
Setelah perdebatan itu, aku pun kembali ke Ruangan.
"Dian, jangan sampai Mas Tio tau siapa aku sebenarnya di sini! Dan jangan biarkan dia sampai menemui ku lagi." Ucap ku, kemudian aku pun merebahkan badan ku di Sofa.
"Baik Mba, ini di minum dulu. Mba tidak boleh terlalu banyak pikiran, kasian bayi yang ada di perut Mba." Ucap Sekretaris Dian khawatir, sambil menyerahkan sebotol minuman dingin kepada ku.
"Ikh kesel tau! Kenapa perwakilan nya selalu mereka berdua! Emang nya ngga ada lagi orang di Perusahaan itu!" Ucap ku kesal, sambil meminum air yang di berikan Dian.
"Sudah iya! Mba yang tenang, sekarang Mba tarik nafas panjang. Hembuskan perlahan, tenang dan rileks inget Mba sedang hamil." Ucap Sekretaris Dian dan aku pun berusaha mengatur nafas ku.
"Kesel banget tau Dian! Ko ada laki-laki kaya gitu di dunia ini! Dan kenapa aku ko bisa-bisa nya sampai cinta dan bertahan menikah selama itu sama dia!" Ucap ku yang kesal dan itu membuat Dian pun tertawa.
"Itu namanya cinta buta Mba, cinta yang mengalahkan logika. Tapi sekarang Mba sudah bisa berpikir jernih, mending Mba lupain aja! Fokus karir sama kandungan Mba, untuk yang lain biarin aja." Ucap Dian.
"Iya kamu benar, sekarang aku harus fokus sama karir dan kandungan aku." Ucap ku sambil berusaha menenangkan diri.
"Iya sudah lebih baik sekarang Mba istirahat dulu, besok lagi aja ngerjain berkas nya. Aku pamit dulu kembali ke Ruangan iya Mba, kalau perlu sesuatu langsung hubungi aku iya Mba." Ucap Dian lembut dan aku hanya menganggukkan kepala, Dian pun keluar dari Ruangan ku.
Berusaha menenangkan diri, tanpa terasa aku tertidur di sofa. Namun ketukan pintu, membuat ku terbangun kembali dan ternyata aku sudah tertidur 2 jam lama nya.
Tok. . .
Ceklek. . .
"Lah pantesan aja di ketuk ngga ada jawaban!" Ucap Selva kesal, setelah membuka pintu.
"Maaf, tadi Mba ke tiduran. Ada perlu apa kamu?" Tanya ku.
"Ini aku cuman mau nyerahin berkas Proyek Mega Hotel A doang Mba, semua udah aku liat dan pelajari. Mereka cukup hebat dalam permainan harga dan juga desain yang mereka tampilkan ternyata lebih bagus saat di baca secara menyeluruh. Padahal mereka orang baru dalam bidang ini, namun yang mereka ajukan sudah sebagus ini Mba." Ucap Selva menggebu-gebu.
__ADS_1
"Iya bagus, tinggal kamu pantau terus semuanya. Maka proyek ini akan berjalan lancar, ingat untuk selalu berusaha terjun langsung ke lapangan. Jangan sampai kamu sudah percaya dengan mereka, sehingga kami tidak memantau mereka." Ucap ku memperingati Selva.
"Baik Mba, aku akan pantau terus semuanya. Lebih baik Mba pulang gih! Dari pada tiduran di sofa, sakit badannya." Usul Selva.
"Iya Mba sebentar lagi juga pulang ko! Inget kamu kerja yang bener!" Ucap ku.
"Iya ampun sensitif bgt, iya ini aku balik kerja! Iya udah ah, aku ke Ruangan. Mba pulang nya hati-hati iya!" Ucap Selva dan aku balas anggukan kepala, lalu Selva pun keluar.
"Kalau pulang, Mama pasti nanya macem-macem. Tapi kalau di sini, ngga akan konsen kerja." Keluh ku.
"Sepertinya makan es krim di dekat danau enak! Ah iya! Ke danau aja kalau gitu." Ucap ku bersemangat.
Kemudian aku membereskan meja kerja dan bersiap-siap untuk pulang duluan, beruntung tidak banyak pekerjaan hari ini. Jadi aku bisa pulang cepat, kalau tidak pasti banyak pekerjaan ku yang terbengkalai.
"Dian." Panggil ku.
"Iya ada yang bisa saya bantu Bu?" Tanya Sekretaris Dian formal.
"Jadwal Ibu sampai sore hari ini kosong, apa Ibu akan pulang sekarang?" Tanya Sekretaris Dian.
"Iya aku pulang duluan iya! Ini berkas yang sudah selesai di tanda tangani, kalau begitu aku pulang iya." Ucap ku sambil menyerahkan berkas yang aku bawa dari Ruangan ku.
"Baik! Terimakasih banyak Bu, kalau begitu saya telpon supir agar bersiap di lobby." Ucap Sekretaris Dian.
"Oke! Pamit dulu iya, assalamualaikum." Ucap ku, dan berjalan menuju lift.
"Wa'alaikum salam." Jawab Sekretaris Dian.
Sesampai di pintu keluar Perusahaan, supir sudah menunggu ku di samping mobil dan membukakan pintu untuk ku.
__ADS_1
"Silahkan Bu." Ucap nya.
"Makasih Pak." Ucap ku sambil masuk ke dalam mobil, namun tiba-tiba tangan ku di tarik.
"Eh. . ." Aku yang kaget langsung menyentakkan tangan orang itu dan supir pun ikut terkejut seperti aku.
"Mohon maaf Pak! Tolong yang sopan!" Ucap tegas sopir ku dan berusaha menjauhkan laki-laki tersebut dari ku, sedangkan aku saat ini sudah duduk di kursi mobil.
"Dek. . . Dek. . . Ini Mas! Lepas, saya suami Nadira! Jangan macam-macam kamu! Cepat lepaskan saya!" Ucap Marah Mas Tio, kemudian Satpam Perusahaan pun menghampiri kami.
"Mohon jangan membuat keributan di sini! Silahkan Bapak pergi dari sini!" Ucap tegas Satpam Perusahaan.
"Tidak! Saya tidak akan pergi! Sebelum saya bicara dengan istri saya!" Ucap Mas Tio yang berusaha mendekati mobil.
"Dek. . . Dek. . . Keluar Dek. . . Mas mau bicara." Teriak Mas Tio, yang berusaha melepaskan diri dari Satpam yang menarik nya.
"Ibu baik-baik saja? Apa perlu kita ke Rumah Sakit?" Tanya Supir.
"Tidak perlu Pak! Kita langsung jalan saja." Ucap ku, sambil menghela napas.
"Baik kalau begitu." Jawab Supir sambil menyalakan mobil, dan kami pun keluar melewati keributan yang terjadi di depan Perusahaan.
"Kita langsung pulang atau ke mana dulu Bu?" Tanya Supir saat kami hampir sampai di gerbang Perusahaan.
"Kita ke danau yang di dekat perbatasan kota iya Pak!" Ucap ku.
"Baik Bu." Ucap Supir.
Sepanjang perjalanan, aku melihat ke jendela. Melihat hiruk-pikuk yang ada di kota ini, dan macet di mana-mana. Apalagi ini masuk jam makan siang, banyak orang yang keluar untuk makan siang.
__ADS_1
Saat lampu merah, aku melihat ada anak-anak kecil yang sedang mengamen di lampu merah. Bahkan ada bayi yang di gendong Ibu nya sambil mengamen, sungguh tak tega melihatnya dan aku pun mengelus perutku dengan sayang.
'Nak, walaupun kelak kamu lahir tanpa ayah kamu di samping mu. Mama berjanji akan mencurahkan kasih sayang Mama sepenuhnya kepada kamu, hingga kamu tidak akan menanyakan tentang ayah mu.' Ucap ku dalam hati.