
Bukan aku tidak ingin mengurus suami ku yang sedang di rawat, namun kondisi saat ini berbeda. Mas Tio kecelakaan bersama selingkuhannya, sehabis mereka kontrol kandungan selingkuhan nya itu. Dan lagi Kakak Ipar ku mengatakan aku tidak perlu ke sana, yang penting aku mengirimi nya uang dan juga makanan.
Hati ku tidak sekuat baja, untuk tetap bisa berada di samping nya. Setelah penghianat itu, hati ku terlalu sakit untuk menerima semuanya. Apalagi semenjak hamil aku memang lebih sensitif, tidak ingin membahayakan kandungan ku lagi. Lebih baik aku menjauh dari mereka, hingga ketuk palu selesai.
Sudah 4 hari Mas Tio di rawat dan hari ini aku berencana menjenguk nya, sekaligus membayar deposito lanjutan untuk perawatannya. Aku pergi bersama Dian dan Selva selepas kami selesai bekerja, tak lupa membeli buah-buahan untuk Mas Tio.
Ceklek. . .
Wow. . .
Pemandangan yang sangat romantis, di mana seorang perempuan yang duduk di kursi roda sedang menyuapi laki-laki yang sedang berbaring di ranjang Rumah Sakit. Tak lupa ada Ibu Mertua, Kakak Ipar dan juga Orang Tua Sifa sedang duduk memperhatikan mereka.
"Assalamualaikum." Ucap ku santai.
"Wa'alaikum salam." Ucap mereka terkejut melihat kami datang.
"Aduh kalian so sweet banget deh! Yang satu di kursi roda, yang satu nya terbaring lemah tak berdaya. Benar-benar iya! Karma di bayar kontan, hahaha. . . Eh iya! Itu bayi nya masih hidup ngga tuh? Jangan-jangan kena karma juga itu bayi nya, hahaha. . ." Ucap Selva yang tampak puas.
"Kalau kalian datang cuman mau bikin rusuh! Pergi sana!" Ucap Mba Erna.
"Iya benar! Pergi saja kalian! Pasien butuh istirahat." Ucap Ibu Sifa sinis.
"Bu." Tegur Bapak Sifa.
__ADS_1
"Wah wah wah. . . Memang bener-bener gila iya zaman sekarang! Yang di bela bukan istri sah? Tapi malah pelakor yang di bela, hebat sekali! Hebat!" Ucap Selva sambil bertepuk tangan geram, membuat orang di luar penasaran. Karena pintu Ruang Rawat pun tidak tertutup, memudahkan orang untuk melihat ke dalam.
"Enak aja kamu kalau ngomong! Asal kamu tau! Anak saya yang jagain Tio walaupun dia sakit! Dia yang ngurusin! Mana istri nya yang kamu bilang itu? Ada dia jagain suami nya? Ngga kan? Suami sakit bukan di urusin!" Ucap Ibu Sifa sinis.
"Sudah sudah! Jangan ribut! Ini di Rumah Sakit, ayo Nak! Sini duduk." Ucap Ibu Mertua menengahi kami.
"Tidak perlu Bu, terimakasih. Aku ke sini mau lihat kondisi Mas Tio dan kata Dokter kondisi nya sudah membaik. Ini. . . " Ucap ku sambil memberikan kwitansi serta obat pulang untuk Mas Tio.
"Semua nya sudah aku bayar dan ini obat nya sudah aku tebus juga iya Bu! Ini ada buah untuk Mas Tio, kalau begitu aku pamit iya Bu! Sepertinya juga aku tidak di perlukan di sini, karena sudah ada yang menjaga Mas Tio." Ucap ku tenang sambil tersenyum.
"Oh iya! Mba Erna, kemarin katanya beli obat iya 500rbu. Obat apa iya Mba? Soalnya udah aku tanyain, dan tidak ada obat yang di tebus di luar. Di situ juga sudah ada rincian obat dari hari pertama masuk sampai hari ini." Ucap ku.
"Apa? 500rbu? Bener Erna? Obat apa? Kenapa Ibu ngga tau?" Tanya ibu terkejut.
"Udah deh! Jangan ngomong yang aneh-aneh! Mending kamu pergi dari sini! Jangan ganggu kita lagi!" Ucap Sifa sinis.
"Loh! Ibu ngga tau? 2 hari yang lalu Mba Erna telpon, katanya harus beli obat 500rbu dan minta buat ongkos Mba Erna selama menjaga Mas Tio. Juga untuk uang bekal anak nya sekolah, karena kan Mba Erna harus jaga Mas Tio. Sudah aku transfer 1.500.000, ini ada bukti nya ko Bu di handphone aku. Yang pertama aku transfer untuk obat 500.000 dan yang kedua 1.000.000, oh iya! Dan Mba Erna juga setiap hari minta di kirim aneka makanan. Makanya aku ngga ke sini-sini, katanya biar Mba Erna aja yang jagain Mas Tio." Ucap ku panjang lebar, yang membuat semua orang terkejut, dan muka Mba Erna sudah pucat.
"E-ng-ga i-tu bo-hong." Ucap Mba Erna terbata-bata sambil menggelengkan kepala.
"Loh! Ko Mba Erna ngomong gitu? Ini chating Mba ke aku aja masih ada, dan tadi kan Mba Erna minta uang lagi 1 juta. Ini aku bawa Mba uang nya." Ucap ku sambil menyodorkan uang di depan semuanya.
"Iya sudah iya Bu, kalau begitu aku permisi. Semoga Mas Tio cepet sembuh, assalamualaikum." Ucap ku sambil mencium tangan Ibu Mertua dan Bapak Sifa, karena Ibu nya Sifa membuang muka sedangkan Mba Erna masih tampak pucat.
__ADS_1
Namun saat aku akan pergi, tiba-tiba Ibu nya Sifa memanggil.
"Tunggu!" Panggil Ibu Sifa membuat aku mengernyit heran.
"Mana obat dan kwitansi milik Sifa." Ucap Ibu Sifa ketus.
"Maksudnya gimana iya?" Ucap ku heran.
"Udah jangan bertele-tele, sini mana?" Ucap Ibu Sifa lagi.
"Sudah Ibu diam." Ucap Bapak Sifa.
"Iya ngga bisa gitu dong Pak! Dia kan masukin anak kita di Ruang VVIP, iya dia dong yang harus tanggung jawab bayarin! Enak aja kita yang harus bayar! Uang dari mana buat bayarnya!" Ucap Ibu Sifa marah dan aku sekarang mengerti maksud nya.
"Betul, memang saya yang memasukkan anak Ibu untuk di rawat di Ruang VVIP yang sama dengan suami saya." Ucap ku.
"Tuh kan Pak! Denger ga? Dia yang masukin anak kita ke Ruangan VVIP! Jadi dia dong yang harus nya bayar biayanya." Ucap Ibu Sifa.
"Kenapa harus saya Bu?" Ucap ku heran.
"Asal kamu tau! Biaya nya itu mahal di Ruang VVIP! Mana mampu kami bayar, kamu yang masukin anak kami ke Ruang VVIP. Jadi kamu harus tanggung jawab dengan biaya nya dong!" Ucap Ibu Sifa tidak masuk akal.
"Lantas jika mahal, kenapa tidak di pindah ruangan? Saat mereka kecelakaan saya langsung meminta pelayanan yang terbaik untuk mereka dan mengurus semua administrasi, hingga deposito mereka untuk beberapa hari perawatan. Jika memang Ibu tidak sanggup! Kenapa tidak langsung di pindahkan saja? Kenapa masih tetap di Ruang VVIP tersebut?" Ucap ku kesal.
__ADS_1
"Iya ampun! Ga tau diri banget sih anda! Harusnya itu Ibu bersyukur, ada Nadira istri sah dari pacar anak ibu yang baik hati ini. Tanpa pamrih mau mengurus anak Ibu yang kecelakaan bersama suami nya, bahkan memberikan deposito 20 juta untuk biaya perawatannya. Asal Ibu tau! Biaya perawatan suami nya aja, yang harus cek up semuanya habis 30juta. Lah ini paling juga tinggal nambah beberapa juta doang! Emang uang yang anak Ibu dapetin setelah jadi pelakor ngga cukup? Ko pelakor miskin amat sih! Eh iya! Kan jadi pelakor biar bisa hidup enak." Ucap Selva dengan suara lantang dan mengejek.