
Perdebatan di Rumah Sakit kemarin aku anggap sebagai hiburan untuk ku, bagaimana tidak?
Ibu dari selingkuhan suami ku ingin aku membiayai perawatan anak nya, sedangkan dia kecelakaan dengan suami ku. Belum lagi Mas Tio yang membela mereka, sangat luar biasa sekali dan aku berharap semoga sidang ku nanti berjalan lancar dan segera kami bisa berpisah.
Tok. . . Tok. . . Tok. . .
Ketuk palu sidang perceraian ku pun terdengar, aku pun bersyukur semua berjalan sesuai rencana. Aku pun menutup mata dan berusaha menetralkan perasaan ku, tiba-tiba air mata ku pun menetes. Meratapi nasib ku yang sekarang berstatus janda, namun aku bahagia karena terbebas dari semua beban yang menghimpit dada ku.
Kini aku berhadapan dengan Mas Tio di depan Ruang Sidang, bersama pengacara dan keluarga ku. Aku pun mengulurkan tangan sambil tersenyum bahagia, meski raut wajah Mas Tio penuh akan penyesalan.
"Terimakasih untuk semuanya Mas, semoga kamu bahagia dengan kehidupan baru kamu. Aku minta maaf! Jika aku banyak salah kepada kamu dan Ibu, terimakasih untuk semua pelajaran hidup yang kamu berikan kepada ku dan terimakasih atas sakit yang kamu torehkan di hati ku. Semoga kita berdua bisa sama-sama berubah menjadi lebih baik." Ucap ku sambil tersenyum.
"Maaf. . . Maafkan Mas, Dek! Semoga kamu bisa mendapatkan pendamping hidup yang lebih baik dari Mas, semoga hidup kamu bahagia. Boleh kah Mas memeluk mu untuk terakhir kalinya?" Tanya Mas Tio dan aku pun mengangguk, kami berpelukan.
"Maaf. . . Maaf Dek! Mas salah! Maafkan Mas." Ucap Mas Tio sesegukan, aku pun menepuk punggung Mas Tio lembut.
"Sudah Mas! Lupakan semuanya, semoga Mas bisa berubah." Ucap ku sambil berusaha melepaskan diri.
"Kalau begitu aku pamit iya Mas, Bu. Assalamualaikum." Ucap ku pamit dengan tersenyum.
Akhirnya kini statusku sudah jelas, aku kini seorang janda yang sedang hamil. Mulai saat ini, aku akan berjuang untuk kebahagiaan anak ku kelak.
Tak lama setelah sidang keputusan ku selesai, Mas Tio dan Sifa pun menikah. Rumah yang dulu aku tinggali dengan Mas Tio kami jual dan kami bagi rata penjualannya, uang itu akan Mas Tio gunakan untuk resepsi pernikahan katanya dan aku pun di undang untuk hadir ke acara pernikahan mereka.
"Kamu yakin mau hadir?" Tanya Mama khawatir.
"Tentu dong Ma." Ucap ku semangat, sambil merapikan baju ku.
"Gimana kalau kita shopping aja? Atau jalan-jalan gitu? Dari pada ke sana, ngapain coba?" Ucap Mama yang terus membujuk ku untuk tidak pergi menghadiri acara pernikahan mantan suami ku.
"Udah! Mama tenang aja, Ade pasti baik-baik saja. Lagi pula Ade pergi sama Dian dan Selva ko! Mama ngga perlu khawatir iya!" Ucap ku sambil tersenyum.
"Pokoknya kamu harus hati-hati dan ngga boleh jauh dari mereka iya." Ucap Mama.
__ADS_1
"Tentu Ma, kalau begitu Ade berangkat iya. Assalamualaikum." Ucap ku pamit, karena sudah di jemput Dian dan Selva di depan.
"Cieh semangat banget yang mau ketemu mantan, hahaha. . ." Ledek Selva.
"Iya dong! Harus semangat, kan aku juga mau ngundang mereka loh! Lupa iya?" Ucap ku.
"Ngga lupa dong! Kan kita mau bikin kejutan buat mereka, hahaha. . ." Ucap Selva bahagia, sedangkan Dian hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan kami dan dia pun mengelus perut ku yang menonjol.
"Baby kamu nanti jangan terkejut iya, dengan kelakuan Mama, dan Mommy kamu. Masih ada Bunda yang waras di sini, jadi kamu tenang aja." Ucap Dian sambil mengelus perut ku, aku dan Selva pun menatap horor ke arah Dian.
"Jadi Lo! Pikir kita ngga waras apa?" Ucap Selva ketus.
"Emang kalian ngga waras." Ucap Dian cuek.
"Kalian ini! Bukannya berangkat, malah berdebat di sini. Sudah sana berangkat, jagain Nadira baik-baik inget itu! Jangan sampai lecet pokok nya iya!" Ucap Mama.
"Siap Mama." Ucap mereka serempak.
"Kalau begitu kita berangkat iya Ma, Assalamualaikum." Ucap ku pamit dan kami pun bergegas berangkat menuju acara resepsi pernikahan Mas Tio dan Sifa.
"Mba! Emang hasil jual rumah Mba gede iya?" Tanya Selva dan aku pun mengernyitkan kening ku bingung.
"Maksudnya?" Tanya ku.
"Lihat dong Mba, ini itu untuk kalangan mereka udah wah banget! Maaf loh iya! Bukan aku berniat merendahkan, tapi ini itu bener-bener wah untuk setara mereka." Ucap Selva dan seketika aku pun mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan ini.
Benar apa yang di katakan Selva, dekorasi nya mewah, bunga hidup semua, dan makanannya enak-enak. Karena saat ini kami sedang mencicipi makanan yang tersedia.
"Bener juga apa kata kamu." Ucap ku sambil menyuap makanan ku ke mulut.
"Nah kan! Uang dari mana coba dia? Mba ngga penasaran gitu?" Tanya Selva lagi.
"Ngga." Ucap ku cuek.
__ADS_1
"Ikh! Aku aja penasaran loh Mba! Jangan-jangan Mas Tio korupsi loh Mba!" Tuduh Selva.
"Hust. . . Jangan ngomong sembarangan!" Tegur Dian.
"Udah ah. . . Mba udah kenyang nih! Kalian kenyang belum?" Ucap ku sambil membersihkan mulut ku.
"Iya ampun! Itu makanan kan banyak banget tadi, udah abis aja!" Ucap Selva terkejut.
"Makanya jangan ngomong terus, emang kenyang kalau ngomong terus." Ucap ku.
"Ayo kita samperin mempelai nya, Mba pengen makan Seblak nih!" Ucap ku yang membuat mereka menganga.
"Loh! Ngapain kalian? Ayo kita samperin mereka." Ucap ku, langsung bangkit dan merapikan baju di ikutin Selva dan Dian.
Dan kami pun menghampiri kedua mempelai yang sedang berbahagia dengan senyum senang, namun begitu melihat kami ekspresi mereka berubah. Mas Tio yang sepertinya menahan kerinduan kepada ku dan Sifa yang tampak kesal.
"Selamat iya Mba, Bu." Ucap ku saat mencium tangan Ibu mantan mertua ku dan Mba Erna, tanpa ku duga Mantan Ibu Mertua ku memeluk ku erat dan menangis.
"Maafkan Ibu. . . Ibu mohon maafkan Ibu." Ucap Ibu menangis tersedu-sedu, aku pun menepuk punggung Ibu pelan.
"Tidak ada yang perlu di maafkan Bu, semua sudah berlalu. Semoga Ibu dan Mba sehat selalu." Do'a ku tulus, sambil berusaha melepaskan pelukannya.
"Ka-kamu hamil?" Tanya ibu terkejut, melihat perut ku yang sudah membesar.
"Iya Bu, Alhamdulillah aku hamil. Sudah 4 bulan dan besok ada acara syukuran 4 bulanan ku, kalau Ibu tidak ada acara aku tunggu iya Bu di Rumah." Ucap ku sambil tersenyum.
"Apa? 4 bulan!" Teriak Ibu dan Mba Erna tambah terkejut, kami pun menjadi pusat perhatian.
"Dek, benar kamu hamil?" Tanya Mas Tio tiba-tiba dan aku pun menganggukkan kepala sambil tersenyum, kemudian aku mengelus perut ku yang sudah mulai membuncit.
"Ja-di waktu sidang perceraian kita, kamu sudah mengandung?" Ucap Mas Tio terkejut.
"Iya Mas, aku sudah mengandung saat itu." Ucap ku.
__ADS_1
"Kenapa kamu ngga bilang? Kalau kamu bilang, kita ngga akan cerai!" Ucap Mas Tio menyalahkan ku dan membuat semua nya terkejut mendengar ucapan Mas Tio.