Suamiku Bukan Milik Ku

Suamiku Bukan Milik Ku
Bab 55


__ADS_3

Deg. . .


Mas Tio turun dari motor, dengan Sifa yang di bonceng. Terang-terangan dia membawa wanita lain ke Rumah kami, sakit sekali hati ku. Namun aku mencoba bertahan sedikit lagi, kemudian aku menelpon ketua RW di Perumahan kami.


Tut. . . Tut. . . Tut. . .


"Assalamualaikum Ibu Nadira." Ucap Ketua RW.


"Wa'alaikum salam Pak, mohon maaf mengganggu waktu Bapak." Ucap ku.


"Tidak mengganggu ko Bu, kebetulan saya sedang bersantai dengan istri. Ngomong-ngomong ada apa iya Bu?" Tanya Ketua RW.


"Begini Pak, mohon maaf sebelumnya. Bisa tidak Bapak dan Pak RT mampir ke rumah saya sekarang, ada sesuatu hal yang saya tidak bisa jelaskan di telpon." Ucap ku memohon.


"Baik Bu, saya akan menghubungi dulu Pak RT. Nanti kami langsung ke Rumah ibu, sepertinya sangat penting iya Bu?" Ucap Ketua RW penasaran.


"Iya Pak, ini sangat penting bagi saya. Mohon bantuannya iya Pak dan mohon maaf saya merepotkan Bapak." Ucap ku.


"Baik Bu, tunggu sebentar saya akan segera ke sana." Ucap Ketua RW.


"Terimakasih banyak pak." Ucap ku dan kemudian Ketua RW mematikan telpon.


Dari luar aku mendengar keributan antara Mas Tio dan Ibu mertua ku, aku pun membuka sedikit pintu kamar.


"Ibu ngga mau wanita ini ada di Rumah ini! Bawa pergi dia dari sini Tio!" Ucap Ibu marah.


"Udah lah Bu, biarin Sifa di sini dulu. Kasian dia lagi hamil, sendirian di kontrakan. Kalau di sini kan ada Ibu yang bisa bantuin jagain Sifa, dia lagi hamil anak aku Bu." Ucap Mas Tio memohon.


"Mau di taruh di mana muka Ibu Tio? Kamu seenaknya bawa wanita lain ke Rumah ini, apalagi dia hamil! Malu Tio! Malu! Apa kamu ngga mikirin perasaan istri kamu? Gimana kalau dia balik lagi ke sini dan liat kamu bawa wanita lain Tio!" Ucap Ibu sambil menangis.


"Bu! Nadira sudah menggugat cerai Tio! Dia tidak mungkin balik lagi ke sini Bu." Ucap Mas Tio.


"Ngga Tio! Ibu ngga mau kehilangan Nadira! Dia menantu Ibu satu-satunya! Usir wanita ini! Pergi kamu dari sini, jangan ganggu Rumah Tangga anak ku." Ucap Ibu sambil menarik tangan Sifa dan Mas Tio berusaha menahannya, hingga terjadi keributan di depan Rumah kami.


'Kamu benar-benar berubah Mas! Bahkan kamu berani meninggikan suara kepada Ibu mu.' Ucap ku dalam hati, yang terus melihat semua yang terjadi sambil merekam semuanya di handphone ku.


"Berhenti Bu!" Bentak Mas Tio dan mendorong Ibu, refleks aku keluar dan menolong Ibu.

__ADS_1


"IBUUU." Teriak ku dan aku pun membantu Ibu berdiri.


"Ibu ngga apa-apa?" Tanya ku dan Ibu hanya terisak di pelukan ku.


"De-k. ." Ucap Mas Tio terkejut.


"Ka-mu di si-ni?" Ucap Mas Tio terbata-bata.


"Assalamualaikum." Ucap Pak RW dan Pak RT datang, aku pun bernapas lega. Ternyata beberapa tetangga ku pun ikut masuk, setelah mendengar keributan yang terjadi.


"Wa'alaikum salam." Jawab ku, sedangkan Mas Tio dan Sifa semakin terkejut kedatangan banyak orang ke Rumah dan mereka hanya menundukkan kepala.


"Ini ada apa Bu Nadira? Kenapa Bu Yeti menangis seperti itu?" Tanya Pak RW.


"Tidak ada apa-apa Pak! Ini hanya salah paham." Ucap Mas Tio cepat.


"Apakah benar begitu Bu?" Tanya Pak RW tidak yakin.


"Benar Pak! Lebih baik Bapak-bapak sekalian pulang saja, biar kami bisa menyelesaikan salah paham ini." Usir Mas Tio.


"Tadi saya liat Pak Tio mendorong Ibu nya Pak sampai terjatuh, saya lihat sendiri Pak! Beneran deh! Kasian itu Ibu nya." Ucap tetangga ku.


"Iya Pak! Tadi mereka bertengkar di luar, jadi kita denger dan liat langsung Pak." Ucap Ibu-ibu yang lain nya.


"Bagaimana kalau kita duduk dan bicarakan semuanya baik-baik, agar menemukan titik terang nya." Saran Pak RW.


"Itu lebih baik Pak, mari silahkan masuk Pak." Ucap ku mempersilahkan masuk dan Mas Tio tampak memelototi ku, namun aku tidak perduli.


"Silahkan duduk Pak, sebentar saya siapkan minum dulu Pak." Ucap ku.


"Tidak usah repot-repot Bu." Ucap Pak RW.


"Tidak repot ko Pak, sebentar iya Pak. Saya titip mertua saya dulu iya Pak." Ucap ku.


"Iya tenang saja Bu, kamu jagain." Ucap Pak RT dan kemudian aku pun ke dalam untuk membuatkan minuman.


'Untung tadi aku telpon Pak RW.' Ucap ku dalam hati sambil menghela nafas.

__ADS_1


Saat aku kembali ke Ruang Tamu, semua tampak sepi tak ada yang memulai pembicaraan.


"Mari silahkan Pak, di minum dulu. Ini ada sedikit cemilan, silahkan di cicipi Pak. Ayo Bu, minum dulu." Ucap ku sambil membantu Ibu minum.


"Terimakasih Bu." Ucap Pak RW dan Pak RT, sambil meminum kopi yang di sediakan.


"Jadi ini ada apa sebenarnya? Sampai Pak Tio mendorong Ibu nya dan terjadi keributan?" Tanya Pak RW.


"I-ni ha-nya sa-lah pa-ham Pa-k." Ucap Mas Tio terbata-bata.


"Dari tadi Pak Tio mengatakan salah paham, boleh di jelaskan kesalahan pahaman yang seperti apa yang terjadi saat ini? Barangkali kami bisa membantu dan mencari jalan keluarnya." Ucap Pak RW.


"Tidak perlu Pak, ini masalah keluarga kami! Bapak-bapak sekalian tidak perlu ikut campur." Ucap Mas Tio kesal.


"Bapak mengatakan ini masalah keluarga, kami memang tidak ingin ikut campur. Namun Bapak berada di lingkungan ini dan kami bertanggung jawab atas keselamatan dan kenyamanan warga kami, dengan apa yang Bapak lakukan tadi. Membuat kami perlu lebih waspada, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan." Ucap Pak RW.


"Sudah Pak! Tidak perlu di bahas lagi, lebih baik Bapak-bapak pulang saja! Biar ini jadi urusan kami." Usir Mas Tio.


"Baik kami akan pergi, jika memang Bapak tidak ingin kami membantu. Tolong jangan membuat keributan di lingkungan ini, dan jangan berbuat kekerasan apalagi kepada Ibu anda sendiri." Ucap Pak RW.


"Iya! Sudah sana kalian pergi!" Usir Mas Tio dengan tidak sopan nya.


"MAS! Apa-apaan kamu! Ngga sopan banget jadi orang!" Ucap ku kesal.


"Dek, ini masalah keluarga kita. Cukup kita aja yang tau, ngga perlu orang lain ikut campur." Ucap Mas Tio.


"Kalau begitu usir juga wanita itu! Dia juga orang lain dan tidak perlu ikut campur." Ucap Ibu yang akhirnya bersuara kembali.


"BU!" Bentak Mas Tio.


"Apa? Kamu berani membentak Ibu! Demi wanita itu! Bahkan kamu dengan tega mengkhianati istri kamu sendiri, demi wanita itu!" Ucap Ibu dengan berlinangan air mata.


"CUKUP! Ibu ngga usah banyak bicara! Intinya sekarang Sifa akan tinggal di sini bersama kita, jadi Ibu ngga perlu banyak bicara lagi." Ucap Mas Tio marah.


"Gila kamu Mas! Kamu berani bicara begitu? Apa kamu ngga sadar? Ada aku di sini! Aku masih istri sah kamu! Dan kamu mau membawa wanita lain tinggal di Rumah kita? Jangan harap aku akan mengizinkan nya Mas!" Ucap ku.


"Mas minta maaf Dek, tapi kondisi Sifa saat ini tidak memungkinkan dia tinggal sendirian. Lagi pula kamu juga kan tinggal di Rumah Orang Tua kamu sekarang, Mas ngga tega liat Sifa di kontrakan sendirian." Ucap Mas Tio.

__ADS_1


"Bener-bener kamu iya Mas! Jadi kamu seneng aku ngga balik lagi ke sini? Apa kamu lupa? Kalau Rumah ini atas nama aku! Jadi aku yang berhak nentuin siapa yang bisa tinggal atau pun pergi dari Rumah ini! Dan aku minta kamu bawa wanita ini pergi dari Rumah ini!" Ucap ku.


"Enak aja kamu! Meski Rumah ini atas nama kamu, tapi Mas yang bayar nya! Jadi Mas yang lebih berhak atas Rumah ini dan Sifa akan tetap tinggal di sini, dengan atau tanpa izin kamu." Ucap Mas Tio marah.


__ADS_2