
BRUKKK. . .
"Maaf Bu, maaf! Saya tidak sengaja." Ucap seorang anak laki-laki, sambil menelungkup kedua tangannya takut. Segera aku raih tangannya dan membantunya berdiri.
"Tidak apa-apa Nak! Kamu baik-baik saja?" Tanya ku sambil membersihkan pakaiannya.
"Saya baik-baik saja Bu." Ucap anak itu sambil menunduk.
"Ayo biar Ibu bantu kamu membereskan ini." Ucap ku sambil membantunya merapihkan dagangannya.
"Ini sudah semua iya Nak!" Ucap ku sambil mengelus rambutnya pelan.
"Terimakasih banyak iya Bu." Ucap Anak itu kemudian aku pun hendak pergi, namun di tahan oleh anak itu.
"Tunggu Bu." Ucap nya sambil memegang tangan ku, dan aku pun melirik ke arah nya lagi sambil mengernyitkan kening bingung.
"Ada apa Nak?" Tanya ku bingung.
"Ini." Ucap anak itu, sambil memberikan kantung kresek hitam kepada ku.
"Ini buat ibu?" Tanya ku dan dia hanya menganggukkan kepala, aku pun berjongkok di dekatnya.
"Boleh Ibu buka?" Tanya ku dan dia pun menganggukan kepala nya.
Betapa terkejutnya aku melihat isi kantung keresek itu yang berisi uang koin dan beberapa lembar uang kertas lusuh, aku pun menatap anak itu bingung.
"Kamu ingin menukar uang ini?" Tanya ku dan dia menggelengkan kepala.
"Lalu kenapa kamu memberikannya kepada Ibu?" Tanya ku bingung.
__ADS_1
"Itu kembalian Ibu." Ucap nya lagi.
"Kembalian? Maksudnya gimana Nak? Maaf Ibu tidak mengerti." Ucap ku yang memang tidak mengerti.
"Waktu itu Ibu membeli semua jualan saya tapi saya tidak tau kalau Ibu memberikan uang lebih. Dan ini kembaliannya." Ucap anak itu.
"Kapan Nak? Maaf Ibu tidak ingat, mungkin kamu salah orang." Ucap ku.
"Waktu saya berjualan di dekat klinik, kemudian ada bapak-bapak yang membeli jualan saya. Katanya majikannya yang nyuruh dan memberikan saya uang yang banyak, tapi saya tidak sempat menghitungnya. Sampai di Rumah saya menghitungnya, ternyata banyak sekali. Tapi saat itu saya membutuhkan uang untuk sekolah, jadi saya memakainya dulu. Dan saya menabung untuk mengembalikannya, ini kembalian Ibu. Maaf baru bisa mengembalikannya sekarang." Ucap nya panjang lebar, kemudian dia pun menunduk.
"Mungkin kamu salah orang Nak! Mending kamu simpan saja uangnya." Ucap ku, sebenernya aku mengingat kejadian beberapa Minggu yang lalu. Namun aku sengaja pura-pura lupa, ingin mengetahui reaksi anak ini.
"Ngga Bu, saya ingat sekali wajah Ibu. Bahkan saya menggambar wajah Ibu, agar saya tidak lupa. Dan ini, benar wajah Ibu yang ada di buku." Ucap nya yang kemudian mengeluarkan buku lusuh yang terdapat gambar wajah ku, betapa terkejutnya aku.
Gambar yang di buatnya benar-benar mirip dengan ku, ada juga tanggal kami bertemu dan jumlah uang yang aku berikan pun di tulisnya lengkap. Benar-benar anak yang hebat, bisa menggambar seperti ini.
"Ini kamu yang menggambarnya?" Tanya ku dengan terkejut.
"Bagus sekali, ibu suka sekali gambarnya. Kamu hebat sekali Nak." Ucap ku sambil tersenyum dan mengusap lembut rambutnya.
"Gimana kalau kita duduk di sana, mau kan? Ibu pegal berjongkok begini." Ucap ku, yang memang mulai terasa pegal.
"Tidak usah Bu, saya cuman mau memberikan ini saja. Kalau begitu saya permisi dulu, assalamualaikum." Ucap nya dan kemudian memberikan uang receh itu di tangan ku, namun aku menahan tangannya.
"Aduuhh. . . Tolong bantu Ibu dulu Nak." Ucap ku yang meringis kesakitan karena terlalu lama berjongkok, membuat kaki ku kram. Meski tidak terlalu sakit, namun aku ingin menahan nya dulu.
"Ibu kenapa? Ayo saya bantu, ibu mau ke mana?" Ucap nya khawatir, dan dia pun membantu ku berdiri dengan tubuh kecil nya.
"Kita ke sana saja, nanti Ibu telpon Supir Ibu. Mau kan kamu membantu Ibu?" Ucap ku sambil menunjuk salah satu Restoran terdekat dengan kami dan dia pun menganggukan kepala.
__ADS_1
Dengan perlahan dia memapah ku, hingga kami sampai di Restoran. Pelayan Restoran menghampiri kami, dan ikut membantuku. Aku pun meminta di siapkan makanan terbaik di Restoran ini untuk kami, meski awalnya anak itu kekeuh ingin pulang.
Namun aku berusaha menahannya dan kami pun makan bersama, dia makan dengan lahap. Bahkan tak terasa makanan pun habis, aku pun membungkus beberapa makanan untuknya nanti.
"Maaf Bu, makanannya habis. Tapi saya tidak punya uang untuk membayarnya, bagaimana saya membayarnya?" Ucap nya sendu dan aku tertawa mendengar ucapannya itu.
"Memang siapa yang meminta kamu membuat semuanya? Kamu tenang saja, semua saya yang bayar. Boleh ngga kita berbincang sebentar, sambil menunggu supir saya." Ucap ku dengan senyum tulus.
"Memang supir Ibu di mana? Kenapa dari tadi belum juga sampai." Ucap anak itu polos, karena aku memang mengatakan agar dia menemaniku sampai supir datang. Padahal Pak Supir berada tak jauh dari tempat kami sekarang.
"Ngga tau Ibu juga, oh. . . Iya! Kita belum berkenalan, nama Ibu Nadira. Kalau nama kamu siapa?" Tanya ku sambil mengulurkan tangan.
"Arjun." Ucap nya ragu, sambil menggenggam tangan ku.
"Ibu pasti mau menjual saya?" Ucap nya yang membuat aku terkejut, dan kemudian tertawa.
"Hahaha. . . Kamu ini ada-ada saja deh! Memang wajah Ibu, seperti penjahat iya?" Tanya ku.
"Biasanya kalau ada orang baik, memberikan makanan pasti memiliki niat jahat. Aku ngga mau di jual lagi, kalau Ibu berniat menjual ku. Tolong ampuni aku, aku akan membayar semua makanan yang aku makan tadi." Ucap nya ketakutan.
"Anak baik, dengar iya sayang. Ibu tidak pernah bermaksud untuk menjual kamu atau pun berbuat jahat sama kamu, Ibu tulus mengajak kamu makan, kamu tau kan saat ini ibu sedang hamil. Masa ibu tega menjual kamu, sedangkan sebentar lagi ibu akan memiliki anak seperti kamu juga. Kamu tenang saja iya." Ucap ku sambil menggenggam tangannya.
"Wah. . . Wah. . . Wah. . . Siapa ini Mas! Liat itu, mantan istri kamu! Masa gembel di bawa ke Restoran kaya gini! Benar-benar merusak pemandangan banget! Heh. . . Gembel! Pergi kamu dari sini! Ngga level banget kamu ada di sini." Ucap Sifa kasar, sambil mendorong bahu Arjun.
"Kalian yang harusnya pergi dari sini! Ini meja saya! Silahkan kalian pergi!" Ucap ku tegas.
"Tidak bisa! Kita mau makan di meja ini! Jadi kalian yang pergi! Bawa itu gembel! Jangan merusak pemandangan!" Ucap Sinis Sifa.
"Ayo Nak! Kita pergi dari sini." Ucap ku, kemudian membawa Arjun.
__ADS_1
"Dek!" Panggil Mas Tio sambil memegang tangan ku.