Suamiku Bukan Milik Ku

Suamiku Bukan Milik Ku
Bab 26


__ADS_3

Tok. . . Tok. . . Tok. . .


"Mba. . ." Ucap Dian sambil mengetuk pintu kamar mandi.


Tok. . . Tok. . . Tok. . .


"Mba. . . Aku masuk iya!" Ucap Dian yang tidak aku jawab, kemudian Dian membuka pintu kamar mandi.


Ceklek. . .


"Iya ampun Mba." Dian tampak terkejut melihat aku yang duduk di lantai sambil menangis, kemudian langsung menghampiri dan memelukku.


"Kenapa? Kenapa Mas Tio tega sekali sama aku Dian? Apa salah ku? Apa karena aku belum hamil? Aku juga pengen hamil! Tapi sampai sekarang aku belum juga hamil! Aku harus apa? Bagaimana aku menghadapi Mama dan Papa? Mereka pasti kecewa dengan ku!" Ucap ku dengan air mata yang terus mengalir.


"Mba ngga salah apa-apa! Namanya laki-laki, mau istri secantik dan sebaik apa pun. Jika memang laki-laki itu tidak baik, pasti akan selingkuh juga." Ucap Dian sambil menguatkan pelukannya padaku.


"Aku harus gimana sekarang? Aku ngga sanggup kalau harus ketemu Mas Tio lagi! Aku ngga akan kuat!" Ucap ku.


"Kalau Mba ngga mau ketemu Mas Tio, mba bisa tinggal di rumah aku atau Selva. Rumah kami rumah Mba juga kan? Jangan sedih lagi iya! Ada kami di sini yang akan selalu menemani dan menjaga mba." Ucap Dian tulus, sambil mengusap air mata ku.


"Sekarang Mba jangan nangis lagi! Kita hadapi bersama!" Ucap Dian dengan senyuman manis.


"Udah dong Mba, jangan nangis terus! Sayang itu makeup mahalnya luntur semua." Ucap Selva mengejek, ternyata dia sedang berdiri di pintu kamar mandi mendengarkan pembicaraan kami.


"Dian liat deh, muka Mba Nadira udah kaya hantu! Ikh serem!" Ucap Selva pura-pura takut melihat ku dan aku tau itu hanya untuk menghibur ku.


"Enak aja kamu! Mba di samain sama hantu." Ucap ku pura-pura merajuk, kemudian ku lemparkan bekas tisu yang ada pada Selva.


"Ikh Mba jorok banget." Ucap Selva yang menghindar dari bekas tisu yang aku lempar. Kemudian dia menghampiri ku dan ikut memeluk ku, kami bertiga berpelukan.


"Udah dong jangan sedih lagi Mba! Laki-laki kaya gitu ngga pantes di tangisi! Mending kita shopping." Ucap Selva antusias dengan mengedipkan sebelah matanya


"Shopping mulu yang ada di otak kamu! Ngga liat apa mba lagi sedih gini?" Ucap ku pura-pura kesal.

__ADS_1


"Lah yang paling bener itu kita shopping dan ke salon! Kita harus mempercantik diri, kita usir itu pelakor." Ucap Selva berapi-api.


Meski mereka berusaha menghibur ku, tapi aku tau mereka pun sedih melihat kondisi ku saat ini. Namun mereka berusaha untuk tetap tersenyum di depan ku.


"Kamu gila iya? Ngga liat apa kondisi mba yang mengenaskan ini? Masih aja pengen ngajak mba shopping." Ucap ku sambil menghapus air mata, Dian pun memapahku keluar kamar mandi.


Kami pun bertiga berjalan keluar kamar mandi, dengan bersenda gurau dan kemudian duduk di sofa.


"Laper nih! Gimana kalau pesen makanan? Apa kita makan di luar iya? Atau take away?" Tanya Selva sedang berpikir.


"Lebih baik kita take away dan makan di rumah aku aja! Kebetulan aku juga tadi pagi masak, tapi kalau untuk kita bertiga ngga akan cukup." Ucap Sekretaris Dian memberikan ide.


"Kenapa ngga masak yang banyak sekalian? Jadi kan bisa irit. Hehehe. . ." Ucap Selva sambil cengengesan, jiwa gratisan nya meronta-ronta.


"Gimana mba?" Tanya Sekretaris Dian padaku.


"Boleh deh! Kita ke rumah kamu aja, lagian mba pengen istirahat dulu. Iya udah ayo kita berangkat sekarang, keburu malam." Ucap ku mengajak mereka untuk segera pergi dari kantor, rasanya ingin sekali aku berbaring di kasur yang empuk.


Karena aku tidak pulang ke rumah malam ini, pasti Ibu Mertua akan membuat fitnah lainnya untuk ku. Namun untuk saat ini aku tidak akan perduli, yang terpenting aku ingin menenangkan diri terlebih dahulu.


"Tunggu. . ." Ucap Selva sambil menghalangi kami keluar menggunakan tangannya.


"Ada apa lagi sih? Mba udah pengen tiduran!" Ucap ku kesal, karena di halangi Selva.


"Yakin kalian mau keluar ruangan dengan penampilan seperti ini? Kalau aku sih NGGA!" Ucap Selva yang kemudian pergi ke kamar mandi.


Aku dan Dian pun saling pandang dan melihat dari bawah ke atas, ternyata benar. Penampilan kami sangat berantakan, terutama aku. Kami pun tertawa bersama.


"Hahaha. . . Dian liat deh! Aku udah kaya gembel gini. Hahaha. . ." Ucap ku di sela tawa.


"Hahaha. . . Iya mba benar, aku juga berantakan sekali, hahaha. . ." Ucap Sekretaris Dian yang ikut tertawa.


"Woyyy. . Jadi pergi ngga? Cepetan touch up!" Teriak Selva dari kamar mandi.

__ADS_1


"Ayo kita bersiap dulu! Dari pada dengerin Selva teriak lagi." Ajak ku pada Sekretaris Dian dengan menggandeng tangannya.


"Iya bener mba! Nanti kuping kita sakit denger Selva teriak." Ucap Sekretaris Dian cekikikan.


Kami pun pergi ke kamar mandi menyusul Selva, di dalam kamar mandi kami bersenda gurau. Mereka membuat aku tertawa, benar-benar berusaha untuk menghibur ku.


Setelah itu kami keluar dari Perusahaan dan menuju Rumah Dian. Namun sebelum itu, kami berhenti dulu untuk Take Away makanan di Restoran langganan kami.


Tibalah kami di Rumah Dian, sungguh perjalanan yang singkat. Karena sepanjang jalan kami tidak henti nya senda gurau, hingga tak terasa kami pun tiba di Rumah Dian.


Ceklek. . .


Saat kami pertama masuk ke Rumah Dian, tampak gelap semua. Karena kami tiba sudah malam dan di Rumah ini Dian tinggal sendirian. Setelah lampu di nyalakan, kami yang sudah terbiasa di sini pun melakukan hal-hal yang kami inginkan.


Selva langsung menyalakan televisi, aku yang langsung masuk ke dalam kamar tamu dan Dian yang sedang menyiapkan makanan. Kami ini sungguh bukan tamu yang patut di contoh, hehe. . .


Tok. . . Tok. . . Tok. . .


"Mba ayo bangun, kita makan dulu." Ucap Dian di balik pintu.


"Mmm. . . Iya sebentar!" Ucap ku pelan, aku pun masuk ke dalam kamar mandi dan berganti baju terlebih dahulu.


Setelah itu aku keluar dari kamar menuju meja makan dan kulihat Selva dan Dian sudah ada di meja makan.


"Maaf iya lama." Ucap ku tak enak, karena mereka menunggu ku terlebih dahulu.


"Ngga ko mba." Ucap Dian dengan senyum manis.


"Iya mba lama banget deh! Tau aku laper!" Ucap Selva ketus, aku pun melayang kan tatapan tajam padanya.


"Iya makan aja sendiri! Ngga perlu nunggu mba segala kalau laper." Ucap ku tak kalah ketus dan Dian hanya menggeleng kan kepalanya.


"Kalian ini! Udah sekarang kita makan malam dulu, ayo cepetan makan." Ucap Dian kesal dengan tingkah kami, dan kami bagaikan anak ayam yang langsung menurut dan mengangguk bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2