Suamiku Bukan Milik Ku

Suamiku Bukan Milik Ku
Bab 28


__ADS_3

Tok . . . Tok . . Tok . .


"BUKA PINTU!" Teriak seseorang di balik pintu.


Tok. . . Tok. . . Tok. . .


Aku masih termenung di balik pintu, begitu terkejut dengan tamu yang ada di depan pintu. Hingga tak menyadari Selva dan Dian sudah ada di depan ku dengan keadaan yang berantakan.


"Kenapa ngga di buka Mba?" Ucap Dian dengan suara serak sehabis bangun tidur.


"Berisik tau Mba, tinggal di buka aja. Aku masih ngantuk nih!" Keluh Selva sambil menguap, sedangkan aku yang di ajak bicara hanya diam memperhatikan mereka.


Kemudian aku pun memperhatikan penampilan ku sendiri, dan aku pun tertawa. Hingga mereka berdua saling pandang dan melihat penampilan mereka masing-masing. Akhirnya kami pun tertawa bersama-sama melihat penampilan kami yang benar-benar kacau.


Tok. . . Tok. . . Tok. . .


"WOY. . . BUKA PINTU!" Teriak seseorang dari depan pintu.


Kami pun langsung menghentikan tawa kami.


"Ngga sopan banget sih! Main gedor rumah orang, teriak-teriak pula!" Ucap Selva kesal dengan berjalan tergesa-gesa menuju pintu.


"Jang-an. ." Aku terlambat menghentikan Selva yang membuka pintu, ku lihat Selva diam mematung didepan pintu dan tak lama ku mendengar suara tawa yang keras.


Aku sangat hapal suara tawa itu, milik kedua kakak ku. Mereka pasti menertawakan penampilan Selva yang baru bangun tidur.


"Ada apa sih mba? Siapa yang datang memang?" Tanya Dian kepada ku.


"Mama, Papa, Abang dan Kaka." Ucap ku lemas.


"APA?" Teriak Dian sama terkejut seperti aku.


Kemudian aku mendengar suara yang sangat aku rindukan.


"Sudah . . . Sudah. . . Abang, Kaka stop! Kasian Selva muka nya udah merah begitu." Ucap Lembut seorang perempuan paruh baya dengan lembut, yang tak lain adalah Mama ku.


Nurul Putri Darma adalah ibu yang telah melahirkan ku, perempuan paruh baya yang masih tetap cantik di usianya. Yang selalu ada disaat aku butuhkan, bisa menjadi teman ketika aku sendirian dan selalu memberikan kasih sayang yang tak terhingga untuk ku.


"Habisnya lucu banget, Ma. Liat deh! Muka bantal banget, mana rambut berantakan kaya singa. Hahaha. . ." Tawa Abang ku Naufal Hutama, putra pertama di keluarga ku.

__ADS_1


"Apalagi muka merahnya itu Ma. Hahaha. . ." Tawa Kaka ku Niko Hutama, putra kedua di keluarga ku.


"Sudah ayo kita masuk! Selva boleh kami masuk?" Tanya Papa ku sopan.


Rey Hutama seorang pembisnis sukses yang sangat tegas di luar, namun sangat penyayang kepada keluarga nya. Cinta pertama ku, kebanggaan ku dan semangat ku. Itulah gambaran dari ku untuk Papa ku, dan yang terpenting selalu mengajarkan anak-anak nya tentang kesederhanaan.


"Selva." Panggil Mama dengan lembut sambil mengelus tangan Selva yang masih terbengong di depan pintu.


"Eh iya. . . Mari silahkan masuk semuanya, maaf Selva baru bangun tidur." Ucap Selva cengengesan sambil mempersilahkan semuanya masuk kedalam rumah Dian.


"Mama, Papa, Abang, Kaka." Sapa aku dan Dian, kemudian mencium tangan mereka semua.


"Eh. . Iya lupa." Ucap Selva menepuk keningnya, kemudian mengikuti kami mencium tangan semuanya.


"Ayo duduk Ma, Pa, Bang, Kak." Ucap Dian ramah.


"Iya sayang." Ucap Mama lembut dan mereka semua pun duduk di sofa ruang tamu.


"Sebentar iya, Dian ambilkan minum." Ucap Dian pamit untuk mengambilkan minum.


"Tidak perlu repot-repot sayang." Ucap Mama merasa tidak enak.


"Keluarin aja makanan yang ada, jangan cuman minumannya. Hehe. . ." Ucap Kak Niko cengengesan dan d cubit oleh Mama ku.


"Aduh. . . Sakit Ma." Keluh Kak Niko.


"Kamu ini malu-malu aja." Ucap Mama, sedangkan kami yang ada hanya cekikikan pelan melihat tingkah laku Kakak ku yang satu itu.


"Eh. . Iya Selva bantu Dian dulu iya!" Ucap Selva kabur, saat melihat situasi kurang kondusif.


"Jadi ada yang mau kamu jelaskan, Dek?" Tanya Abang ku sambil menatap tajam padaku.


"Sudah nanti dulu di bahas nya, lebih baik kamu cuci muka dulu Dek. Iler masih nempel itu di pipi." Ucap Mama menggoda ku.


"I-ya Ma, Ade pamit ke kamar dulu sebentar iya Ma, Pa, Bang, Kak." Pamit ku pada mereka dan di balas anggukan kepala.


Bergegas aku menuju kamar, dan mandi dengan cepat.


"Maaf lama, ini minuman dan cemilannya. Silakan di nikmati Ma, Pa, Abang, Kakak." Ucap Selva ramah.

__ADS_1


"Terimakasih banyak iya sayang, maaf kami merepotkan kalian." Ucap Mama lembut.


"Tidak apa-apa ko, Mah." Ucap Dian, sedangkan Selva hanya diam menunduk masih malu dengan tingkahnya tadi.


Kemudian Mama bangkit dari duduk nya, dan menghampiri Selva dan Dian.


"Terimakasih iya sayang, kalian selalu ada untuk Nadira. Terimakasih kalian mau menemani Nadira di saat-saat seperti ini, kalau ngga ada kalian Mama ngga tau apa bisa menghibur Nadira atau tidak." Ucap Mama sendu sambil menggenggam tangan Dian dan Selva.


"Sama-sama, Ma. Itu udah kewajiban kita untuk saling mendukung dan menghibur satu sama lain, kita kan keluarga." Ucap Dian dengan senyum.


"Mama beruntung punya kalian." Ucap Mama yang kemudian memeluk Dian dan Selva.


"Terus kita ngga di kasih hadiah gitu, Ma? Kita udah jagain Mba Nadira semaleman loh, Ma." Ucap Selva cengegesan dan Dian hanya menggeleng kan kepalanya.


"Huuuu. . . Kamu itu, ngga ikhlas banget iya." Keluh Kak Niko sambil melempar cemilan ke arah Selva.


"Ikh! Kak Niko diem deh! Aku ngomong sama Mama tau, bukan sama Kakak!" Ucap Selva ketus, sambil melirik tajam.


"Udah. . . Udah. . . Kalian ini berantem aja kalau ketemu." Keluh Mama.


"Kak Niko itu yang mulai duluan Ma." Adu Selva pada Mama.


Orang tua ku memang meminta kepada Dian dan Selva untuk memanggil mereka dengan Mama dan Papa. Karena mereka sudah dianggap seperti anak mereka sendiri.


Mama dan Papa tidak pernah membeda-bedakan kami, selalu bersikap adil pada kami semua. Walaupun Dian bukan bagian dari keluarga Hutama, namun Dian diperlukan dengan sangat baik. Apalagi Selva yang notabene adalah anak tunggal dari adik Mama, yang sangat manja pada semua anggota keluarga.


"Kalian ini sama aja, udah iya! Ayo saling minta maaf" Ucap Mama menengahi perdebatan kecil antara Selva dan Kak Niko.


"Maaf." Ucap Kak Niko dan Selva berbarengan, tetapi saling membuang muka.


Sedangkan Papa dan Abang Naufal hanya menggeleng kan kepalanya sambil tersenyum, melihat tingkah laku mereka.


"Apa kalian tidak ada rencana untuk mandi?" Tanya Papa tiba-tiba dan semua orang langsung melihat ke arah Selva dan Dian, mereka pun berteriak dan langsung pergi meninggalkan ruang tamu tanpa pamit.


Seketika ruang tamu penuh tawa, menertawakan tingkah konyol Dian dan Selva. Tak lama aku pun datang, dan bergabung dengan keluargaku.


"Seneng banget kayanya? Sampe ketawa semua gitu?" Tanya ku penasaran, namun tiba-tiba atmosfer di sekitar ku berubah menjadi dingin sekali dan ekspresi keluarga ku pun berubah.


"Jadi ada yang ingin kamu jelaskan?" Tanya Bang Naufal.

__ADS_1


__ADS_2