
Ceklek. . .
Pintu Ruang Meeting pun di buka oleh Dian, ku tarik nafas dalam dan ku hembuskan perlahan berusaha menenangkan diri sendiri. Meski pun aku sendiri merasa sedikit aneh, tiba-tiba aku merasa seperti ini. Setelah berusaha menenangkan diri, aku pun melanjutkan langkah ku dan menghampiri mereka.
"Selamat siang Pak Kevin, perkenalkan saya Nadira Hutama Direktur Utama PT. NH grup." Ucap ku sambil mengulurkan tangan dan kami pun berjabat tangan.
"Selamat siang juga, bisa kita mulai meetingnya?" Tanya nya dan kami pun mulai membahas mengenai proyek yang akan kami jalankan.
Tak terasa 1 jam kami membahas semuanya dan tidak ada masalah apa pun yang terjadi, cukup membuat ku merasa lega.
"Terimakasih banyak atas waktunya Pak Kevin, semoga kerja sama ini dapat berjalan dengan lancar dan tidak ada kendala yang berarti." Ucap ku dan beliau pun hanya menganggukkan kepalanya.
"Apa bisa kita berbincang santai terlebih dahulu? Atau kita ngopi dulu?" Ajak Pak Kevin kepada ku.
"Mohon maaf Pak Kevin, untuk saat ini saya tidak bisa. Karena anak saya sudah menunggu, lain waktu saya yang akan mengundang Pak Kevin untuk makan bersama. Sebagai permintaan maaf saya tidak bisa memenuhi undangan Pak Kevin saat ini, bagaimana?" Tanya ku berusaha menolak secara halus.
"Atur saja jadwal nya dengan Asisten saya." Ucap Pak Kevin singkat.
"Baik kalau begitu, kami akan menghubungi Asisten Bapak nantinya." Ucap ku kemudian Pak Kevin pun berdiri dan bersiap untuk kembali ke Perusahaan nya.
"Senang bekerjasama dengan anda." Ucap nya dan kami pun berjabat tangan.
Kami mengantar Pak Kevin sampai ke depan Lobby, di sepanjang langkah kami saling diam hingga sebuah suara mengejutkan kami.
__ADS_1
"Mamaaaa. . ." Teriak seorang anak yang sangat aku kenali datang dari arah luar dengan Vivi yang mengikuti nya di belakang membawa keresek berisikan makanan ringan.
"Abang dari mana?" Tanya ku begitu Arjun yang datang memeluk ku, kemudian aku pun mensejajarkan diri dengannya.
"Abang bosan menunggu Mama, jadi Abang minta di antar membeli cemilan di mini market di depan Ma." Ucap nya sambil tersenyum.
"Maaf iya Mama lama, habis ini kita pulang iya. Mama antar tamu Mama dulu ke depan iya sayang." Ucap ku sambil mengelus rambutnya dengan sayang.
"Mohon maaf Pak Kevin, ini anak saya. Dia ikut ke kantor, karena saya habis menjemputnya di sekolah." Ucap ku sambil mengenalkan anak ku.
"Apa dia sakit? Sehingga pulang lebih awal? Jam pulang sekolah nya jam 14.30, sakit apa dia? Sudah di bawa ke Dokter?" Tanya nya khawatir, membuat ku mengernyitkan kening bingung dengan ucapannya.
Apa beliau tidak melihat Arjun sangat sehat, di kira sakit dan tatapan matanya itu menyiratkan kerinduan. Belum lagi aku melihat Asisten nya menepuk kening nya sendiri setelah atasannya mengatakan hal itu, tentu membuat aku semakin bingung.
"Acara apa? Kenapa mereka tidak memberitahu saya? Benar-benar mereka ini! Bagaimana jika tidak ada yang menjemputnya? Apa mereka bisa bertanggung jawab jika terjadi apa-apa dengan Arjun? Dika beri mereka pelajaran!" Perintahnya dan kami semua di buat melongo.
Pak Kevin yang sedari tadi irit berbicara, bisa berbicara panjang lebar dan yang membuat aku lebih heran adalah kata-kata seolah dia berhak tau mengenai sekolah Arjun.
"Bagaimana bapak bisa tau nama anak saya Arjun? Dan kenapa Bapak berkata seperti itu? Seakan khawatir sekali dengan Arjun?" Tanya ku heran dan Pak Kevin pun tiba-tiba diam.
"Pak Kevin bagaimana jika kita ajak Ibu Nadira minum teh di cafe sebelah? Ada ice cream yang terkenal di situ, apa Ade kecil mau makan ice cream?" Tanya Dika Asisten Pak Kevin dan Arjun pun melirik ke arah ku meminta persetujuan, aku pun melihat Arjun yang berbinar hingga aku menganggukkan kepala ku.
"Mau! Tapi sama Mama." Ucap nya singkat.
__ADS_1
"Tentu dong! Mama Arjun juga di ajak, bagaimana Bu Nadira? Bisa meluangkan sedikit waktunya? Tampaknya Arjun sangat ingin memakan ice cream, cuman sebentar saya Bu. Karena kami pun masih ada meeting 1 jam lagi, tidak akan lama Bu makan Ice cream doang." Ucap Dika Asisten Pak Kevin berusaha membujuk aku yang diam saja.
"Baik lah." Ucap ku singkat, kami semua pergi untuk makan ice cream termasuk Dian dan Selva.
Kami mengambil 2 meja terpisah, sepertinya ada yang ingin di sampaikan oleh Pak Kevin dan sambil menunggu pesanan kami datang aku pun memulai berbicara.
"Jika maksud anda ingin mengambil Arjun dari saya, tolong batalkan niat anda itu!" Ucap ku tegas dan membuat mereka terkejut, namun seketika Pak Kevin pun tersenyum kecil.
"Maaf kami tidak mengerti maksud anda apa?" Tanya Pak Kevin berpura-pura tidak mengerti dan aku pun tersenyum sinis.
"Ada pikir saya tidak tau, jika anda yang mengirim orang untuk memata-matai Arjun di sekolah bahkan tempat les dia?" Ucap ku.
"Kenapa juga saya harus mengirim orang untuk memata-matai anak anda? Apa buktinya? Saya bisa dengan mudah membawa hal ini ke jalur hukum, karena anda sudah memfitnah saya." Ucap nya santai namun menusuk.
"Silahkan di nikmati." Ucap pelayan yang menyajikan pesanan kami, dan kami pun seketika terdiam.
"Terimakasih Mba." Ucap ku ramah.
"Sama-sama, saya permisi dulu Bu." Ucap pelayan itu setelah menyajikan makanan.
"Anda kira saya bodoh? Tidak mencari tau siapa yang mengirim orang untuk memata-matai anak saya? Dan ekspresi yang anda tunjukkan tadi? Tentu membuat saya semakin yakin dengan analisa saya itu! Apalagi wajah kalian benar-benar mirip, bagi pinang di belah 2. Benar bukan Pak Kevin, bahwa anda sebenarnya Ayah kandung Arjun?" Ucap ku kemudian menatap tajam Pak Kevin.
"Meski anda ayah kandung Arjun, tidak semudah itu anda bisa membawanya. Walau bagaimanapun saat ini Arjun sudah sah di mata hukum sebagai anak saya." Ucap ku
__ADS_1