Suamiku Bukan Milik Ku

Suamiku Bukan Milik Ku
Bab 78


__ADS_3

"Loh. . . Loh. . . Kok belok ke sini? Pak! Kita mau ke Mall! Bukan ke Rumah Sakit." Ucap Selva terkejut, karena mobil yang kami tumpangi berbelok ke Rumah Sakit.


"Ibu Nadira bilang kita ke Rumah Sakit dulu Bu." Ucap Pak Supir.


"Ngapain kita ke sini Mba? Emang nya udah jadwal kontrol Mba? Kenapa juga ngga bilang mau ke Rumah Sakit, tau gitu ngga usah ikut." Keluh Selva dan kami pun turun tanpa menghiraukan ucapan nya.


"Pak, tolong bawain parsel nya iya ke dalam." Ucap ku.


"Baik Bu." Jawab Pak supir, yang kemudian mengambil barang bawaan kami.


"Loh! Ko naik ke atas? Bukannya ruang periksa di lantai 2?" Tanya Selva lagi.


"Ikh! Kamu berisik banget deh!" Keluh Dian.


"Diem deh! Kesel tau! Bukannya bilang mau ke Rumah Sakit! Aku kira kan mau ke Mall." Ucap Selva ketus.


"Udah jangan berantem terus, kita mau nengok Anisa dulu. Inget jangan berisik kalian iya!" Ucap ku, dan aku pun mengetuk pintu Ruang Rawat Anissa.


Ceklek. . .


"Assalamualaikum." Ucap salam ku.


"Wa'alaikum salam." Jawab semuanya.


"Bundaaaaaa. . ." Teriak Anisa, sambil mengangkat tangannya.


"Hallo anak cantik, gimana keadaannya sekarang?" Tanya ku.


"Bunda ke mana aja? Ica kangen Bunda, tadi Ica telpon tapi ngga di angkat terus sama Bunda. Bunda ngga sayang lagi iya ke Ica?" Ucap Anisa merajuk.


"Loh! Ko Ica ngomong gitu? Bunda tadi lagi banyak kerjaan di luar kantor sayang, maafin bunda iya Nak! Tadi handphone bunda ketinggalan di kantor." Ucap ku menjelaskan.

__ADS_1


"Beneran? Bunda ngga bohong kan?" Tanya Anisa.


"Ngga dong! Ngapain Bunda bohong, sekarang gimana keadaan Ica? Ica udah makan belum? Udah minum obat belum?" Tanya ku.


"Sakit Bunda, yang ini. . . Ini . . . Ini. . . Ica pengen makan di suapin Bunda." Ucap Anisa sambil menunjuk kepala, tangan dan kaki nya yang di perban.


"Kasian nya anak Bunda, sebentar lagi juga sembuh kok! Kan Ica anak yang kuat, apalagi udah di kasih obat sama Pak Dokter. Jadi sekarang Ica harus banyak makan, minum obat yang teratur dan juga istirahat yang cukup. Biar cepet sembuh, nanti kita bisa main lagi deh!" Ucap ku berusaha memberikan semangat.


"Bunda janji? Kita nanti main bareng lagi iya Bun?" Ucap Anisa mengangkat jari kelingking nya dan aku pun menautkan jari kelingking ku juga.


"Bunda janji, sekarang Ica makan dan minum obat iya sayang." Ucap ku dan Anisa pun mengangguk patuh.


"Ini Nak." Ucap Ibu Kak Aldi, memberikan nampan makanan Anisa.


"Terimakasih Bu." Ucap ku sambil tersenyum.


"Ayo, sekarang kita baca doa dulu sebelum makan iya." Ucap ku, kemudian menuntun Anisa membaca doa makan.


"Buka mulut yang lebar, pesawat datang. . . Aaaaa. . ." Ucap ku sambil mengarahkan sendok ke mulut Anisa dan mulai menyuapi Anisa, hingga makanan habis tak tersisa dan obat pun sudah di minum.


"Iya Bunda, Ica janji. Ica akan makan dan minum obat tepat waktu, biar Bunda kerjanya ngga ke ganggu." Ucap Anisa sambil tersenyum.


"Anak pintar, mau Bunda bacain buku dongeng ngga? Bunda bawa banyak buku buat Ica." Ucap ku sambil menunjuk bungkusan yang di bawa Pak Supir tadi.


"Mauuuuu. . . Ayo Bunda, bacain dongeng buat Ica." Ucap Ica semangat.


"Ini Mba." Ucap Dian, menyerahkan bungkusan yang berisi berbagai buku dongeng.


"Ica pilih, mau yang mana Bunda bacain?" Tanya ku.


"Yang ini Bunda." Ucap Anisa antusias.

__ADS_1


"Siap Tuan Putri, oh iya! Nanti kalau Ica pengen di bacain dongeng, Ica bisa minta tolong sama Papa, Mama, Nenek dan Kakek Ica. Mereka pasti dengan senang hati mau membacakan dongeng-dongeng ini buat Ica." Ucap ku berusaha menasehati.


"Memangnya Mama mau Bunda? Nanti Ica di marahin Mama." Ucap Anisa polos.


"Ngga dong! Mama Ica itu, sayang banget sama Ica. Kaya Bunda yang sayang banget sama Dede bayi di perut Bunda, begitu pun Mama Ica. Tidak ada seorang Ibu yang tidak menyayangi anak nya, jadi Ica ngga boleh iya bicara begitu lagi. Nanti Mama Ica sedih dengernya, Ica harus sayang sama Mama Ica iya!" Ucap ku sambil tersenyum.


"Maaf Bunda, Ica ngga akan bicara begitu lagi." Ucap Anisa menunduk.


"Pinternya anak Bunda, ayo kita mulai membaca dongeng." Ucap ku, kemudian aku pun membacakan dongeng sambil merangkul pundak nya Anisa dan tanpa terasa Anisa pun tertidur lelap sekali.


Aku pun berusaha bangkit dari ranjang pasien dengan perlahan, agar tidak membangunkan Anisa.


"Terimakasih banyak Dira! Kalau ngga ada kamu, mungkin Ica belum mau makan dan minum obat." Ucap Kak Aldi tulus.


"Sama-sama Kak, maaf tadi ngga bisa angkat telpon Kakak. Soalnya aku ngga bawa handphone." Ucap ku menyesal.


"Tidak apa-apa, yang terpenting kamu sudah berkenan datang ke sini. Sekali lagi terimakasih banyak." Ucap Kak Aldi.


"Iya betul Nak! Terimakasih banyak iya, maaf jika kami terus merepotkan." Ucap Ibu Kak Aldi.


"Sama-sama Bu, tidak perlu sungkan begitu. Jika saya mampu, saya akan membantu." Ucap ku.


"Maaf Bu, Pa, Kak Aldi kami permisi pulang dulu. Anisa juga sudah tidur, jadi kami pamit dulu. Assalamualaikum." Ucap ku pamit dan kami pun mencium tangan Ibu dan Bapaknya Kak Aldi, lalu kami pun keluar dari Ruang Rawat Anisa.


Saat kami berjalan menuju lift, tiba-tiba ada seorang perempuan yang menghalangi langkah kami.


"Tunggu. . ." Ucap seorang perempuan yang ternyata Ibu nya Anisa.


"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya ku ramah.


"Apa mau kamu sebenarnya?" Tanya nya balik, dan membuat aku bingung.

__ADS_1


"Maksudnya? Saya tidak mengerti." Ucap ku.


"Apa kamu berniat menjadi ibu sambung anak saya? Apa kamu ngga sadar dengan kondisi kamu yang hamil? Kamu perempuan kan? Tapi kamu benar-benar ngga punya hati! Harus nya kamu pikirin gimana perasaan saya melihat kalian bersama, saya istri sah nya!" Tuduh Sinta dengan marah.


__ADS_2