
Siang ini aku menjemput Abang Arjun dengan membawa Baby El, tentunya aku menggunakan supir. Karena aku masih belum berani membawa mobil sendiri, dengan Baby El di dalamnya.
Aku pun berdiri di dekat mobil, menunggu pintu gerbang sekolah di buka. Karena memang aku selalu datang 15 menit sebelum jam pulang sekolah Abang.
Tak lama pintu gerbang pun di buka dan anak-anak mulai berjalan keluar dengan rapi menuju mobil jemputan atau orang tuanya masing-masing, hingga akhirnya pangeran tampan ku pun datang menghampiri ku dengan senyum yang menghias wajahnya.
"Assalamualaikum Ma." Ucap Abang sambil mencium tangan ku.
"Wa'alaikum salam anaknya Mama, ayo masuk Nak!" Ucap ku, sambil mengajaknya ke dalam mobil.
"Hallo Baby." Ucap Arjun menyapa Baby El, kemudian kami pun pulang ke Rumah.
Sepanjang jalan seperti biasanya, Abang bercerita kegiatan apa yang di lakukan nya di sekolah dan itu membuat Baby El tertawa. Mungkin di mengira Abang nya sedang bercanda dengan nya, dan perjalanan kami pun sangat menyenangkan.
Sore pun tiba, kami pun duduk bersantai bersama di temani beberapa cemilan dan teh hangat.
"Ma. . ." Panggil Arjun kepada ku.
"Ada apa Bang?" Ucap ku.
"Abang mau tanya sesuatu, tapi Mama jangan sedih." Ucap nya dan membuat aku mengernyit kan kening heran.
"Memangnya Abang mau tanya apa? Coba bilang ke Mama." Ucap ku penasaran.
"Tapi Mama jangan sedih?" Ucap nya lagi.
"Iya Mama janji ngga akan sedih, memang Abang mau tanya apa sih?" Tanya ku lagi.
__ADS_1
"Abang mau tanya, laki-laki yang waktu itu ngajak kita makan ice cream itu ayah kandung Abang bukan?" Tanya nya sambil menunduk.
Deg.
"Kenapa Abang bisa berpikir begitu?" Tanya ku deg-degan.
"Sebenarnya Abang cuman asal menebak aja Ma, tapi muka laki-laki itu sama Abang mirip banget dan Abang serasa dekat sekali dengan orang itu. Abang tiba-tiba ngerasain rindu, tapi Abang bingung gimana ngejelasinnya. Abang pikir orang itu ayah kandung Abang, tapi kalau salah juga ngga apa-apa Ma." Ucap nya sambil menunduk, ku angkat wajahnya perlahan dan melihat matanya berkaca-kaca.
"Abang rindu keluarga Abang?" Tanya ku menahan tangis dan dia pun menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?" Tanya ku.
"Mereka aja tidak mencari Abang selama bertahun-tahun ini, sepertinya mereka juga tidak peduli dengan Abang." Ucap nya dengan air mata yang mengalir dan aku pun menghapusnya.
"Abang tidak boleh bicara begitu, mungkin ada sesuatu hal yang membuat mereka tidak bisa mencari dan menemui Abang. Atau mungkin mereka itu sebenarnya sedang menyelamatkan Abang dari orang-orang jahat." Ucap ku.
"Tapi apa tidak bisa gitu, Abang ketemu dengan mereka 1 kali aja Ma?" Tanya Arjun.
"Abang cuman mau tanya, kemana aja mereka selama ini? Apa tidak ada rasa sayang untuk Abang? Apa Abang memang anak yang tidak di inginkan?" Ucapnya yang kemudian aku hentikan dan memeluknya.
"Abang ngga boleh bicara begitu, inget iya! Jangan sekali-kali lagi Abang bicara begitu! Setiap anak yang lahir di dunia ini adalah anugrah terindah yang Allah berikan, tidak boleh menuduh hal yang macam-macam kepada keluarga Abang.
. . .Jika memang nanti Abang di pertemukan dengan mereka, Abang harus tanya baik-baik. Tidak boleh Abang menuduh-nuduh begitu, siapa tau mereka memiliki alasan yang kuat kenapa tidak menemui Abang hingga kini." Ucap ku memberikan nasehat kepada Arjun.
"Maafin Abang Ma." Ucap nya merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, wajar kalau Abang berpikir begitu. Karena Abang yang mengalami dan merasakannya, sedangkan Mama belum lama hadir di kehidupan Abang. Tapi harus Abang tau, semua orang tua pasti sangat menyayangi anak nya.
__ADS_1
. . . Tidak ada orang tua yang sanggup kehilangan anaknya, pasti ada sebab nya mengapa mereka tidak mencari Abang. Atau bisa jadi mereka sebenarnya mencari Abang selama ini, tapi kan dulu Abang hilang saat masih kecil. Jadi akan sulit mencari Abang, apalagi sekarang Abang sudah mulai tumbuh besar." Ucap ku menasihati Abang.
"Abang tidak boleh membenci mereka iya! Ingat walau bagaimanapun mereka itu orang tua Abang, sayangi mereka setulus hati Abang." Ucap ku sambil mengelus kepala Abang dengan sayang.
"Iya Ma, Abang akan ingat perkataan Mama baik-baik." Ucap Abang patuh.
"Good! Itu baru anak Mama." Ucap ku memberikan jempol untuk Arjun dan langsung memelukku.
"Abang! Mama mau tanya sesuatu ke Abang boleh?" Tanya ku.
"Boleh Ma, mau tanya apa memangnya?" Tanya Arjun.
"Seandainya nanti keluarga kandung Abang datang nemuin Abang, apa Abang akan ikut dengan mereka?" Tanya ku ragu.
"Pasti Ma." Ucap nya tegas, membuat aku seakan berhenti bernafas.
Deg.
"Pasti suatu saat Abang akan ikut dengan mereka, tapi tidak untuk tinggal dengan mereka." Ucap Arjun tegas.
"Ja-di kamu akan tetap tinggal dengan Mama?" Tanya ku dengan air mata yang sudah mengalir.
"Abang kan sudah bilang, Abang akan pergi jika Mama menyuruh Abang pergi. Tapi kalau tidak Abang akan tetap di sisi Mama menjaga dan melindungi Mama serta Baby El, itu janji Abang." Ucap Arjun, membuat ku semakin terharu.
"Terimakasih Abang, Mama sayang Abang dan Baby El. Kalian berdua adalah buah hati Mama, sumber kebahagiaan Mama." Ucap ku, kemudian memeluknya.
"Mama jangan nangis, Abang ngga mau liat Mama nangis. Mama harus selalu tersenyum untuk Abang dan Baby El." Ucap nya sambil menghapus air mata ku.
__ADS_1
"Ini Mama senyum kok! Oh iya! Baby kok ngga ada suaranya iya?" Tanya ku dan kami pun segera mengalihkan pandangan ke arah karpet berbulu tempat Baby El bermain, ternyata bayi gembul itu sudah tidur nyenyak dan tidak terganggu dengan suara kami berdua.
"Liat Ma, bayi gembul nya sudah tidur. Lucu banget iya Ma Baby El, pipi nya semakin hari semakin besar saja Ma." Ucap Arjun sambil mengelus pipi gembul Baby El.