
Keesokan harinya. . .
Kami sekeluarga sudah bersiap untuk pengajian 4 bulanan ku, yang di adakan di Hotel milik Bang Naufal. Karena keluarga besar dan rekan kerja aku di undang.
"Iya ampun anak Mama cantik sekali." Ucap Mama sambil mengelus pipi ku.
"Iya dong, siapa dulu Mama nya." Ucap ku.
"Kamu ini bisa aja, kamu sudah siap kan?" Tanya Mama.
"Udah Ma! Ayo kita ke depan." Ucap ku, sambil menggandeng Mama turun ke tempat acara berlangsung.
Rangkaian acara demi acara di laksanakan dengan khidmat, bercampur haru. Lantunan ayat Al-Qur'an dan do'a terus menggema, membuat hati ini terus bergetar. Mensyukuri segala nikmat-Nya, berharap semua Do'a yang kami panjatkan akan terkabul demi buah hati ku.
Tak terasa acara pun selesai dan kami semua bersuka cita, karena acara berjalan dengan lancar tanpa hambatan apa pun. Namun sesuatu hal yang tak di inginkan terjadi, saat tamu satu persatu pulang.
BRAK. . .
Suara pintu di buka dengan kasar, yang membuat kami terkejut dan aku lihat seorang laki-laki berlari ke arah panggung. Beruntung acara telah selesai dan hanya menyisakan beberapa tamu dan keluarga saja.
Hosh. . . Hosh. . . Hosh. . .
Suara terengah-engah terdengar sebelum laki-laki itu berbicara, bertanda dia berlari cukup jauh.
"Dek. . . Ma-af Mas ter-lambat." Ucap nya tersendat-sendat.
"Acara sudah selesai, silahkan keluar." Ucap Bang Naufal dingin.
"A-pa?" Ucap nya terkejut.
"Ngga. . . ngga mungkin!" Ucap nya sambil menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Acara ini ngga boleh selesai dulu! Mas ayah dari anak yang kamu kandung! Acara ini harusnya di mulai saat Mas datang! Kenapa kamu memulai acara tanpa Mas?" Ucap nya marah, dan membuat kami semua memandang tajam kepadanya.
"Heh! Lo pikir Lo siapa? Mentang-mentang Lo ayah dari anak yang di kandung adek gue! Terus Lo belaga seenak nya? Makanya otak itu di pake! Jangan cuman isinya selang*****n doang!" Ucap marah Kak Niko.
"Apa ngga bisa cuman nunggu sebentar? Tio pasti datang Kak! Tapi kalian memulai semuanya tanpa persetujuan Tio!" Ucap nya marah.
"Apa pentingnya persetujuan Lo? Emang Lo yang bayarin ini Hotel? Yang sediain makanan? Yang sediain bingkisan? Atau Lo yang bayarin EO? Ngga kan? Mana ada Lo ngeluarin duit buat calon keponakan gue! Mikir dong Lo! Apa yang udah Lo perbuat selama ini! Lo cuman bisa nyakitin Adek gue! Lebih baik Lo pergi dari sini! Inget 1 hal! Kalian sudah bercerai! Jangan ganggu Adek gue lagi! Ngerti ngga Lo!" Ucap marah Kak Niko.
"Ngga! Perceraian itu tidak sah! Saya akan menuntut kalian semua! Yang sudah membohongi saya! Kalian tidak mengatakan kalau Nadira sedang hamil! Jika saya tau Nadira hamil, saya tidak akan menceraikan nya. Semua ini salah kalian! Kalian akan saya tuntut!" Ucap marah Mas Tio sambil mengamuk dan di pegang oleh petugas keamanan.
"Bawa dia dari sini! Jangan biarkan dia mengganggu kami!" Ucap Bang Naufal.
"Baik Pa!" Ucap petugas keamanan.
"Lepas! Lepas! Nadira sayang, DEK! AYO IKUT MAS! KITA MULAI LAGI DARI AWAL!" Teriak Mas Tio, sambil di pegang oleh anggota keamanan menjauh dari kami.
"Tunggu." Ucap ku, dan menghentikan mereka membawa Mas Tio.
"Bun, bawa Mama dan Ade ke kamar." Perintah Bang Naufal.
"Sebentar Bang, Ade hanya ingin mengatakan sesuatu. Ngga akan lama ko! Tenang aja iya." Ucap ku sambil tersenyum, menenangkan mereka.
"Biarkan." Ucap Papa.
"Tapi Pa." Ucap Kak Niko terhenti saat papa mengangkat tangan.
Aku pun berjalan, di dampingi Bang Naufal menghampiri Mas Tio yang apit oleh petugas keamanan.
"Dek! Kamu mau kan kembali sama Mas, ayo Dek ikut Mas! Kita mulai semua dari awal!" Ucap Mas Tio memelas.
"Iya Mas! Kita akan memulai semuanya dari awal." Ucap ku ambigu, yang membuat Mas Tio tersenyum lebar dan keluarga ku menatap ku dengan terkejut.
__ADS_1
"Kalian dengar kan! Cepat lepaskan saya! Atau kalian akan di pecat." Ucap Mas Tio memberontak.
"Dek! Perintahkan mereka melepaskan Mas! Ayo Dek! Kita cepat pergi dari sini!" Ucap Mas Tio dan aku pun menggelengkan kepala.
"Ngga Mas! Aku ngga akan ke mana-mana, aku akan di sini bersama keluarga ku. Silahkan Mas keluar dari sini baik-baik, jangan sampai mereka berbuat lebih kejam kepada Mas." Ucap ku.
"Apa-apaan kamu Dek! Tadi kamu bilang kita akan memulai semuanya dari awal! Tapi kamu ngga mau ikut dengan Mas! Apa mau kamu sebenarnya!" Bentak Mas Tio.
"Tutup mulut mu! Jangan berani membentak Nadira!" Ucap Bang Naufal marah.
Aku pun memegang tangan Bang Naufal, berusaha menenangkannya dan menggelengkan kepala ku.
"Kita memang akan memulai semuanya dari awal! Kamu dan keluarga baru mu, begitu aku dengan keluarga ku. Mari kita mulai semuanya dari awal, kita buka lembaran baru untuk hidup baru yang akan kita jalani. . ."
". . .Lupakan masa lalu, hadapi masa depan dengan lebih baik lagi Mas. Aku tau kamu orang yang baik, kembali lah menjadi dirimu yang dulu. Demi anak yang aku kandung, begitu pun demi istri yang akan mendampingi mu seumur hidup mu. . ."
". . .Jangan lagi kita saling mengusik satu sama lainnya, kita coba menerima semuanya. Aku tidak akan pernah menghalangi jika Mas ingin bertemu dengan anak kita kelak, tapi bawalah istri mu. Jangan biarkan ke salah pahaman akan terus berlanjut, hiduplah dengan baik Mas." Ucap ku tulus dan aku pun berbalik badan untuk meninggalkan tempat ini, sedangkan Mas Tio termenung mendengarkan ucapan ku.
"Apa kamu bisa menjamin, jika Mas kelak bisa bertemu dengan anak kita? Apa keluarga mu tidak akan menghalangi Mas?" Tanya Mas Tio, membuat aku menghentikan langkah ku dan berbalik.
"Tentu! Aku bisa menjamin, aku maupun keluarga ku tidak akan menghalangi Mas Tio bertemu anak kita nantinya. Namun, jika Mas melakukan sesuatu hal yang tidak menyenangkan dan membahayakan anak ku. Mohon maaf tidak akan ada 1 pintu pun yang akan terbuka menyambut Mas Tio." Ucap ku, kemudian aku benar-benar meninggalkan tempat acara dan masuk ke dalam kamar yang memang kami pesan.
"Kamu baik-baik aja sayang?" Tanya Mama dan aku pun tersenyum manis.
"Tentu aku baik-baik saja Ma, apalagi tadi acaranya berjalan lancar. Terimakasih banyak iya Ma, Pa, Ka, kalian sudah membuat acara yang meriah untuk kami." Ucap ku terharu.
"Kamu itu anak kesayangan kami semua, tentu segalanya harus yang terbaik. Iya ngga Pa?" Ucap Mama dan kami pun tertawa.
"Sudah ah! Ade mau istirahat, besok kan kita healing. Sudah gih! Sana pada istirahat, pasti pada capek kan? Ade juga mau istirahat dulu, ngantuk banget." Ucap ku sambil menguap, karena memang tubuh ku mudah lelah.
"Ayo Ma! Kita kembali ke kamar, biarkan Ade istirahat." Ajak Papa kepada Mama.
__ADS_1
"Selamat istirahat sayang." Ucap Mama, kemudian mencium kening ku dan meninggalkan kamar ku.