Suamiku Bukan Milik Ku

Suamiku Bukan Milik Ku
Bab 33


__ADS_3

Setelah perdebatan panjang, antara kami. Akhirnya di putuskan, bahwa aku ikut pulang dengan Mas Tio untuk menyelesaikan urusan kami terlebih dahulu.


Meski berat namun aku mencoba menerima keputusan yang Papa buat, demi kebaikan bersama. Aku pun pulang bersama Mas Tio menggunakan Sepeda Motor miliknya.


Sepanjang perjalanan kami hanya saling diam, tidak ada yang memulai pembicaraan. Hingga tiba di Rumah, pemandangan yang pertama kali ku lihat adalah banyak nya dedaunan yang berserakan, lantai teras yang kotor, karena semalam hujan.


"Assalamualaikum." Ucap Kami saat membuka pintu Rumah yang tidak terkunci.


"Wa'alaikum salam." Ucap Ibu yang sedang menonton TV, aku pun menghampiri dan mencium tangan Ibu Mertua, sedangkan Mas Tio langsung berjalan menuju kamar kami.


"Enak iya? Abis jalan-jalan sampai lupa kalau punya suami! Mana ngga bawa oleh-oleh, pelit banget jadi orang." Ucap Ibu Mertua menyindir.


"Siapa yang habis jalan-jalan Bu?" Tanya ku bingung.


"Alah pura-pura ngga tau, bilang aja kalau ngga mau ngasih oleh-oleh! Dasar menantu pelit!" Ucap Ibu Mertua ketus.


"Beneran Bu, aku ngga ngerti maksud Ibu. Aku habis dari Rumah Orang Tua ku, bukan jalan-jalan." Ucap ku kesal.


"Ngeles aja kamu, Tio sendiri yang bilang kamu lagi jalan-jalan sama keluarga kamu. Jangankan Ibu, suami kamu sendiri aja ngga kamu ajak. Mana ngga bawa oleh-oleh apa-apa, pelit sekali iya keluarga kamu itu! Lagian Ibu juga bisa ko pergi jalan-jalan sama Tio, memang kalian aja yang bisa jalan-jalan tapi ngga ngajakin kita." Ucap Ibu ketus.


"Aku udah bilang Bu, aku ngga jalan-jalan sama sekali. Ibu tanya ke anak Ibu yang sebenarnya terjadi! Jangan selalu menyalahkan aku!" Ucap ku marah dan berjalan menuju kamar ku.


BRAKK. . .


Sengaja ku buka pintu keras dan tidak menutup nya rapat. Kulihat Mas Tio tidak ada, mungkin sedang mandi. Aku pun menyiapkan baju dan keperluan lainnya untuk Mas Tio, walaupun aku sedang marah. Aku tetap menjalankan kewajiban ku sebagai seorang istri dan tak lama Mas Tio keluar dari kamar mandi.


Ceklek. . .


"Kamu bersih-bersih dulu sana, Dek. Habis itu kita bicara." Ucap Mas Tio menatap ku, dan tanpa bicara aku pun masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


Setelah selesai aku keluar dari kamar mandi, sudah dengan pakaian lengkap. Karena memang sengaja aku memakai pakaian ku di dalam kamar mandi.


"Sini, Dek! Mas mau bicara." Ucap Mas Tio yang gugup, aku pun menghampiri Mas Tio dan duduk di sebelahnya.


"Mas mau minta maaf sama kamu, dek!" Ucap Mas Tio gugup.


"Minta maaf untuk yang mana Mas?" Tanya ku menahan sesak di dada.


"Untuk semua yang Mas lakukan, Mas khilaf. Mas mohon, jangan tinggalin Mas lagi. Mas ngga sanggup kehilangan kamu." Ucap Mas Tio sambil menggenggam tanganku.


"Terus saat Mas selingkuh, apa Mas pernah berpikir akan kehilang aku? Apa Mas ngga berpikir bagaimana perasaan aku saat tau Mas selingkuh? Hancur Mas! Aku bener-bener hancur! Orang yang aku cintai, mengkhianati aku di depan mata ku!" Ucap ku mengeluarkan unek-unek yang tersimpan di hati ku dengan air mata yang berlinang.


Ku tepis tangannya yang menggenggam tangan ku, aku pun berdiri menghapus air mata ku dengan kasar.


"Apa salah ku Mas? Selama ini aku selalu mencoba mengerti kamu! Menerima semua yang kamu lakuin ke aku! Apa karena aku belum hamil? Aku juga pengen Mas, aku pengen hamil! Kamu tau kan, bagaimana pengorbanan aku demi bisa hamil? Apa belum cukup Mas?" Ucap ku sambil menangis tersedu-sedu.


"Bukan Dek, bukan karena kamu belum hamil." Kilah Mas Tio dan mencoba mendekati ku, namun aku menghindar.


"Jawab Mas! Apa salah ku?" Teriak ku yang tidak di jawab oleh Mas Tio, tetapi Mas Tio memaksa memeluk ku dan aku pun menangis di pelukannya, sambil memukul-mukul dadanya.


"Jahat kamu Mas! Jahat!" Ucap ku lirih.


"Maaf." Hanya itu kata yang keluar dari mulut Mas Tio.


Tak lama aku pun tidak lagi histeris seperti tadi, namun air mata terus mengalir dengan tatapan yang kosong.


"Lantas apa mau mu sekarang Mas?" Tanya ku.


"Dek, kamu jangan gini! Mas semakin merasa bersalah." Ucap Mas Tio sendu.

__ADS_1


"Lantas aku harus bagaimana Mas? Aku harus tertawa gembira?" Ucap ku memberikan senyum sinis.


"Sekali lagi Mas minta maaf, Dek." Ucap Mas Tio memegang kedua pipi ku.


"Mau kamu apa Mas sekarang? Aku sudah ada di depan mu! Cepat katakan, aku sudah tak sanggup Mas!" Ucap ku lirih dengan air mata yang tak berhenti mengalir.


"Maaf Dek, Mas janji akan berubah! Mas tidak akan mengkhianati kamu lagi, Mas sayang sama kamu. Jangan tinggalin Mas lagi, Dek! Mas mohon, kita mulai semua dari awal lagi iya, Dek." Ucap Mas Tio memohon dengan mata yang berkaca-kaca.


"Bagaimana dengan wanita itu? Apa kamu yakin dia akan menerima semua ini?" Tanya ku dan Mas Tio tampak ragu untuk menjawab.


"Lihat bukan! Kamu saja ragu menjawab pertanyaan ku, tetapi kamu memaksa ku untuk memaafkan mu. Kamu egois Mas!" Ucap ku.


"Iya Mas memang egois! Mas ngga sanggup harus kehilangan kamu, Mas mohon berikan Mas kesempatan ke dua. Mas janji akan berubah, jangan tinggalkan Mas lagi Dek." Ucap Mas Tio sembil memeluk ku.


"Jawab pertanyaan ku tadi Mas, bagaimana dengan wanita itu?" Tanya ku lirih.


"Ma-s a-kan mengakhiri semuanya dengan Sifa, tapi Mas mohon jangan tinggalkan Mas lagi Dek!" Ucap Mas Tio memohon.


"Baik, aku akan memberikan 1 kali kesempatan lagi untuk mu Mas. Tapi jika kamu mengkhianati aku lagi, tidak akan ada maaf untuk mu Mas." Ucap ku pada Mas Tio.


"Terimakasih Dek, terimakasih banyak kamu mau memberikan Mas kesempatan. Mas janji akan berubah dan tidak akan berhubungan lagi dengan Sifa." Ucap Mas Tio senang, kemudian mencium seluruh wajah ku, namun aku hanya diam.


"Aku tidak butuh kata-kata, tapi buktikan semua kepada ku." Ucap ku pelan.


"Tentu! Mas akan buktikan, bahwa mas akan berubah. Terimakasih sayang." Ucap Mas Tio senang, namun aku tidak merespon apa pun.


Aku tak tahu keputusan yang ku ambil ini benar atau tidak, yang jelas aku ingin mempertahankan pernikahan ku. Tak ingin Rumah Tangan ku hancur, karena adanya orang ketiga.


Tok. . . Tok. . . Tok. . .

__ADS_1


"Tio. . . Tio. . ." Teriak Ibu Mertua dari luar kamar.


__ADS_2