Suamiku Bukan Milik Ku

Suamiku Bukan Milik Ku
Bab 53


__ADS_3

POV Sifa


Acara lamaran yang aku impikan hancur, karena kedatangan istri Mas Tio. Sebenarnya aku terkejut, karena memang aku tidak tau Mas Tio sudah memiliki istri, namun tidak mungkin aku meninggalkan Mas Tio.


Kekacauan yang terjadi di acara lamaran ku pun, membuat aku tanpa sadar memberitahu kan aib ku sendiri. Yang membuat aku di usir dari Rumah, bahkan kini aku hanya tinggal di kontrakan dekat kantor ku.


Malang sekali nasib ku. . .


Mencintai suami orang. . .


Hamil di luar nikah. . .


Di usir dari Rumah. . .


Namun aku tidak mungkin menyerah begitu saja, anak ku harus memiliki ayah apa pun yang terjadi. Aku tidak akan membiarkan Mas Tio kembali dengan istrinya dan aku akan membuat hubungan mereka berakhir.


Tidak peduli aku di anggap jahat atau apa pun, yang jelas anak ku harus memiliki status yang jelas. Aku tidak ingin dia malu nantinya.


Namun aku harus menelan kekecewaan, ternyata Istri Mas Tio adalah pemilik Perusahaan besar, dan Mas Tio diam-diam menemui nya. Apalagi saat Mas Tio meminta ku kembali ke kantor lebih dulu, bukannya meminta maaf kepada ku.


"Mas! Kamu kenapa baru datang jam segini? Bos nanyain kamu terus itu!" Tegur ku.


"Ada urusan." Ucap nya ketus.


"Ikh! Kamu ko ngomongnya ketus gitu? Udah sana samperin Bos, nanti kamu kena marah." Ucap ku, kemudian aku pun kembali ke tempat ku.


Saat pulang kerja, seperti biasa aku menunggunya di depan Perusahaan hingga semua orang pergi. Baru aku akan menemui Mas Tio di Palkiran, tapi ternyata motor Mas Tio sudah tidak ada.


Tut. . . Tut. . . Tut. . .


"Ikh! Kemana sih! Di telpon ngga di angkat!" Ucap ku kesal.


"Bu belum pulang?" Tanya Satpam yang sedang berkeliling.


"Belum Pak, lagi nunggu Pak Tio dulu." Ucap ku ramah.


"Oh Pak Tio, beliau sudah pulang sejak bubar Bu." Ucap Pak Satpam.


"Apa? Bapak serius?" Tanya ku lagi.

__ADS_1


"Iya bener loh Bu, orang di dalam Perusahaan aja sudah kosong. Tidak ada yang lembur, ini saya juga sedang patroli. Kalau begitu saya permisi Bu." Ucap Pak Satpam pergi meninggalkan ku.


Dengan perasaan kesal aku pun pulang ke kontrakan, dengan menggunakan taksi online. Setelah sampai aku pun membersihkan diri dan kembali menelpon Mas Tio.


Tut. . . Tut. . . Tut. . .


"Kamu ke mana sih! Mas! Nyebelin banget deh! Udah aku di tinggalin di kantor, eh telpon nya ngga di angkat terus!" Ucap ku marah.


Karena kesal telpon ku tidak di angkat terus, aku pun membuka aplikasi makanan online dan memesan banyak sekali makanan. Setelah datang makanannya, aku pun masuk dan memakannya.


Saat aku sedang asik makan, tiba-tiba pintu kontrakan ku di ketuk.


Tok. . . Tok. . . Tok. . .


Ceklek. . .


"Mas Tio." Ucap ku kegirangan.


"Ayo masuk Mas." Ucap ku, dan mengajak Mas Tio duduk dulu.


"Ini semua kamu beli?" Tanya Mas Tio dengan wajah yang terkejut.


"Iya aku pesen online semua, habisnya aku laper banget dan juga lagi kesel banget sama kamu yang ninggalin aku. Jadi aku pesen banyak makanan, biar aku ngga kesel lagi." Ucap ku santai, kemudian mulai memakan makanan ku kembali.


"Iya pake uang dari kamu lah! Mau uang dari mana lagi? Eh iya! Uangnya udah habis, aku minta lagi iya Mas!" Ucap ku santai.


"Minta lagi? 2 juta cuman buat 3 hari? Iya ampun Sifa! Aku ini bukan Bank! Kalau kamu butuh uang cari sendiri!" Ucap Mas Tio marah dan meletakkan sesuatu di meja, kemudian pergi tanpa pamit.


"Mas! Mas Tio mau ke mana? Mas!" Teriak ku memanggil Mas Tio yang sudah pergi menjauh.


"Ikh nyebelin banget sih! Masa cuman beli makanan aja marah nya sampe segitunya? Nyebelin banget deh dia itu! Eh itu apa yang dia bawa?" Ucap ku penasaran dan membuka bungkusan makanan yang di bawa Mas Tio.


"Lah dia mau ngasih ini buat aku? Ngga mikir apa dia? Aku lagi hamil gini! Di kasih nasi bungkus doang! Emang sih ada sayur dan lauknya! Tapi kan mana selera aku makanan yang kaya gini!" Ucap ku kesal dan membuang makanan dari Mas Tio, kemudian aku pun melanjutkan makan ku.


"Alhamdulillah kenyang banget deh! Eh ini masih banyak ternyata, kalau aku simpen pasti basi. Kan di sini belum ada kulkas, aku bagi-bagiin aja deh!" Ucap ku, kemudian aku pun membungkus kembali makanan yang tidak aku makan dan membagikannya kepada tetangga ku.


Aku menelpon Mas Tio, lagi dan lagi tidak diangkat. Tidak tau kenapa Mas Tio tidak mengangkat telpon ku, biasanya Mas Tio tidak pernah membiarkan aku menunggu.


Meski kesal aku pun terus menelponnya, karena aku takut sendirian di kontrakan ini. Aku ingin di temani Mas Tio malam ini, namun berapa puluh kali pun aku menelpon tidak juga di angkat.

__ADS_1


Keesokan hari nya. . .


Dengan tidak bersemangat aku pun ke kantor, karena belum sarapan aku pun memesan makanan. Saat aku sedang mengerjakan pekerjaan ku, tiba-tiba Mas Tio datang dan aku pun menyambutnya dengan senyum senang.


BRAKK. . .


"Lain kali kalau pesan makanan, jangan atas nama orang! Kalau ngga punya uang jangan pesan makanan! Masak sendiri! Bikin repot aja!" Ucap Mas Tio yang melempar makanan ku ke meja, kemudian pergi meninggalkan meja ku.


Aku yang terkejut, sampai tidak bisa menjawab apa-apa. Bahkan ternyata ada yang melihat kejadian itu, malu sekali aku ini. Dan saat aku membuka lontong sayur nya, tiba-tiba perut ku bergejolak. Bergegas aku pergi ke kamar mandi, dan mengeluarkan semuanya.


Huek. . . Huek. . . Huek. . .


"Kamu kenapa Fa?" Ucap Ika yang membantu ku berdiri, karena lemas sekali badan ku.


"Aku ngga apa-apa ko." Ucap ku lemas.


"Kamu pulang aja kalau sakit, nanti biar aku bilang ke Bos. Muka kamu pucat banget tau Fa." Ucap Ika khawatir.


"Iya nih! Badan aku aja lemes banget, aku mau izin dulu ke Bos aja Ka! Takut nanti malah kena masalah kalau kamu yang izinin nya." Ucap ku.


"Iya udah biar aku anterin kamu ke Ruangan Bos, ayo pelan-pelan aja." Ucap Ika memapahku.


"Selamat Pagi Bu! Maaf Bu, apa Pak Rafli sedang sibuk?" Tanya Ika.


"Pagi juga, ngga Ko! Beliau juga belum lama sampai, ada apa? Loh ko kamu pucat sekali?" Tanya Melda Sekretaris Pak Rafli.


"Iya Bu, saya tidak enak badan. Mau minta izin untuk pulang." Ucap ku.


"Iya sudah kamu pulang aja, biar nanti saya yang mintain kamu izin. Kasian banget muka nya udah pucat begitu, cepat sembuh iya!" Ucap Melda.


"Aamiin, terimakasih banyak Bu." Ucap ku.


"Bu aku izin anterin Sifa ke depan dulu iya." Ucap Ika meminta izin.


"Iya boleh, kalau bisa kamu anterin aja sekalian ke Rumahnya. Takut dia pingsan di jalan gimana?" Ucap Melda.


"Ada apa ini?" Tanya Mas Tio.


"Ini Pak Tio, Sifa tidak enak badan wajahnya sampai pucat begini. Jadi saya minta Ika untuk mengantarkan nya pulang." Ucap Bu Melda menjelaskan.

__ADS_1


"Oh begitu, Pak Rafli ada kan? Saya ingin bertemu." Ucap Mas Tio.


"Ada Pak, silahkan masuk." Ucap Bu Melda dan Mas Tio yang melewati ku begitu saja.


__ADS_2