
Deg. . .
"Mas Tio. . ." Ucap ku lirih.
Saat melihat Mas Tio berada di dalam Rumah ku, bersama kedua Orang Tua dan kedua Kakak ku. Seketika suasana menjadi mencekam, tidak ada senyum dari keluargaku.
"Dek. . ." Ucap Mas Tio senang, kemudian bangun dari duduknya menghampiri ku.
"Kamu ke mana aja, Dek?" Tanya Mas Tio lembut sambil menggenggam tangan ku, namun aku menepisnya.
Aku pun langsung menghampiri keluargaku, tanpa memikirkan perasaan Mas Tio, yang mungkin terluka karena sikap ku.
Aku langsung memeluk Mama, karena aku butuh kekuatan dan Mama memelukku erat.
"Ma, Pa, izinkan Tio membawa Nadira pulang. Kami perlu bicara!" Ucap Mas Tio di depan keluarga ku.
"Apalagi yang mau kamu bicarakan? Bicara di sini!" Ucap tegas Bang Naufal dengan menatap tajam Mas Tio.
"Ma-af, Bang. Saya ingin menyelesaikan masalah rumah tangga kami, tanpa melibatkan orang tua." Ucap Mas Tio gugup.
"Tapi kami semua sudah tau! Bagaimana kelakuan kamu di belakang Adik kami!" Ucap Bang Naufal dingin, Mas Tio pun menelan ludah sebelum berbicara.
"Karena itu Bang! Saya ingin menyelesaikan nya baik-baik, saya mohon izinkan saya membawa Nadira kembali." Ucap Mas Tio memohon.
"Kamu bisa tanya sendiri! Nadira apa jawaban kamu?" Tanya Bang Naufal, kemudian melihat ke arah ku dengan sorot mata yang penuh kasih sayang dan kesedihan.
Aku belum bisa menjawab, dan hanya memeluk Mama dengan erat. Serta Papa mengelus sayang rambutku, membuat aku semakin tenang.
"Dek, kita pulang ke Rumah kita iya! Kita bicarakan semuanya baik-baik." Ucap Mas Tio membujuk ku.
Aku pun melihat semua keluarga ku satu persatu, seolah meminta persetujuan untuk menjawab dan mereka semua menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Maaf Mas, untuk saat ini aku ngga bisa ikut pulang. Aku ingin menenangkan diri dulu." Ucap ku kepada Mas Tio dengan Mata berkaca-kaca.
Seketika bayangan Mas Tio sedang bersama seorang perempuan muncul di pikiran ku, membuat aku semakin merasa sakit dan sedih bersamaan.
"Apa belum cukup kemarin kamu tidak pulang ke Rumah untuk menenangkan diri?" Tanya Mas Tio, namun bukan aku yang menjawab.
"Lo kira menenangkan diri bisa 1 atau 2 jam? Apalagi ini gara-gara suaminya selingkuh di depan matanya pula! Gila aja!" Ucap Kak Niko marah, dan Mas Tio tampak terkejut serta malu.
"Dek, kamu menceritakan masalah kita kepada keluarga mu? Jawab aku dek!" Ucap Mas Tio menahan marah.
"Wah jadi bener? Hahaha. . . Laki apaan Lo? Beraninya selingkuh! Punya apa Lo? Sampai berani selingkuh dari Adik gue!" Ucap Kak Niko marah dengan menatap tajam Mas Tio.
"Bu-kan begitu. . ." Ucap Mas Tio gugup.
"Asal Lo tau! Gue yang liat sendiri pake mata kepala gue, Lo yang lagi makan siang sama itu perempuan! Gue juga liat, gimana Ade gue nyamperin Lo! Gue liat sendiri!" Ucap Kak Niko yang membuat aku dan Mas Tio terkejut.
Karena jujur, aku tidak tau bahwa di Restoran itu ada Kak Niko yang sedang makan siang dan melihat semua kejadian yang aku alami.
"Be-gi-ni Kak. . . " Ucap Mas Tio terbata-bata.
"Ini ngga seperti yang kalian pikirin, aku dan Sifa hanya teman biasa." Ucap Mas Tio mengelak dari tuduhan yang di berikan kepadanya.
"Hahaha. . . Teman biasa kata Lo? Bergandengan tangan, mencium tangan perempuan di depan umum, bahkan saling menyuapi makanan! Itu yang namanya teman biasa? Wah . . . Wah. . . Wah. . . Hebat sekali pertemanan kalian!" Ucap Kak Niko mencemooh sambil berdiri dan bertepuk tangan.
Dan aku cukup terkejut dengan cerita Kak Niko, aku sendiri tidak tau apa yang dilakukan Mas Tio dan Sifa sebelumnya. Namun saat Kak Niko menceritakannya, dada ini terasa semakin sesak dan air mata pun terus turun.
"Kenapa diem? Ngga bisa jawab? Bener apa yang gue bilang semua kan? Ayo jawab!" Ucap Kak Niko marah, sedangkan Mas Tio berdiri diam, tanpa sepatah kata pun.
"Niko cukup!" Ucap Papa datar.
Kak Niko pun berhenti berbicara dan duduk kembali dengan ekspresi yang kesal dan mengepalkan tangannya.
__ADS_1
"Kamu mau membawa Nadira?" Tanya Papa datar dengan tatapan tajam.
"I-ya Pa." Ucap Mas Tio gugup.
"Silahkan." Ucap Papa dan kami semua terkejut mendengar ucapan Papa, tetapi Mas Tio langsung berubah bahagia.
"Terimakasih banyak, Pa. Saya janji akan memperbaiki semuanya dengan Nadira." Ucap Mas Tio dengan senyum semangat.
" Janji?" Tanya Papa dengan mengerutkan keningnya.
"Iya Pa, Tio janji Pa ngga akan mengulangi kesalahan Tio." Ucap Mas Tio penuh keyakinan.
"Jaminan apa yang kamu berikan jika kamu melanggar janji, yang kamu ucapkan?" Tanya Papa yang membuat kami semua bingung, termasuk Mas Tio.
"Ma-ksud Papa? Ja-minan ba-gaimana?" Tanya Mas Tio gugup dan bingung.
"Bagaimana kalau kita membuat kesepakatan?" Ucap Papa datar.
"Tunggu, tadi Papa minta jaminan dan sekarang kesepakatan? Maksudnya gimana Pa? Bukannya Papa tadi sudah mengizinkan Tio membawa Nadira pulang?" Ucap Mas Tio dengan berbagai pertanyaan yang ingin kami sampaikan juga.
"Saya memang mengizinkan kamu membawa anak saya, tapi saya meminta jaminan. Bahwa jika kamu berani bermain-main dengan anak saya lagi, kamu harus mengembalikan anak saya kepada saya selamanya. Kamu mengerti itu bukan?" Ucap Papa tegas yang membuat aku dan Mas Tio terkejut, sedangkan yang lain tampak tersenyum senang mendengar ucapan Papa.
"Papa tenang saja, Tio tidak akan menyakiti Nadira lagi Pa. Tolong jangan berbicara seperti itu, Tio ngga akan sanggup jika harus kehilangan Nadira." Ucap Mas Tio sendu.
"Maka dari itu kita buat kesepakatan hitam di atas putih! Bahwa jika kamu berani menyakiti anak saya lagi, kamu harus siap menceraikan nya dan mengembalikan anak saya kepada saya!" Ucap Papa tegas sambil menatap tajam Mas Tio.
"Apa harus seperti itu Pa?" Ucap Mas Tio ragu.
"Kenapa? Kamu ngga berani? Katanya ngga sanggup kehilangan Nadira! Tapi membuat kesepakatan saja tidak mau!" Sindir Bang Naufal.
"Baiklah Pa, saya setuju. Kapan membuat kesepakatan nya? Biar saya siapkan semua." Ucap Mas Tio setelah berpikir beberapa saat.
__ADS_1
"Kamu tenang saja, saya sudah menyiapkan semuanya. Saat ini Pengacara saya sedang dalam perjalanan ke sini, mungkin sebentar lagi sampai." Ucap Papa yang membuat Mas Tio membelalakkan matanya terkejut.
Ternyata Papa telah menyiapkan segala sesuatu nya, jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti ini.