
Perkenalan singkat terjadi, dan beberapa karyawan yang pernah bertemu dan mengenalku terkejut mengetahui fakta ini. Setelah itu kami melanjutkan pekerjaan kami masing-masing. Tak terasa hari mulai sore dan pekerjaan telah selesai. Saya memutuskan untuk bersiap pulang. Tok. . . Tok. . . Tok. . . "Masuk," ucap saya.
Ceklek. . .
"Selamat sore Bu, mohon maaf. Ada baiknya Ibu pulang menggunakan pintu belakang, karena saat ini Pak Tio menunggu Ibu di Lobby," ucap Dian memberi informasi yang membuat saya terkejut dan saya hanya bisa menghela nafas.
"Mau apa lagi dia ke sini? Kamu suruh satpam mengusir dia, atau bilang hari ini saya tidak masuk. Saya benar-benar tidak mau ketemu dengannya dulu," keluh saya sendu.
"Maka dari itu, saya menyarankan Ibu pulang lewat pintu belakang, supir kantor juga sudah menunggu di pintu belakang," ucap Dian.
"Oke! Terima kasih banyak ya, Dian! Kalau begitu saya pulang ya. Kamu juga pulang ya! Ini sudah sore, oh. . . Iya! Jangan sampai ada yang memberitahu Pak Tio siapa saya yang sebenarnya ya," ucap saya, sambil bergegas untuk pulang.
"Sama-sama, Ibu tenang saja. Semua karyawan sudah diminta untuk tidak memberi tahu informasi mengenai Ibu ke siapa pun, insyaAllah semuanya aman," ucap Dian yang ikut mengikuti saya dari belakang.
"Bagus kalau begitu, oh iya! Besok jadwal saya padat tidak?" ucap saya yang kini berada di dalam lift bersama Dian.
"Untuk besok jam 10.00 meeting bulanan dengan kepala divisi dan setelah makan siang jadwal meninjau lokasi pembangunan Apartemen Mutiara," ucap Dian yang sedang menjelaskan jadwal kegiatan saya esok hari.
"Besok setelah meninjau lokasi, tolong kosongkan jadwal ya! Mungkin saya tidak balik ke kantor lagi!" ucap saya sambil menuju mobil.
"Baik Bu, ada lagi?" tanya Dian.
"Tidak ada, saya duluan ya. Assalamualaikum," ucap saya pamit.
"Hati-hati di jalan Bu, wa'alaikum salam," ucap Dian.
Sepanjang perjalanan pulang, saya menatap jalanan yang ramai dengan kendaraan dan tak sengaja saya melihat seseorang yang saya kenali sedang bersenda gurau dengan anak-anak jalanan di lampu merah.
"Ngapain dia di situ? Bukannya dulu dia pindah ke luar negeri?" gumam saya heran.
"Ikh! Kenapa juga saya kepo! Itu kan urusan dia," gumam saya sambil menggelengkan kepala.
"Iya Bu?" tanya supir.
"Eh. . . Tidak Pak," ucap saya gelagapan.
"Saya kira tadi Ibu manggil saya," ucap supir.
__ADS_1
"Oh iya Pak! Di dekat sini ada yang jual mie Aceh tidak Pak? Tapi yang kaki lima saja, jangan di restoran," ucap saya yang tiba-tiba menginginkan mie Aceh.
"Mie Aceh? Tidak salah Bu?" tanya heran supir.
"Iya mie Aceh, emang kenapa?" tanya saya balik.
"Maaf Bu, bukannya dari dulu Ibu kurang suka mie Aceh? Katanya rasanya aneh di lidah Ibu," ucap supir yang memang sejak awal berdiri perusahaan, sudah bekerja menjadi supir pribadi saya.
"Iya iya Pak! Aku juga bingung, tiba-tiba pengen makan Mie Aceh. Kayanya enak gitu, apalagi yang berkuah. Ikh! Aku jadi ngiler nih Pak!" ucap saya yang membayangkan betapa enaknya mie Aceh, hingga menelan ludah sendiri memikirkannya.
"Iya sabar ya Bu, ini macet banget," ucap supir.
"Cari yang dekat-dekat ya Pak, tapi enak dan bersih," ucap saya mengingatkan.
Tak lama kami sampai di tempat menjual mie Aceh yang terdekat. Saya memesan banyak makanan dan tidak lupa memesan untuk supir saya.
"Selamat menikmati," ucap pelayan sambil menghidangkan pesanan saya.
"Terima kasih Mbak," ucap saya yang sudah tidak sabar untuk memakan mie Aceh dan martabaknya.
Saya makan dengan lahap, hingga tidak menyadari ada seseorang yang mengawasi dan mendekati saya.
"Ada apa ya?" tanya saya heran, dan kemudian mendongakkan kepala untuk melihat siapa yang berada di samping saya.
Deg. . .
"Hai . . ." sapa lelaki itu, kemudian duduk dan tak lama ia mengernyitkan keningnya.
"Sejak kapan kamu suka mie Aceh?" tanya ia heran.
"Sejak hari ini!" ucap saya ketus.
"Dih aneh banget deh! Kayak orang ngidam aja! Makan, makanan yang tidak disukai," ucapnya asal, namun cukup membuat saya terdiam dan mengingat-ingat kapan jadwal tamu bulanan saya.
Deg. . .
"Harusnya pertengahan bulan saya datang bulan, ini sudah akhir bulan tapi belum juga datang?" ucap saya dalam hati, seketika saya menjadi was-was.
__ADS_1
"Hei. . ." panggilnya, sambil menggoyangkan bahu saya.
"Ekh. . . Maaf tadi saya melamun, tadi kamu ngomong apa?" tanya saya ulang, yang tidak mendengarkan ucapan lelaki itu.
"Sudah lupakan!" ucapnya kesal.
"Dih marah, udah tua itu tidak boleh marah-marah," ucap saya sinis.
"Apa? Tua? Siapa yang kamu bilang tua, Hah!" ucapnya marah.
"Iya Bang Adam lah, siapa lagi coba!" ucap saya sinis, kepada lelaki di depan saya yang tak lain Bang Adam, sepupu saya dari keluarga Papa.
"Dasar calon janda, mulutmu itu! Perlu dilakban!" ucap Bang Adam kesal.
"Ikh! Gara-gara Kak Niko, aku jadi dipanggil calon janda terus! Habis ketuk palu aja, baru ganti nama kamu. JANDA!" ucap Bang Adam seenak jidat dan melempari saya dengan kerupuk yang ada di depan saya.
"Nyebelin banget deh! Abang itu 11 12 sama Kak Niko! Senang banget bullying aku!" ucap saya kesal, sambil tetap makan mie Aceh.
"Hahaha. . . Habisnya cuma kamu keturunan perempuan di keluarga kita, jadi pantas untuk dibully," ucap Bang Adam cengegesan.
"Udah tahu saya yang paling cantik di keturunan Hutama, harusnya itu dijaga, disayang, diberi apa pun yang saya inginkan. Ini malah dibully terus! Dasar Abang tidak punya akhlak," ucap saya ketus.
"Lebay banget deh! Eh gila ini beneran habis semua?" ucap Bang Adam terkejut.
"Iya! Kenapa?" ucap saya ketus.
"Berapa hari kamu tidak makan? Gila saja ini! Dua porsi mie Aceh dan satu martabak, habis sendiri! Itu perut atau karet?" ucap Bang Adam yang masih terkejut, namun saya cuek saja dan bersiap untuk pulang.
"Emang kenapa? Masalah untuk anda? Udah ah aku mau pulang, assalamualaikum," ucap saya pamit sambil berjalan menuju pintu keluar.
"Bang, jangan lupa dibayar ya!" teriakku sambil membuat Bang Adam terkejut.
"Mba, makananku dibayar oleh orang tadi! Dia duduk di meja yang tadi aku duduk." ucapku sambil menunjuk ke arah Bang Adam.
"Baik, Bu. Terima kasih," ujar pelayan dengan ramah, kemudian pergi menghadap Bang Adam.
"Sama-sama," ucapku sambil santai dan senyum puas. Aku sudah membalas dendam pada Bang Adam.
__ADS_1
"Hahaha... Emang seru aku jahili dia!" gumamku sambil tertawa.
"Ayo, Pak! Kita pulang," ucapku kepada sopir dan kami pun melanjutkan perjalanan menuju rumah Mama.