
Beberapa hari kemudian. . .
Suasana Rumah sangat ramai, karena akan di adakan tasyakur dan aqiqah Baby El. Sehingga dari pagi hari sudah sangat ramai keluarga yang berdatangan, kami pun mengundang anak yatim dalam acara ini.
Serangkaian acara berlangsung dengan sangat khidmat dan haru, kini semua telah selesai dan para tamu sedang menikmati hidangan yang tersedia. Aku pun mengajak Baby El dan Arjun berkeliling menyapa sanak saudara yang belum sempat aku sapa.
"Hallo aunty, apa kabarnya?" Tanya ku kepada adik Mama ku yang datang dari Kalimantan.
"Aduh keponakan Aunty yang cantik, selamat iya sayang! Maafkan Aunty baru datang, tadi di jalan macet banget!" Ucap Aunty Bella.
"Tidak apa-apa Aunty, yang terpenting Aunty bisa hadir saja aku udah seneng banget." Ucap ku.
"Ini Baby El ganteng banget deh! Gemes banget pengen cubit itu pipi chubby nya." Ucap Aunty Bella gemas dengan Baby El dan aku hanya tersenyum.
"Ini pasti Abang Arjun kan?" Sapa Aunty Bella dan Arjun pun memperkenalkan dirinya.
"Perkenalkan nama saya Arjuna Hutama, di panggil Arjun." Ucap Arjun sopan.
"Iya ampun sopan banget ini anak kamu! Gemes Oma sama kamu, sini peluk Oma! Inget panggil Oma Bella iya sayang! Maaf iya, kita baru bisa ketemu. Soalnya Opa kamu itu sibuk sekali, maafkan iya sayang." Ucap Aunty Bella menyesal.
"Tidak apa-apa Oma Bella, senang bertemu dengan Oma. Semoga Oma dan Opa sehat selalu." Ucap Arjun tulus.
"Aamiin, Masyallah anak sekecil ini pinter sekali." Ucap Aunty Bella kemudian memeluk Arjun.
"Abang nanti main iya! Ke Rumah Oma dan Opa di Kalimantan, nanti Oma akan ajak Abang jalan-jalan sepuas nya." Ucap Aunty Bella dengan semangat.
"Iya Oma." Jawab Arjun.
"Ayo Aunty silahkan di coba dulu hidangannya, kami mau menyapa yang lain dulu iya. Semoga Aunty menikmati acaranya." Ucap ku pamit.
"Siap! Aunty akan cicipi hidangan nya dulu iya, bye Arjun . . . Bye Baby El." Ucap Aunty Bella sambil melambaikan tangan.
__ADS_1
Kami pun melanjutkan menyapa keluarga dan beberapa rekan kerja ku yang sengaja di undang, semua tampak menikmati acara ini.
BRUKK. . .
"Maaf Om." Ucap Arjun yang tidak sengaja menabrak seseorang, bergegas aku pun menghampiri dan menitipkan Baby El kepada orang tua ku.
"Abang ngga apa-apa?" Tanya ku sambil mensejajarkan diri dengan Arjun dan memeriksa keadaannya.
"Abang baik-baik saja Ma! Abang tidak sengaja menabrak Om ini." Ucap Arjun menyesal, aku yang paham pun segera berdiri.
"Mohon maaf Pak, anak saya tidak sengaja menabrak Bapak." Ucap ku meminta maaf.
"Dia anak anda?" Tanya laki-laki itu yang bukannya menjawab pertanyaan ku malah balik bertanya.
"Benar! Dia anak saya, ada apa iya?" Ucap ku, kemudian berusaha mengarahkan Arjun ke belakang tubuh ku.
"Bisa saya melihatnya sebentar." Ucap nya kembali.
"Bu-bukan begitu, saya tidak meminta ganti rugi. Sa-saya hanya ingin melihat anak anda sebentar saja, wajah anak anda mirip seseorang yang saya kenal. Jika di izinkan saya ingin melihat anak anda sekali lagi." Pintanya dan aku pun melirik ke arah Arjun meminta persetujuannya dan seolah dia mengerti, dia pun menganggukan kepala.
"Silahkan, tapi saya akan berada di sini mendampingi anak saya." Ucap ku kemudian menggeser badan ku yang menutupi tubuh Arjun.
"Tentu, tidak masalah. Saya ingin melihat sebentar saja, untuk memastikan sesuatu." Ucap nya semangat.
Dengan mata berkaca-kaca laki-laki itu pun mulai mendekati kami dan mensejajarkan diri dengan Arjun, namun ada hal yang membuat ku cukup terkejut saat mereka saling berhadapan. Bola mata mereka sama-sama berwarna abu-abu tua dan ada sedikit kemiripan antara wajah keduanya.
"Ha-halo na-ma om Candra, na-ma ka-mu si-apa?" Tanya laki-laki itu seperti menahan tangis.
"Nama saya Arjuna." Ucap Arjun sopan.
"U-mur ka-mu be-ra-pa?" Tanyanya lagi.
__ADS_1
"8 tahun." Ucap Arjun singkat.
"Bo-leh om memeluk kamu?" Tanya nya lagi, dan Arjun pun melirik ke arah ku. Aku pun dengan ragu menganggukkan kepala, yang aku pikirkan jika laki-laki ini ingin berbuat jahat. Maka akan banyak orang yang dapat membantuku, karena masih banyak orang di acara ku ini.
Grep.
Laki-laki itu langsung memeluk Arjun, dan yang membuat ku terheran-heran adalah sikap Arjun yang ikut juga memeluk laki-laki itu. Biasanya Arjun tidak suka jika ada yang memeluknya, kecuali orang yang dia sayangi
Dalam hati aku pun bertanya-tanya siapa laki-laki ini, apa jangan-jangan dia keluarga kandung Arjun?
Bagaimana jika dia benar keluarga kandung Arjun?
Bagaimana kalau mereka mengambil Arjun dari ku?
Tiba-tiba rasa takut hinggap di hati ku, tak rela jika Arjun kembali kekeluargaannya. Egois, mungkin aku egois. Namun aku terlanjur menyayangi Arjun seperti anak ku sendiri, tak rela rasanya jika aku harus kehilangan Arjun.
Bergegas aku melerai pelukan mereka dan ku lihat laki-laki itu mengusap matanya, seakan tak rela melepaskan pelukan itu.
"Maaf Pak, kami harus menyapa keluarga kami yang lain. Kalau begitu kami permisi, selamat menikmati hidangan." Ucap ku, kemudian menggandeng tangan Arjun dan berjalan tergesa-gesa.
"Ma." Ucap Arjun, menghentikan langkah ku dan aku pun seketika langsung memeluk nya dengan berderai air mata.
"Hiks. . . Hiks. . . Hiks. . ." Suara tangisan ku.
"Ma. . . Mama kenapa? Cerita sama Abang, Mama kenapa? Abang berbuat salah ke Mama? Jawab Abang Ma, Abang sedih lihat Mama nangis kaya gini." Ucap Arjun dan membuat aku berusaha mengendalikan diri ku.
"Ma-ma ta-kut. . . Hiks. . ." Ucap ku terbata-bata.
"Takut kenapa Ma? Siapa yang berbuat jahat ke Mama? Jawab Ma! Kasih tau Abang! Siapa yang membuat Mama takut?" Tanya Arjun khawatir dan aku pun langsung memeluknya lagi.
"Ma jawab! Mama takut kenapa?ayo Ma bilang sama Abang! Abang akan lawan orang yang menyakiti Mama! Ayo sekarang Mama bilang, siapa yang bikin Mama takut." Ucap Arjun lagi.
__ADS_1
"Ma-ma ta-kut ke-hilangan ka-mu." Ucap ku, namun Arjun malah memelukku erat dan tersenyum.