Suamiku Bukan Milik Ku

Suamiku Bukan Milik Ku
Bab 31


__ADS_3

Ceklek. . .


"Permisi, apa benar ini dengan kediaman Ibu Dian?" Tanya kurir.


"Betul, saya sendiri. Ada apa iya Pak?" Tanya Dian heran.


"Saya di minta untuk mengantarkan pesanan dari Bapak Niko untuk Ibu Dian." Ucap Kurir.


"Kak Niko?" Ucap ku.


"Iya Bu dari Bapak Niko, mohon di terima. Pesanan sudah di bayar menggunakan aplikasi." Ucap kurir sambil memberikan makanan kepada ku.


"Terimakasih banyak iya Pak." Aku pun menerima makanan tersebut.


"Sama-sama Bu, kalau begitu saya permisi." Ucap kurir pamit.


"Iya pak." Ucap Dian.


Aku pun bernapas lega, karena jujur aku takut yang datang adalah Mas Tio. Tetapi kalau di pikir-pikir, Mas Tio tidak akan tau di mana Rumah Dian atau pun Selva.


Bahkan mungkin Mas Tio tidak tau siapa saja teman dekat ku, karena selama ini Mas Tio selalu membatasi ruang gerak ku. Aku tidak pernah keluar Rumah selain dengan Mas Tio atau pun berbelanja.


Kami pun masuk kedalam Rumah dan menyimpan makanan itu, kemudian aku pun menghubungi Kak Niko.


Tut. . . Tut. . . Tut. . .


[Assalamualaikum, Kak] Ucap ku.


[Wa'alaikum salam, ada apa dek?] Tanya Kak Niko.


[Ini bener Kakak kirim makanan buat kita di sini?] Tanya ku.


[Iya bener, udah sampai makanannya?] Tanya Kak Niko.

__ADS_1


[Udah, Kak. Makasih iya Kak.] Ucap ku.


[Sama-sama, Dek. Kalian makan dulu, sebelum berangkat. Kamu pasti belum makan kan? Makan yang banyak iya, jangan nangis terus!] Tegur Kak Niko.


[Hehehe. . . Iya Kak, aku pasti makan dulu. Makasih banyak iya Kak.] Ucap ku cengegesan.


[Iya udah sana kamu makan.] Ucap Kak Niko.


[Oke! Sampai ketemu di Rumah iya, Kak. Assalamualaikum.] Ucap ku.


[Iya, Dek. Wa'alaikum salam.] Jawab Kak Niko dan mematikan telpon.


"Gimana Mba? Bener semua makanan ini dari Kak Niko?" Tanya Dian penasaran.


"Iya bener, katanya kita di suruh makan dulu sebelum berangkat. Biar nanti kita bisa langsung berangkat, ayo kita makan." Ajak ku pada Dian, kami pun langsung duduk di kursi makan dan mulai membuka bungkusan makanan yang di kirim Kak Niko.


"Wah . . . Ini kan makanan kesukaan kita bertiga?" Ucap ku dengan mata berbinar.


"Iya bener Mba, ini juga Spaghetti Mozarella kesukaan aku. Ayo Mba kita makan! Nanti keburu dingin makanannya." Ucap Dian yang sudah tidak sabar untuk makan siang.


"Selva ngga kita panggil dulu Mba?" Tanya Dian di sela makan.


"Ngga perlu, tadi mba udah kasih waktu dia 15 menit dan sekarang udah 15 menit. Iya kalau dia ngga keluar, biarin aja kita makan duluan. Salah dia kelamaan packing nya, nanti kita sisain makanan kesukaan dia." Ucap ku santai, sambil terus memakan makanan ku, sedangkan Dian hanya menganggukkan kepala, pertanda setuju dengan ucapan ku.


Tak lama kami pun menyelesaikan makan siang kami, dan Selva pun keluar dari kamar membawa 1 koper dan 1 tas seukuran yang kami bawa. Kami hanya diam saja saat melihat Selva tampak kesusahan membawa koper dan tas nya, tanpa berniat membantunya sama sekali.


"MBA. . . DIAN. . . KEMANA KALIAN?" Teriak Selva di Ruang Tamu.


"Jangan-jangan mereka duluan? Eh. . Ngga mungkin! Ini kan tas mereka." Gumam Selva sambil menunjuk tas milik kami, sedangkan kami hanya duduk sambil menggelengkan kepala melihat apa saja yang dilakukan Selva.


"Terus di mana mereka?" Gumam Selva dan melihat sekitar Rumah dan dia pun melihat kami di Ruang makan, kemudian menghampiri kami dengan ekspresi kesal.


"Kalian ini! Jadi dari tadi kalian duduk di sini?" Tanya Selva dan kami balas dengan menganggukkan kepala bersama.

__ADS_1


"Terus kalian liat aku kesusahan bawa barang?" Tanya Selva kesal, kami pun menganggukkan kepala lagi.


"Dan kalian makan berdua, tanpa ngajak aku?" Tanya Selva kesal dan kami pun menganggukkan kepala, sambil menahan tawa.


"Kalian ini bener-bener saudara ngga punya akhlak! Bisa-bisanya kalian makan, padahal aku lagi kesusahan bawa barang? Aku juga kan lapar, habis packing banyak. Tega banget kalian makan duluan! Ngga nungguin aku!" Ucap Selva marah, sambil berkacak pinggang.


"Kamu nyalahin kita?" Tanya ku polos.


"Iya lah!" Ucap Selva ketus, kemudian dia menarik kursi dan duduk bersama kami.


"Di suruh siapa kamu lama? Mba kan udah bilang 15 menit lagi kita tunggu di luar! Tapi kamu ngga keluar-keluar. Iya udah kita makan duluan, dari pada nungguin kamu yang ngga selesai-selesai." Ucap ku yang ikut kesal.


"Kalian kan bisa panggil aku dulu! Aku juga kan lapar." Ucap Selva kesal, sambil mengambil makanan dan memakannya.


"Terus kalau kita panggil untuk makan, kamu bakalan selesai beres-beres nya? Ngga kan? Yang ada nanti habis makan kamu kekenyangan, terus jadi males beresin barang-barang kamu yang berserakan!" Ucap ku kesal.


"Ikh Mba sok tau!" Ucap Selva kesal.


"Mba kan memang tau kebiasaan buruk kamu! Sekarang Mba mau tanya, kamu bawa banyak barang buat apa? Memang kamu mau pindahan?" Tanya ku heran.


"Kita kan mau liburan! Kita harus prepare maksimal, jangan sampai liburan kita terganggu." Ucap Selva ketus.


"Iya terserah kamu aja, asal tidak menyusahkan kami!" Ucap ku sambil menatap tajam pada nya.


"Tenang aja, ngga akan aku minta tolong sama kalian!" Ucap sinis Selva dengan mulut penuh makanan.


"Ayo cepat makannya, kita harus buru-buru ke Rumah Mama dari pada nanti di tinggal." Ucap Dian, Selva pun makan dengan cepat.


Setelah itu kami berangkat ke Rumah orang tua ku, menggunakan 1 mobil. Sepanjang jalan kami bersenda gurau, hingga tibalah kami di Rumah orang tua ku.


Tanpa melihat sekeliling, kami bergegas keluar dari mobil menuju ke dalam Rumah. Karena pintu terbuka, kamu pun langsung masuk ke dalam.


"Assalamualaikum." Ucap kami bersamaan dengan senyum ceria, namun seketika senyum itu hilang.

__ADS_1


Saat melihat seseorang yang sedang duduk bersama kedua orang tua ku.


Deg. . .


__ADS_2