
Aku pun menghampiri Mas Tio yang saat ini masih terpejam, mungkin efek obat yang di berikan. Ku pegang tangan nya, dan mengarahkan nya ke perut ku. Aku pun mengelus perut ku dengan tangan Mas Tio, dengan mata yang berkaca-kaca.
"Mas, tau tidak! Anak yang selama ini kita idam-idamkan, kini hadir di rahim ku. Dia tumbuh tanpa aku sadari, namun aku bersyukur kehadirannya menjadi penguat aku dalam menjalani semuanya. Mas cepat sembuh iya! Meski nanti kita tidak bisa bersama lagi, namun kamu akan tetap menjadi ayah kandung nya." Ucap ku, kemudian aku menaruh kembali tangannya dan mencium kening Mas Tio untuk terakhir kali nya.
"Semoga kamu selalu bahagia Mas, dan semoga kamu bisa berubah menjadi laki-laki yang lebih bertanggung jawab." Do'a terakhir ku untuk nya.
Aku pun kemudian duduk dan menghubungi Mba Erna, untuk meminta nya datang.
Tut. . . Tut. . . Tut. . .
[ . . . ]
[Wa'alaikum salam, Mba lagi di mana?] Tanya ku.
[ . . . ]
[Boleh ngga Mba menjauh dulu dari Ibu.] Ucap ku, karena saat ini Mba Erna sedang menonton tv bersama Ibu.
[ . . . ]
[Ada sesuatu hal yang ingin aku bicarakan penting.] Ucap ku.
[ . . . ]
[Mba aku mau ngasih tau ke Mba, tapi Mba nanti jangan teriak atau apa dulu iya! Takut Ibu syok nanti.] Ucap ku.
[ . . . ]
[Mas Tio kecelakaan Mba.] Ucap ku.
[ . . . ]
[Mba tenang dulu, aku udah di Rumah Sakit dan sekarang lagi nemenin Mas Tio. Tadi Mas Tio dan Sifa kecelakaan tunggal, Mas Tio menabrak bahu jalan dan sekarang mereka ada di Rumah Sakit Harapan Sehat. Tolong Mba kasih tau Ibu iya! Aku mau langsung kasih tau Ibu, takut Ibu syok.] Ucap ku.
[ . . . ]
[Iya Mba aku tunggu di sini iya, Mba hati-hati. Aku pesankan taksi online dari sini iya Mba, assalamualaikum.] Ucap ku.
[ . . . ]
Aku pun memesankan taksi online untuk Kakak Ipar dan Ibu mertua ku datang ke sini, kemudian aku mengirim foto plat nomor mobil nya.
__ADS_1
Foto (Terkirim)
Drivernya sudah jalan ke situ Mba, dan sudah aku bayar. Mba sama Ibu hati-hati di jalannya. (Terkirim)
Kring. . . Kring. . . Kring. . .
[Assalamualaikum Ma] Ucap ku.
[Wa'alaikum salam, Dek kamu di mana? Katanya di Rumah Sakit Harapan Sehat, tapi di bagian pendaftaran ngga ada nama kamu! Kamu ini sebenarnya di mana? Jangan buat Mama khawatir, Mama sekarang ada di lobby. Cepat kamu bilang kamu di mana!] Ucap Mama khawatir dan aku pun menepuk kening ku lupa memberi tahu Mama.
[Maaf Ma, bukan Ade yang sakit. Mama tunggu di situ iya! Biar Ade samperin Mama.] Ucap ku yang merasa bersalah.
[Udah kamu diem aja di situ! Kasih tau di ruangan apa? Nanti Mama yang ke situ.] Ucap Mama.
[Di lantai 5 Ruangan no 11 Ma.] Ucap ku.
[Iya sudah kamu tunggu iya.] Ucap Mama.
[Iya Ma.] Jawab ku dan kemudian Mama mematikan telpon, aku pun langsung membuka grup WA keluarga dan ternyata banyak notifikasi nya.
Maaf semuanya, bukan Ade yang sakit. Tapi Mas Tio kecelakaan, dan saat ini di rawat di Rumah Sakit Harapan Sehat lantai 5 kamar no 11. Maaf membuat semua khawatir, tadi belum sempat buka telpon. Alhamdulillah Ade baik-baik aja dan Mama juga sudah sampai Rumah Sakit. (Terkirim)
"Sayang." Ucap Mama langsung memeluk ku.
"Ma." Ucap ku dengan mata berkaca-kaca.
"Yang sabar iya Nak! Kamu pasti bisa lewatin semuanya, ayo duduk. Kamu pasti syok." Ucap Mama sambil merangkul ku untuk duduk kembali.
"Aku liat dengan mata kepala aku Ma, waktu Mas Tio di bawa ke Ambulan dengan banyak darah. Tapi Alhamdulillah nya Mas Tio ngga kenapa-kenapa Ma." Ucap ku.
"Sudah kamu yang tenang iya! Kamu jangan banyak pikiran, kasian bayi nya. Dia ikutan sedih liat Mama nya sedih, udah iya! Kamu juga pasti belum makan kan? Mama pesan makanan dulu iya! Tidak ada penolakan." Ucap Mama dan aku pun hanya tersenyum.
"Sebenarnya apa yang terjadi sayang? Kenapa kamu bisa sampai lihat Tio di bawa ke Ambulan?" Tanya Mama heran.
"Sebenarnya waktu di Klinik aku ketemu mereka Ma, tapi pas aku beres di periksa mereka sudah tidak ada. Iya udah aku pulang, tapi di jalan macet banget. Ternyata ada kecelakaan dan ngga jauh dari aku ambulan datang, bertepatan dengan mobil aku lewat Mas Tio di masukan ke Ambulan. Jadi aku liat sendiri wajah Mas Tio yang berdarah-darah, bikin aku syok dan aku pun berhenti. Untuk menanyakan Rumah Sakit mana mereka membawa Mas Tio, terus aku samperin ke sini." Ucap Ku.
"Tunggu! Maksud kamu mereka? Tio sama selingkuhan nya?" Tanya Mama dan aku pun menganggukkan kepala.
"Kenapa ngga kamu biarin aja mereka? Ngapain juga kamu ke sini? Udah ayo kita pulang aja! Buang-buang waktu kamu aja, mending kamu istirahat di Rumah. Ayo Nak kita pulang saja." Ucap Mama sambil menarik tangan ku, namun kemudian ada orang yang datang.
Ceklek. .
__ADS_1
"TIOOOO. . . " Teriak Ibu Mertua ku.
"Kamu kenapa Nak? Kenapa sampai begini? Ya Allah apa yang terjadi dengan anak ku? Tio bangun Tio!" Ucap Ibu berusaha membangunkan Mas Tio.
"Sabar Bu, sabar! Udah Ibu duduk dulu nanti kita tanyakan ke Dokter iya, Ibu yang tenang." Ucap Mba Erna berusaha menenangkan Ibu Mertua ku.
"Gimana ini Erna? Tio ngga bangun-bangun! Tio Ibu sudah memaafkan kamu, kamu sadar iya Nak! Jangan begini! Ibu khawatir sama kamu Nak." Ucap Ibu Mertua sambil menangis, kemudian Mba Erna melihat ke arah ku.
"Nadira!" Panggil Mba Erna.
"Iya Mba." Ucap Ku.
"Bagaimana kamu tau Tio kecelakaan? Atau jangan-jangan kamu yang menyebabkan Tio kecelakaan?" Tuduh Mba Erna.
"Enak aja kamu nuduh anak saya! Asal kamu tau! Adik kamu itu kecelakaan bersama selingkuhan nya! Bukan karena anak saya! Anak saya sudah baik hati mengurus keperluan nya di sini dan menjaganya, bukannya bilang terimakasih! Malah seenak nya kamu nuduh anak saya!" Ucap Mama marah.
"Apa benar Tio kecelakaan bersama selingkuhan nya?" Tanya Ibu Mertua ku.
"Iya Bu, tadi mereka kecelakaan tunggal dan saat ini Sifa di rawat di Ruang sebelah." Ucap ku.
"Udah ayo kita pulang! Ngapain juga di sini! Nanti kamu di tuduh yang bukan-bukan lagi! Ayo sayang kita pulang!" Ucap Mama yang kemudian menarik ku keluar.
"Ibu, Mba Erna kami pamit pulang dulu. Assalamualaikum." Ucap ku dan kemudian kami pun keluar Ruang Rawat Mas Tio. Mungkin bukan keberuntungan ku hari ini, lagi-lagi aku bertemu dengan Ibu Sifa yang menyebalkan itu.
"Kamu!" Panggil Ibu Sifa sambil menunjuk ke arah ku.
"Ibu panggil saya?" Tanya aku sopan.
"Pasti gara-gara kamu anak saya kecelakaan? Iya kan? Dasar wanita ngga tau diri! Lihat gara-gara kamu, Sifa hampir kehilangan anaknya! Dan sekarang dia harus terbaring lemah, kamu benar-benar wanita tidak berperasaan! Saya akan laporkan kamu ke Polisi dan kamu akan mendekam di penjara!" Ancam Ibu Sifa dengan marah.
"Sudah Bu, sudah malu." Ucap Kakak Sifa.
"Enak aja kamu nyalahin anak saya! Harusnya anak kamu yang di salahin! Udah merebut suami anak saya! Pantas saja anak nya jadi pelakor, kelakuan Ibu nya aja kaya gini! Kamu tau! Ini itu karma buat anak kamu! Karna anak kamu sudah merebut suami anak saya dan merebut kebahagiaan anak saya!" Ucap Mama marah.
"Anak saya anak baik-baik! Bukan pelakor!" Elak Ibu Sifa.
"Kalau bukan pelakor apa namanya? Wanita yang sudah merebut suami orang lain? Sudahlah sayang, ayo kita pergi aja! Ngga usah ladenin orang kaya mereka." Ucap Mama yang kemudian menarik ku pergi, tapi kemudian kami berhenti saat mendengar perkataan Ibu Sifa.
"Dengar! Saya akan melaporkan kamu ke Polisi! Gara-gara kamu anak saya terluka! Kamu akan mendekam di penjara!" Teriak Ibu Sifa dan Mama kemudian akan membalasnya, namun aku halangi dan aku pun berbalik.
"Silahkan Ibu laporkan! Saya tidak takut, karena saya tidak bersalah! Bahkan saya bisa melaporkan anak Ibu, karena telah berselingkuh dengan suami saya! Mungkin nanti malah anak Ibu yang melahirkan di dalam penjara. Kalau begitu saya tunggu surat tuntutan nya iya Bu! Assalamualaikum." Ucap ku, kemudian kami pun pulang dengan perasaan kesal.
__ADS_1