
"KETERLALUAN KAMU MAS!" Teriak Sifa dengan muka memerah.
"Kamu itu ngga di mana-mana bisa nya merusak suasana, pergi sana kamu dari sini! Jangan merusak kebahagiaan anak saya! Pergi!" Ucap Ibu Sifa sambil berusaha menarik tangan ku, namun di halangi Mas Tio.
"Jangan berani-berani Ibu menyakiti Nadira! Dia sedang hamil, jika terjadi sesuatu dengan anak kami bagaimana!" Sentak Mas Tio.
"Kamu jangan tertipu Mas! Bisa aja itu bukan anak kamu!" Ucap Sifa menuduh ku.
"Benar itu Tio! Jangan percaya ucapan nya! Kalau memang itu anak kamu! Buat apa dia merahasiakan nya? Sudah pasti itu anak laki-laki lain." Ucap Ibu Sifa yang turut menuduh ku.
"DIAM! Jaga ucapan Ibu! Tio lebih mengenal Nadira daripada kalian semua, dia wanita baik-baik dan terhormat. Tidak mungkin dia menyerahkan dirinya untuk laki-laki yang bukan suaminya!" Ucap Mas Tio lantang.
"MAS! APA-APAAN KAMU? AKU JUGA HAMIL ANAK KAMU! KENAPA KAMU LEBIH MEMBELA WANITA ITU DARI PADA AKU?" Teriak Sifa marah.
"INI SEMUA SALAH KAMU! DULU AKU SUDAH BILANG KITA AKHIRI SEMUANYA! TAPI KAMU MENYERAHKAN DIRI KAMU DENGAN GAMPANGNYA! LIHAT! GARA-GARA KAMU! ANAK YANG KAMI TUNGGU-TUNGGU AKAN LAHIR TANPA AYAH NYA." Teriak Mas Tio marah sambil menunjuk-nunjuk Sifa.
"CUKUP." Ucap ku tegas, kini suasana hening dan mereka pun menatap ku.
"Saya ke sini bukan untuk membuat keributan, saya datang ke sini atas undangan saudara Sifa untuk hadir di acara resepsi pernikahan nya. Sekaligus saya ingin mengundang Mantan Suami dan Mantan Ibu Mertua saya untuk hadir ke acara tasyakuran 4 bulanan kandungan saya, karena saya sudah menyampaikan maksud kedatangan saya ke sini. Maka dari itu saya izin pamit, mohon maaf mengganggu acara kalian. Assalamualaikum." Ucap ku pamit, kami pun pergi dari acara itu dengan wajah datar dan banyak undangan yang memandang kami dengan pandangan yang sulit di artikan.
Sepanjang perjalanan kami saling diam, hingga lampu merah membuat kami berhenti dan aku melihat penjual rujak yang sangat menggiurkan.
"Va beli rujak itu tuh! Yang di sana." Ucap ku, sambil menunjuk ke arah penjual rujak.
"Iya nanti beli yang di deket rumah aja Mba, di sana enak." Ucap Selva.
"Kamu ini! Mba kan pengennya yang di situ! Dan Mba pengennya sekarang! Bukan yang di deket rumah! Apalagi ini masih jauh! Ayolah, Mba mohon! Mba pengen yang itu Va, kita ke sana yuk!" Ucap ku merajuk.
__ADS_1
"Lah, itu lampunya udah ijo Mba. Nanti kita makin lama di jalannya, kita cari sambil lewat aja iya Mba." Ucap Selva membujuk.
"Putar balik." Ucap ku tegas dan Selva pun menghela nafas, namun tetap melakukan apa yang aku minta.
Tak lama kami pun sampai di penjual rujak dan benar saja, buah-buah nya masih segar. Bahkan penjualnya pun masih mengupas buah yang tampak menipis stoknya. Dengan penuh semangat aku memesan 10 bungkus rujak dengan tingkat kepedesan berbeda tidak pedas, sedang, pedas dan sangat pedas.
"Iya ampun! Mba! Stress sih stress! Itu rujak banyak amat! Gimana kalau sakit perut?" Ucap Selva sambil menggelengkan kepala dan Dian hanya melongo melihat rujak yang aku beli.
"Diem deh! Nanti juga kamu ikutan makan, awas aja kalau kamu nambah! Ngga akan Mba kasih." Ucap ku sinis dan kami pun melanjutkan perjalanan kami.
"Wah! Bener-bener mantap ini rujak, Dian ayo kita makan." Ucap ku dan menyodorkan rujak yang sudah aku buka.
"Bener Mba pas banget ini makan rujak sambil macet gini." Ucap Dian yang sama lahap nya dengan aku.
"Tau gini pake supir tadi! Ah. . . Kesel, Mba sih! Tadi malah nyuruh muter balik, liat nih macet parah." Ucap Selva kesal dan menyalahkan ku, sambil ikut mengambil rujak.
"Nyalahin sih nyalahin, makan rujak nya sedikit-sedikit kali. Nanti keselek tau rasa." Ucap ku sebal.
"Dian sayang, yang baik hati. Suapi Selva yang cantik ini dengan rujak iya, tapi jangan yang asem-asem banget." Ucap Selva membujuk.
"Iya iya nih." Ucap Dian sambil menyuapi Selva rujak.
Setelah perjalanan panjang yang kami lewati, tiba-tiba telpon ku berdering.
Kring. . . Kring. . . Kring. . .
(Mas Tio Memanggil)
__ADS_1
"Kenapa ngga di angkat Mba? Berisik tau." Keluh Selva.
"Ngga ah! Males banget angkat nya." Ucap ku sambil menunjukkan siapa yang menelpon ku.
"Lah ngapain lagi dia? Udah matiin aja mba telpon nya." Ucap Selva kesal.
Kring. . . Kring. . . Kring. . .
"Iya ini juga mau mba matiin kok!" Ucap ku, namun tiba-tiba telpon ku berbunyi kembali.
Dengan kesal aku pun mengangkat telpon yang terus saja berdering ini.
[Assalamualaikum.] Ucap ku datar.
[Wa'alaikum salam Dek, kamu di mana? Mas di depan Rumah Mama, tapi kata satpam di sini tidak ada orang.] Ucap Mas Tio yang membuat aku kaget.
Sekitar 2 jam yang lalu, Mas Tio sedang resepsi pernikahan. Namun sekarang sudah ada di Rumah Mama, yang memang jarak nya sangat jauh dari lokasi pernikahan nya. Hal itu membuat aku terkejut dan bingung kenapa Mas Tio ada di Rumah mama.
[Ada perlu apa?] Ucap ku datar.
[Mas mau bicara sama kamu Dek! Mas kangen banget sama kamu, banyak hal yang ingin Mas bahas Dek! Mas mohon izinkan Mas bertemu dengan kamu, kamu di mana sekarang? Mas jemput kamu.] Ucap Mas Tio memohon.
[Saya rasa tidak ada yang perlu di bicarakan lagi! Untuk cara 4 bulanan saya akan saya share lokasi nya, assalamualaikum.] Ucap ku sambil mematikan telepon.
"Ngapain lagi dia Mba?" Tanya Selva kepo dan aku pun menghembuskan nafas agar lebih tenang.
"Kangen katanya! Pengen ketemu." Ucap ku singkat.
__ADS_1
"Wah! Gila! Itu orang bener-bener gila iya? Padahal lagi resepsi loh! Tapi tiba-tiba udah ada di Rumah Mama! Pasti ngamuk itu istri nya, haha. . . Untung kita pulang ke Rumah Utama." Ucap Selva tertawa lepas.
"Sudah, sudah! Sekarang kalian istirahat, nanti sore kita harus ke Hotel. Ayo Mba aku anter ke kamar." Ucap Dian bijaksana dan kami pun menurut untuk kembali ke kamar masing-masing.