
"Sayang. . . Kamu harus kuat, kamu pasti selamat iya Nak!" Ucap ku, sambil terus menggenggam tangan nya.
"Mohon tunggu di luar." Ucap Suster yang membawa Arjun ke dalam UGD.
"A-r-jun." Ucap ku yang masih syok, kenapa tidak ada yang menolong nya dan dia di biarkan tergeletak di pinggir jalan.
Tiba-tiba ku rasakan tubuhku di rengkuh dan aku pun terisak menangis di pelukan seseorang, aku menangis pilu melihat anak sekecil itu terluka.
Hiks. . . Hiks. . . Hiks. . .
"A-r-jun." Ucap ku di sela tangis.
Hiks. . . Hiks. . . Hiks. . .
"Ma-af." Ucap ku kemudian melepaskan diri setelah sadar, yang memeluk ku bukan Dian.
"Tidak masalah, duduk lah." Ucap nya, membantu ku duduk.
"Terimakasih sudah mengantar kami." Ucap ku.
"Sama-sama." Ucap nya singkat.
"Mba." Panggil Dian, menghampiri kami.
"Di minum dulu Mba, ini Pak untuk Bapak." Ucap Dian memberikan minuman kepada kami dan aku pun mengambilnya.
"Tidak perlu, kalau begitu saya permisi." Ucap nya datar.
"Sekali lagi terimakasih banyak, maaf merepotkan anda." Ucap ku dan dia hanya menganggukkan kepalanya.
"Mba baik-baik aja?" Tanya Dian hati-hati.
__ADS_1
"Dian kenapa mereka tega membiarkan anak sekecil itu di pinggir jalan? Apa karena dia anak tidak mampu? Sehingga tidak ada yang menolongnya? Kasian banget dia." Ucap ku tak tega.
"Iya Mba, miris banget iya! Padahal ini menyangkut nyawa, apa susahnya hanya menelpon ambulan. Benar-benar tidak punya hati nurani mereka, kasihan banget iya mba." Ucap Dian.
Ceklek. . .
"Keluarga pasien Arjun." Ucap Suster, saat keluar dari Ruang UGD.
"Saya, sus. Bagaimana keadaan nya?" Tanya ku khawatir.
"Saat ini Pasien sudah di tangani dan sudah berada di Ruang rawat nya, namun begini Bu! Dokter Candra ingin bicara dengan keluarga pasien. Mari saya antar." Ucap Suster dan membawa kami ke Ruangan Dr. Candra.
Tok. . . Tok. . . Tok. . .
Ceklek. . .
"Permisi Dok! Saya membawa keluarga Pasien Arjun." Ucap Suster.
"Perkenalkan saya Dokter Candra yang menangani Putra Ibu, sebelumnya boleh saya bertanya. Apakah Putra Ibu sebelumnya pernah mengalami kecelakaan atau benturan di kepalanya?" Tanya Dr. Candra membuat aku dan Dian saling berpandangan.
"Maaf Dok, saya tidak tau. Karena saya bukan Ibu nya." Ucap ku yang membuat Dokter dan Suster terkejut dan mengerutkan keningnya bingung.
"Lalu di mana keluarganya Bu? Karena saya harus membicarakan ini dengan keluarga pasien." Ucap Dr. Candra.
"Kami tidak tahu Dok, karena dari awal saya bertemu dengan Arjun dia sedang berjualan makanan ringan. Sempat beberapa kali bertemu dan mengobrol sebentar, namun dia mengatakan tinggal sendirian. Dan saya tidak tau pasti di mana keluarganya." Ucap ku dan Dokter hanya menganggukkan kepalanya.
"Jadi saat ini Ibu yang akan menjadi wali pasien?" Tanya Dr. Candra memastikan.
"Iya Dok! Saya yang akan menjadi walinya dan membiayai semua perawatannya, jadi apa yang terjadi dengan Arjun?" Tanya ku lagi.
"Luka di tubuh pasien sudah kami tangani, kami juga telah melakukan berbagai pemeriksaan terhadap tubuh pasien dan dari hasil pemeriksaan kami. Di temukan gumpalan darah di otak nya, namun gumpalan itu terjadi bukan karena kecelakaan yang di alaminya tadi.
__ADS_1
. . . Akan tetapi gumpalan darah itu di sebabkan karena benturan keras atau kecelakaan yang terjadi sebelumnya, maka dari itu tadi saya bertanya terlebih dahulu. Jika di biarkan, akan berbahaya untuk pasien kedepannya. Jadi kami ingin meminta persetujuan keluarga untuk melakukan tindakan operasi, untuk mengangkat gumpalan darah itu." Papar Dr. Candra.
"Ya Allah kasian banget Arjun!" Ucap ku terkejut dengan penjelasan Dr. Candra.
"Dok! Tolong lakukan yang terbaik untuk Arjun! Berapa pun biaya nya saya akan tanggung! Tolong selamatkan Arjun Dok!" Ucap ku memohon.
"Baik Bu, Suster Ela! Tolong bantu Ibu ini menandatangi surat persetujuannya." Ucap Dr. Candra kepada Suster.
"Baik Dok, mari Bu! Ikut dengan saya, kami permisi dulu Dok." Ucap Suster Lea dan kami pun mengikutinya, setelah persyaratan administrasi selesai.
"Sus." Panggil ku kepada Suster yang sedang membereskannya bekas yang aku tanda tangani.
"Iya Bu, ada yang bisa saya bantu lagi?" Tanya Suster Ela ramah.
"Boleh tidak saya melihat keadaan Arjun terlebih dahulu sebelum dia di operasi?" Tanya ku penuh harap.
"Boleh Bu, sebentar iya. Saya serahkan berkas ini dulu, setelah itu saya akan mengantarkan Ibu ke Ruangan Arjun." Ucap Suster Ela.
"Terimakasih banyak iya Sus." Ucap ku, kemudian suster pun melakukan tugas nya dan kami di ajak menuju Ruang Arjun berada.
"Silahkan Bu, tapi mohon maaf waktunya cuman 5 menit iya Bu." Ucap Suster Ela.
"Baik Sus." Ucap ku, tanpa terasa air mata ku menetes melihat anak sekecil itu terbaring dengan perban dan berbagai alat penunjang kehidupan nya.
"Hallo sayang, ini Ibu. Masih ingat ngga sama Ibu? Kamu anak hebat, anak kuat ayo berjuang sedikit lagi. Kamu harus bertahan iya Nak! Ibu menunggu kamu, jadi kamu harus kuat dan kembali sehat. Ibu percaya kamu pasti bisa, kamu anak terhebat yang pernah Ibu jumpai." Ucap ku menyemangati, sambil menggenggam pelan tangannya dan mencium keningnya.
"Ingat iya sayang, kamu harus kuat. Ibu tunggu di luar iya Nak!" Ucap ku dan melambaikan tangan meski dia tidak melihatnya.
Operasi pun berjalan dengan lancar, kini tinggal menunggu Arjun sadar dan sudah berada di Ruang Rawatnya. Dengan sabar aku menunggu Arjun di sampingnya, dengan mengelus lembut rambutnya dan do'a yang tak henti ku bacakan.
Sungguh tak tega melihat anak sekecil ini terbaring lemah di ranjang dengan beberapa alat penunjang kehidupannya, malang sekali nasib anak ini. Aku hanya berharap semoga kelak dia bisa menjadi anak yang kuat dan hebat, agar dia tidak di pandang remeh oleh orang lain.
__ADS_1