menyalahkan saya jika terlambat datang kemari, harusnya kan Papa menunggu saya datang. Saya yang berhak mengadzani anak saya sendiri Pa!" Ucap Mas Tio tidak suka.


"Lantas mau mu apa?" Tanya Papa dan membuat nya bungkam.


"Siapa anak ini?" Tanya Mas Tio kepada Papa sambil menunjuk Arjun mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Cucuku." Ucap Papa dan menghampiri Arjun.


"Awas! Saya ingin menggendong anak saya!" Ucap ketus Mas Tio kepada Arjun.


"Silahkan cuci tangan terlebih dahulu, jika ingin melihat adik saya." Ucap Arjun tegas.


"Apa? Tadi kamu bilang? Adik? Dengar baik-baik! Anak saya anak tunggal! Dia tidak punya Kakak! Jadi jangan seenak nya mengaku anak saya adik kamu! Minggir kamu!" Ucap Mas Tio marah dan Arjun langsung merentangkan tangan menghalangi Mas Tio untuk mendekati adik bayi nya.


"Tidak bisa! Jika ingin mendekati adik harus dalam keadaan bersih! Tidak dengan tangan yang basah karena keringat! Bagaimana kalau nanti keringatnya menetes di kulit adik dan membuat kulit adik iritasi! Tidak boleh sampai itu terjadi!" Ucap Arjun posesif.


"Sialan kamu! Minggir!" Ucap Mas Tio marah dan ingin menampar Arjun, namun di hentikan oleh Bang Naufal.


"Pergi dari sini! Jika ingin membuat kekacauan!" Ucap Bang Naufal dan menghempas tangan Mas Tio dengan kasar.


"Anak sialan ini yang membuat kacau! Harusnya Abang usir dia! Bukan Tio!" Ucap Mas Tio membela diri.


"Dek! Kamu sudah bangun? Lihat anak itu kurang ajar sekali! Dia melarang Mas melihat anak kita! Jelas-jelas Mas ini ayah kandung nya! Dan ternyata Papa kamu sudah mengadzani anak kita! Harusnya kan Mas yang mengadzani nya!" Adu Mas Tio kepadaku.


"Anak yang anda sebut kurang ajar, itu anak saya! Dan saya yang memintanya untuk menjaga adiknya, jadi jangan salahkan dia! Saya juga yang meminta Papa mengadzani anak saya! Jika harus menunggu ayah nya datang, kasian anak saya menunggu lama." Ucap ku tanpa menatap Mas Tio.


"APA? Anak? Jangan gila kamu Dek! Anak kita baru lahir dan kamu bilang anak itu anak kamu? Enak aja! Ingat! Anak kita anak tunggal! Dan dia adalah pewaris tunggal kekayaan kamu! Jangan harap Mas setuju! Pokoknya anak kita hanya 1!" Ucap tegas Mas Tio tidak terima.


"Itu hak saya! Anda tidak berhak atas keputusan saya! Anda hanya berhak tentang anak kita! Bukan dengan urusan pribadi saya! Mohon jaga batasan anda! Jika ingin melihat anak saya silahkan bersihkan diri anda terlebih dahulu dan berhati-hati lah, karena anak saya masih rapuh. Setelah itu silahkan anda keluar, karena saya ingin beristirahat." Ucap ku datar, kemudian aku pun memejamkan mata.

__ADS_1


"Dek! Jangan egois kamu! Pokoknya Mas ngga mau tau! Usir anak itu! Mas ngga mau sampai kasih sayang kamu ke anak kita berkurang! Anak kita hanya akan menjadi pewaris kamu satu-satunya, Mas ngga akan rela kalau anak ini nanti merebut warisan kamu!" Ucap lantang Mas Tio.


"Heh! Apa maksud Lo? Ngebahas warisan adik gue? Dari pada omongan Lo makin ngaco! Lebih baik cepat bersihkan badan Lo dan liat anak Lo, terus pergi dari sini!" Ucap Kak Niko dengan mata melotot.


Dengan wajah menahan amarah Mas Tio pun bergegas membersihkan diri dan melihat anak kami di ranjang bayi. Dia tampak sendu melihat bayi kami dan perlahan menggendong nya dengan hati-hati, serta membisikkan sesuatu yang tidak kami dengar.


Semua orang pun menyaksikan dan membiarkan nya, karena bagaimana pun Mas Tio adalah ayah kandung anak ku. Namun mereka tetap memperhatikan setiap yang di lakukan Mas Tio, demi keselamatan anak ku.


Kring. . . Kring. . . Kring. . .


Bunyi telpon terus berdering, dan membuat anak ku terbangun dari tidur nya.


Oek . . . Oek. . . Oek. . .


Kring. . . Kring. . . Kring. . .


"Berikan anak saya! Silahkan angkat telpon anda!" Ucap ku yang geram karena bunyi telpon Mas Tio membangunkan tidur nyenyak putra ku.


Mas Tio pun memberikan anak kami dengan sangat terpaksa, karena telponnya terus berdering. Aku pun berusaha menenangkan anak ku dan menyusuinya dan menutup tirai pembatas di ranjang pasien. Kemudian Mas Tio menjauhkan diri untuk mengangkat telpon dengan suara yang berbisik, lalu dia pamit untuk pulang.


"Dek! Mas pulang dulu, besok Mas ke sini lagi! Kamu mau di bawain apa sama Mas? Nanti Mas belikan! Oh iya! Anak kita nanti Mas belikan juga, kamu tenang aja pokoknya kalian Mas belikan! Ayo kamu sebutkan saja mau di bawakan apa?" Tanya Mas Tio dengan semangat.


"Tidak perlu repot-repot! Selama saya hamil pun tidak ada sepeser uang atau barang yang anda berikan kepada saya dan anak saya! Jadi anda tidak perlu repot-repot! Bahkan menanyakan keadaan anak saya pun tidak! Jadi saya rasa anda tidak perlu membuang-buang waktu untuk bertanya hal itu." Ucap ku datar.

__ADS_1


Deg.


Seketika Mas Tio pun tertegun dengan perkataan ku itu dan menatap ku dengan raut wajah yang sendu, mungkin dia merasa menyesal dengan semua yang terjadi.


__ADS_2